MAKASAR, kiprahkita.com –Operasi pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, terus berlangsung meski dihadang kondisi cuaca ekstrem dan medan yang sangat berat.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI–Polri, pemerintah daerah, relawan termasuk Tim Rescue Dompet Dhuafa (DMC) masih bertahan di puncak gunung dengan mendirikan tenda darurat di titik lokasi puing pesawat dan korban ditemukan. Cuaca buruk berupa kabut tebal, hujan deras, serta angin kencang membuat jarak pandang sangat terbatas dan membahayakan keselamatan.
Temuan Korban dan Upaya Evakuasi
Sejak operasi berjalan: Beberapa jenazah korban telah ditemukan di jurang dan lereng pegunungan yang sangat curam. Makassar Terkini Salah satu korban terakhir ditemukan dalam kondisi meninggal dunia oleh tim SAR gabungan.
Proses evakuasi jenazah belum semuanya bisa diselesaikan karena cuaca yang tidak kondusif, sehingga tim memilih menunggu perbaikan kondisi sebelum melakukan pengangkatan. Pihak berwenang telah berkoordinasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk pemeriksaan lebih lanjut terhadap bagian pesawat dan black box sebagai bagian dari investigasi penyebab kecelakaan.
Medan di Gunung Bulusaraung sangat sulit — lembah curam, tebing tinggi, dan kondisi hutan yang padat — sehingga evakuasi dengan teknik vertical rescue dan peralatan khusus menjadi pilihan utama tim SAR. Cuaca ekstrem memaksa tim untuk bertahan di lokasi, melakukan perawatan bagi personel yang mengalami luka ringan, dan menunggu saat cuaca membaik agar operasi bisa dilanjutkan dengan aman.
Pencarian kini memasuki hari ke-empat sejak pesawat hilang kontak, dengan dukungan personel ahli mountaineering dan logistik terus ditambah guna mempercepat pencarian serta evakuasi.
Situasi terkini menunjukkan bahwa kendala alam dan cuaca tetap menjadi hambatan utama dalam upaya SAR, namun tim tetap bekerja tanpa henti demi menghormati korban dan keluarga yang menunggu kepastian.
![]() |
Operasi pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan itu, telah memasuki tahap akhir. Hingga Jumat, 23 Januari 2026, tim SAR gabungan memastikan seluruh korban dalam peristiwa tersebut telah berhasil ditemukan.
Total terdapat 10 korban dalam kecelakaan ini. Penemuan korban terakhir dilakukan pada pagi hari setelah tim SAR menyisir area dengan medan yang sangat terjal dan tertutup hutan lebat. Dengan ditemukannya seluruh korban, operasi pencarian resmi dinyatakan tuntas.
Proses evakuasi dilakukan secara bertahap mengingat kondisi lokasi yang ekstrem. Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan harus menghadapi lereng curam, kabut tebal, serta cuaca yang berubah-ubah, sehingga evakuasi hanya bisa dilakukan pada waktu tertentu saat cuaca memungkinkan.
Sebagian jenazah dievakuasi menggunakan helikopter dari titik penemuan menuju posko terdekat, lalu diterbangkan ke Lanud Sultan Hasanuddin untuk proses penanganan lebih lanjut. Beberapa korban ditemukan dalam kondisi tidak utuh akibat benturan keras saat pesawat jatuh.
Kendala utama selama operasi SAR adalah keterbatasan akses darat dan minimnya jendela cuaca yang aman untuk penerbangan helikopter. Meski demikian, tim SAR tetap bekerja maksimal dengan mengutamakan keselamatan personel serta ketelitian dalam proses evakuasi.
Setelah seluruh korban berhasil dievakuasi, fokus selanjutnya adalah proses identifikasi jenazah (DVI) serta pengamanan barang bukti kecelakaan. Sementara itu, investigasi penyebab kecelakaan akan dilanjutkan oleh KNKT dengan memanfaatkan data dari kotak hitam pesawat yang telah ditemukan sebelumnya. MK*

0 Komentar