TANAH DATAR, kiprahkita.com –Musibah bukan sekadar peristiwa alam; ia adalah cermin yang tajam bagi kekuatan sosial dan budaya suatu masyarakat. Ketika bencana banjir dan longsor melanda Nagari Guguak Malalo di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat — sebuah wilayah yang mengalami dampak serius akibat bencana hidrometeorologi akhir tahun ini — ketidakpastian dan keterisolasian menjadi kenyataan sehari-hari bagi warga setempat, termasuk para pemangku adat dan pengurus komunitas.
Dalam konteks itulah langkah Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Tanah Datar memberi bantuan kepada salah seorang pengurusnya yang terdampak bukan sekadar aksi filantropis biasa, tetapi sebuah manifestasi nilai solidaritas budaya yang konkret.
Bantuan diserahkan langsung oleh Ketua LKAAM, Aresno Datuk Andomo, yang menekankan bahwa esensi dari pemberian itu bukan terletak pada besar kecilnya nominal, melainkan pada niat, kepedulian, dan ketulusan untuk meneguhkan ikatan komunitas di masa sulit. Gowesterkini.com
Langkah ini layak dibaca sebagai respons yang sangat manusiawi di tengah krisis. Di saat mekanisme bantuan pemerintah, lembaga sosial, dan relawan profesional sedang bergerak untuk mendistribusikan logistik, membuka akses, dan menjamin kebutuhan dasar pascabencana, LKAAM bergerak di ranah nilai budaya: menguatkan semangat kolektif, menghormati hubungan sosial, dan memberi ruang resiliensi moral bagi mereka yang terdampak.
Solidaritas semacam ini tidak mengenal batas administratif, namun bersandar pada jaringan kekerabatan dan adat yang telah berakar lama di masyarakat Minangkabau.
Bantuan yang diberikan LKAAM bukan hanya sekadar materi; ia adalah simbol pemulihan psikologis, pengakuan terhadap penderitaan kolektif, dan pengingat bahwa dalam segala upaya tanggap darurat, manusia sebagai pusat perhatian harus diposisikan di garis depan — bukan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai subjek yang dihormati martabatnya.
M. Datuk Majo Datuk, pengurus LKAAM yang terdampak, menerima langsung bantuan itu dari Ketua LKAAM Tanah Datar, Aresno Datuk Andomo, pada Senin (28/12). Turut hadir dalam penyerahan bantuan Kepala Bidang Kebudayaan, Ariswandi, serta beberapa pengurus LKAAM lainnya.
Ketua LKAAM, Aresno Datuk Andomo, mengatakan bahwa bantuan ini lebih dimaknai sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas sesama pengurus adat di tengah kesulitan. Ia mengungkapkan bahwa niat baik dan dukungan moral menjadi hal utama dalam pemberian bantuan tersebut.
“Apa yang kami berikan bukan dilihat dari jumlahnya, tetapi dari niat serta kepedulian sebagai sesama pengurus adat,” ujar Aresno. Ia juga menyampaikan harapan agar nilai gotong royong dan kepedulian sosial terus terjaga, terutama ketika bencana melanda masyarakat.
Aresno menyebut bahwa bencana di Nagari Guguak Malalo menjadi perhatian semua pihak, tidak hanya keluarga yang terdampak, tetapi juga seluruh unsur masyarakat adat. Ia berharap sinergi antara lembaga adat, pemerintah, dan masyarakat untuk ikut mendukung proses pemulihan pascabencana.
M. Datuk Majo Datuk menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan dan perhatian yang diberikan. Ia menyebut bantuan ini menjadi semangat baru bagi dirinya dan keluarga untuk bangkit menghadapi dampak bencana.
Nagari Guguak Malalo merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Tanah Datar yang terdampak bencana banjir dan angin kencang akibat hujan deras beberapa waktu lalu. Bencana tersebut mengakibatkan kerusakan rumah dan infrastruktur, termasuk putusnya akses jalan di beberapa titik sehingga sempat memutus komunikasi dan transportasi. Suarasumbar.id
Upaya pemulihan akses jalan telah dilakukan oleh pemerintah daerah bersama unsur terkait, membuka kembali konektivitas ke wilayah yang sempat terisolasi akibat longsor dan material banjir. (GTC)*

0 Komentar