Mendorong Pariwisata "Beyond Bali": Upaya Indonesia Mengatasi Overtourism dan Pemerataan Ekonomi

Mendorong Pariwisata "Beyond Bali": Upaya Indonesia Mengatasi Overtourism dan Pemerataan Ekonomi

BALI, kiprahkita.com Dalam beberapa dekade terakhir, Bali telah menjadi magnet utama pariwisata Indonesia, menarik jutaan wisatawan dari seluruh dunia—termasuk dari Australia. Popularitas Bali yang luar biasa membawa dampak ekonomi signifikan, namun juga menimbulkan sejumlah tantangan, terutama yang berkaitan dengan overtourism: tekanan terhadap infrastruktur, lingkungan, dan budaya lokal.

Menanggapi hal ini, pemerintah Indonesia meluncurkan kampanye "Beyond Bali" sebagai strategi untuk mendistribusikan manfaat ekonomi pariwisata secara lebih merata ke wilayah lain di Indonesia. Melalui pendekatan ini, wisatawan, khususnya dari Australia, didorong untuk menjelajahi destinasi-destinasi eksotis seperti Labuan Bajo, Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Likupang. Langkah ini tidak hanya mengurangi tekanan di Bali, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal di daerah-daerah tersebut.

Setiap destinasi menawarkan keunikan tersendiri. Labuan Bajo terkenal dengan keindahan alam bawah laut dan Pulau Komodo. Danau Toba, danau vulkanik terbesar di dunia, menyuguhkan panorama spektakuler dan kekayaan budaya Batak. Borobudur menawarkan warisan budaya dan spiritualitas melalui Candi Buddha terbesar di dunia. Sementara itu, Mandalika di Lombok telah dikembangkan menjadi kawasan sport tourism dengan ajang MotoGP, dan Likupang di Sulawesi Utara menjadi fokus pengembangan ekowisata.

Selain promosi pariwisata, pemerintah juga meningkatkan infrastruktur dan konektivitas—seperti bandara, jalan, dan fasilitas akomodasi—demi mendukung kemajuan sektor ini. Kebijakan ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Namun, tantangan tetap ada. Beberapa destinasi masih membutuhkan penguatan kapasitas layanan, peningkatan SDM, dan promosi yang konsisten. Selain itu, penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa pembangunan pariwisata tidak menggusur komunitas lokal atau merusak lingkungan yang menjadi daya tarik utama destinasi tersebut.

Kampanye "Beyond Bali" mencerminkan upaya strategis Indonesia dalam mendiversifikasi pariwisata, mengatasi overtourism di Bali, dan memperluas manfaat ekonomi ke seluruh nusantara. Jika dilakukan dengan pendekatan inklusif dan berkelanjutan, inisiatif ini berpotensi mengangkat citra Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam dan budaya yang jauh lebih luas daripada sekadar Bali.

Cinta Wisatawan Terhadap Bali Terus Menguat, Tapi Indonesia Ingin Mereka Jelajah Lebih Jauh

Kecintaan wisatawan terhadap Bali tetap tinggi, dengan pulau tersebut menarik sekitar 1,5 juta wisatawan asal Australia setiap tahunnya—menjadikan Australia sebagai sumber wisatawan asing terbesar.


Durasi penerbangan yang relatif singkat (antara lima hingga sepuluh jam tergantung lokasi), ragam atraksi, pusat kebugaran dan kesehatan, serta harga yang terjangkau, menjadi alasan utama wisatawan Australia terus kembali ke Bali.

Meskipun Indonesia bersyukur atas kedatangan para wisatawan, pihak berwenang ingin agar mereka menjelajah lebih jauh dari kawasan-kawasan populer seperti Kuta, Seminyak, Canggu, Legian, dan Ubud.

Simon Bell, direktur pelaksana Wendy Wu Tours Australia, mengatakan bahwa ada dorongan global untuk menyebarkan manfaat pariwisata secara lebih merata dan mengurangi tekanan pada wilayah yang terlalu padat dikunjungi.

“Meski Bali tetap menjadi destinasi yang sangat populer bagi wisatawan Australia, Indonesia memiliki banyak kekayaan budaya, alam, dan sejarah yang layak mendapatkan perhatian lebih,” kata Bell kepada news.com.au.

“Wilayah-wilayah yang kurang dikenal ini justru menawarkan pengalaman yang lebih kaya dan sering kali lebih santai.”

Salah satu destinasi yang tengah dipromosikan adalah Labuan Bajo.

Labuan Bajo adalah kota pelabuhan kecil yang hidup, dikelilingi laut penuh terumbu karang, dan menjadi rumah bagi Taman Nasional Komodo.

“Labuan Bajo itu eksklusif, dengan daya tarik alam dan budaya yang luar biasa. Kami tidak ingin pariwisata massal, tapi pariwisata berkualitas,” ujar Dwi Marhen Yono, Direktur Pemasaran Pariwisata Domestik di Kementerian Pariwisata Indonesia.

Seperti Bali yang dikenal sebagai "Pulau Dewata", Labuan Bajo dikenal sebagai "Negeri Seribu Senja" berkat pemandangan matahari terbenamnya yang menakjubkan dari berbagai titik pantai.

Bell menambahkan bahwa Indonesia memiliki banyak tempat menakjubkan selain pantai terkenal, seperti Gunung Bromo yang masuk daftar warisan dunia UNESCO, kompleks candi Borobudur yang memukau, serta kesempatan untuk melihat komodo, hewan ikonik yang hanya ada di Indonesia.

“Destinasi ini menunjukkan betapa beragamnya lanskap dan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia,” jelasnya.

Platform seperti TikTok dipenuhi video wisatawan yang memuji Labuan Bajo sebagai destinasi wajib kunjung jika pergi ke Indonesia.

Beberapa bahkan menyebutkan bahwa pulau ini lebih murah dari Bali, dan jauh lebih terjangkau dibandingkan destinasi seperti Maladewa.

“Kamu tidak perlu pergi ke Maladewa dan menghabiskan ribuan dolar untuk menikmati kemewahan vila di atas air,” kata Shannon Thomson, wisatawan asal Australia dan travel blogger, melalui video TikTok-nya.

“Dengan harga yang jauh lebih murah, kamu bisa pergi ke Labuan Bajo, pintu gerbang ke Pulau Komodo, dan hanya satu jam penerbangan dari Bali.”

Bell menjelaskan bahwa destinasi seperti Labuan Bajo sering kali berada di luar jalur wisata umum, sehingga bisa jadi menantang jika dijelajahi secara mandiri.

Karena itu, tur grup seperti “Wonders of Indonesia” menyediakan semua perencanaan dan logistik, sehingga wisatawan bisa fokus menikmati budaya, sejarah, dan keindahan alam tanpa ribet.

Waktu tempuh dari Bali ke Labuan Bajo sekitar 1 jam 20 menit, dilayani oleh beberapa maskapai seperti Batik Air, Indonesia AirAsia, dan Garuda Indonesia.

Namun, Yono mengungkapkan bahwa ia sedang berdiskusi dengan maskapai untuk membuka rute internasional langsung ke wilayah tersebut.

Selain Bali, wisatawan juga bisa terbang ke Jakarta, lalu melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo.

Akhmad Sadikin, Plt. Direktur Utama Indonesia AirAsia, menyatakan bahwa saat ini maskapai tersebut melayani 8 rute domestik dan 25 rute internasional, dan sedang dalam proses ekspansi.

“Kami berharap inisiatif ini dapat memperkuat daya tarik Labuan Bajo karena potensinya sangat besar,” kata Sadikin.

Yono juga menyampaikan visinya untuk menjadikan Labuan Bajo sebagai pusat perjalanan di kawasan Nusa Tenggara Timur, mendorong wisatawan agar menjelajahi kota-kota lain seperti Kupang, Ende, Maumere, dan Ruteng. (Yus MM)*

Posting Komentar

0 Komentar