Galodo yang Tak Pernah Usai: Banjir Bandang Susulan di Tanjung Raya, Maninjau

MANINJAU, kiprahkita.com Awal tahun 2026 seharusnya menjadi momentum bagi warga Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat untuk memulai kembali rutinitas setelah serangkaian bencana yang melanda akhir tahun 2025 lalu.

Namun realitas justru berbeda. Pada dini hari 1 Januari 2026, banjir bandang susulan kembali menghantam permukiman penduduk. Arus deras bercampur lumpur, batu, dan kayu menyeruak dari perbukitan menuju dataran rendah sekitar Danau Maninjau, menyeret kenyamanan dan rasa aman warga yang baru saja membersihkan sisa-sisa bencana sebelumnya.



Mengawali tahun 2026, banjir bandang susulan kembali melanda wilayah Kecamatan Tanjung Raya, Maninjau, Kabupaten Agam, pada Kamis dan Jumat dini  dan malam hari (1-2 Januari 2026) sekitar pukul 02.00 WIB dan 21.30 WIB . Arus air deras bercampur lumpur, bebatuan, dan kayu menerjang permukiman warga serta beberapa ruas jalan di daerah itu. 

Menurut laporan, banjir terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur daerah hulu sejak Rabu malam. Debit air meningkat drastis sehingga aliran deras meluncur dari perbukitan menuju kawasan rendah di sekitar Danau Maninjau. Arus bencana ini membuat warga terkejut dan bergegas bersiap menghadapi kemungkinan dampak lebih luas. 

Sejumlah jalan penghubung antarnagari dilaporkan tertutup lumpur dan material banjir, sementara beberapa rumah warga kembali terendam. Hingga pukul 04 WIB dini hari, proses pemantauan dan pembersihan material banjir masih dilakukan oleh warga bersama aparat nagari dan relawan setempat. 

Warga yang menjadi saksi kejadian menyatakan bahwa banjir datang sangat cepat dan tiba-tiba, sehingga mereka segera membangunkan warga lainnya agar bersiap waspada terhadap kenaikan air lebih tinggi.

Hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa, namun kerugian material diperkirakan meningkat karena endapan lumpur kembali masuk ke rumah-rumah yang sebelumnya sudah dibersihkan. Pemerintah daerah melalui BPBD Kabupaten Agam telah berkoordinasi dengan aparat kecamatan dan nagari untuk melakukan pendataan dampak serta siaga antisipasi jika hujan turun kembali. Warga diimbau tetap waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di sekitar aliran sungai dan daerah rawan longsor.

Latar Belakang Banjir Susulan di Daerah ini

Sebelumnya, banjir bandang beberapa kali telah melanda kawasan Maninjau akhir Desember 2025 akibat curah hujan tinggi. Sungai Batang Aia Pisang di Kecamatan Tanjung Raya diketahui meluap, hingga menerjang puluhan rumah dan menutup akses jalan utama Lubuk Basung–Bukittinggi yang membuat transportasi lumpuh total. TIMES Indonesia+1

Kejadian serupa juga terjadi saat cuaca cerah, yang menunjukkan bahwa tanah yang masih jenuh dan labil berpotensi memicu banjir bandang susulan meskipun tidak turun hujan di lokasi kejadian.

Peristiwa ini bukan sekadar “kejadian alam spontan”. Ini merupakan refleksi dari rentetan dinamika lingkungan yang semakin rapuh. Banjir bandang tersebut kembali menutup akses jalan, menimbun rumah warga dengan lumpur, dan memaksa kesiagaan di tengah malam yang sunyi. Tidak ada laporan korban jiwa — sebuah keberuntungan yang pahit — namun kerugian material diprediksi kian bertambah di tengah upaya pemulihan yang belum tuntas. TopSumbar.co.id

Lebih jauh lagi, kejadian berulang ini menunjukkan ketidaksiapan struktural dan ekologis: normalisasi sungai yang belum tuntas, aliran material dari hulu yang masih tidak terkendali, serta fenomena cuaca yang tidak mudah diprediksi sebagai akibat perubahan iklim. Ini terlihat dari fakta bahwa banjir bandang terjadi meskipun di beberapa kesempatan cuaca cerah, yang menunjukkan bahwa risiko tidak hanya dipicu hujan deras saat itu juga, tetapi juga oleh kondisi tanah dan sungai yang telah jenuh dan labil karena kejadian sebelumnya. https://www.metrotvnews.com

Antara Kejadian dan Penyebab: Kritik terhadap Penanggulangan Bencana

Kasus ini bukan sekadar tentang “air yang turun dari bukit”. Ia merangkum kegagalan sistemik dalam manajemen risiko bencana dan penataan ruang lingkungan. Sungai-sungai yang meluap adalah manifestasi dari hulu yang tak lagi mampu menahan aliran air dan material, karena: Pendangkalan sungai akibat longsor dan sedimen yang tidak segera ditangani. Deforestasi dan praktik penebangan liar yang mengurangi kapasitas tanah untuk menyerap air hujan VOI. Infrastruktur pengendalian banjir yang belum optimal, sehingga penangkal alami yang dulu dimiliki alam kini melemah

Di sinilah letak ironi yang tajam: Ketika warga membersihkan lumpur demi memulihkan kehidupan, struktur lingkungan di hulu justru terus memproduksi kondisi yang sama. Penanggulangan bencana seakan berkutat di lingkaran setan yang tiada ujung — respon pascabanjir selalu mendahului upaya preventif jangka panjang. Tanpa pendekatan holistik yang mempertimbangkan hulu–hilir, banjir bandang hanya akan terus berulang. ANTARA News

Dampak Sosial dan Ekonomi yang Mengendap

Banjir bandang yang berulang membawa dampak yang melampaui genangan air di permukiman. Ia merusak akses vital ke kota dan ekonomi lokal: jalan provinsi Lubuk Basung–Maninjau terputus total, memutus konektivitas dan menghambat distribusi barang serta mobilitas warga. posmetropadang.co.id

Lebih dalam lagi, ekonomi lokal — yang bergantung pada pariwisata Danau Maninjau dan pertanian di sekitarnya — menghadapi ancaman jangka panjang karena kejadian berulang yang menurunkan kepercayaan investasi dan stabilitas usaha warga. Do*

Posting Komentar

0 Komentar