Ny.Lise Eka Putra: Pelayanan dari Hati, Kunci Bisnis Kuliner Bertahan dan Bertumbuh

TANAH DATAR, kiprahkita.com Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tanah Datar, Ny. Lise Eka Putra, menegaskan bahwa pelayanan dari hati menjadi kunci utama bagi pelaku usaha kuliner untuk dapat bertahan sekaligus tumbuh di tengah persaingan pasar yang ketat. Menurutnya, kualitas pengalaman pelanggan tidak hanya ditentukan oleh cita rasa makanan, namun juga oleh kualitas pelayanan yang diberikan.

Dalam kesempatan itu, Ny. Lise mengajak para pelaku usaha kuliner lokal untuk selalu menempatkan pelanggan sebagai fokus utama dalam setiap layanan. “Ketika pelayanan dilakukan dengan tulus dan penuh perhatian, pelanggan merasa dihargai, dan itu akan mendorong loyalitas serta rekomendasi dari mulut ke mulut,” ujarnya. Hal ini sejalan dengan tren konsumen yang tidak hanya menilai rasa, tetapi juga pengalaman pelayanan saat memilih tempat makan. 

Ia menjelaskan bahwa usaha kuliner yang mampu bertahan dan berkembang adalah yang mampu menciptakan hubungan emosional dengan pelanggannya melalui pelayanan yang ramah, responsif, dan konsisten. Pelayanan semacam itu menciptakan nilai lebih di mata pelanggan, terlebih di era di mana konsumen semakin selektif dan memiliki banyak pilihan.

Selain itu, Ny. Lise juga mendorong pemilik usaha untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan kebutuhan pelanggan. Menurutnya, inovasi dalam layanan serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam bisnis kuliner sangat penting agar usaha tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu tumbuh dan berkembang.

Ia berharap para pelaku usaha kuliner di daerah semakin memahami pentingnya pelayanan yang tulus sebagai strategi daya saing, serta terus menguatkan usaha mereka melalui pendekatan yang humanis terhadap pelanggan.

Dengan semangat tersebut, Ny. Lise yakin bahwa bisnis kuliner lokal dapat tumbuh berkelanjutan, memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, dan ikut menguatkan perekonomian daerah.

Dalam lanskap bisnis kuliner yang semakin kompetitif dan cepat berubah, kunci keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh kualitas rasa atau harga yang kompetitif, tetapi terutama oleh pelayanan yang tulus — pelayanan dari hati. Konsep ini bukan sekadar slogan pemasaran; ia mencerminkan sebuah filosofi operasional yang mampu menciptakan pengalaman pelanggan yang mendalam dan membedakan sebuah usaha dari para pesaingnya.


Pada esensinya, pelayanan dari hati berarti memberikan layanan yang melebihi sekadar pemenuhan kebutuhan fungsional pelanggan. Ini mencakup empati, kepekaan terhadap pengalaman konsumen, serta kemampuan untuk menjawab keinginan dan emosi pelanggan secara tulus. Dalam konteks kuliner, ini bukan sekadar bagaimana makanan disajikan, tetapi bagaimana pelanggan dirasakan, dihargai, dan diikutsertakan dalam pengalaman makan itu sendiri.

Pelayanan sebagai Diferensiasi Strategis dalam Bisnis Kuliner

Dalam industri kuliner, persaingan sangat ketat karena hampir setiap segmen konsumen memiliki alternatif yang serupa. Produk makanan—dalam banyak kasus—mudah ditiru, sementara pengalaman layanan yang hangat dan personal adalah sesuatu yang unik dan sulit direplikasi secara sempurna oleh pesaing. Pelayanan dari hati, oleh karena itu, berperan sebagai differentiator yang kuat dalam membangun loyalitas pelanggan serta menciptakan hubungan emosional antara pelanggan dan brand. Pelanggan tidak hanya datang untuk makan; mereka datang untuk merasakan sesuatu — dihargai, dimengerti, dan diperhatikan.

Teori manajemen layanan secara luas menyatakan bahwa kepuasan pelanggan berhubungan erat dengan kualitas layanan, bukan hanya kualitas produk semata. Ketika pelanggan merasa dilayani dengan tulus, hal ini meningkatkan kemungkinan mereka kembali dan merekomendasikan bisnis kepada orang lain. Loyalitas jenis ini jauh lebih bernilai dalam jangka panjang dibandingkan hanya transaksi satu kali karena harga atau diskon.

Pelayanan dari Hati sebagai Respons terhadap Kompleksitas Pasar

Dalam era digital dan media sosial, pengalaman buruk satu pelanggan dapat tersebar luas dalam hitungan jam, yang dapat merusak reputasi brand dengan cepat. Di sisi lain, pengalaman positif yang autentik sering kali menjadi cerita yang dibagikan secara organik melalui review, ulasan video, dan platform komunikasi digital lainnya—yang pada akhirnya menjadi bentuk word of mouth yang jauh lebih efektif daripada iklan. Hal ini berarti bahwa pelayanan dari hati bukan hanya strategi internal, tetapi juga alat pemasaran yang terintegrasi dalam ekosistem digital saat ini.

Selain itu, tren pasar menunjukkan bahwa konsumen modern semakin peduli pada nilai-nilai yang lebih luas seperti perhatian terhadap pengalaman, empati, serta hubungan personal dengan brand. Pelayanan dari hati menjawab kebutuhan ini secara langsung dengan menciptakan nilai emosional yang relevan bagi generasi konsumen sekarang.BS/ esqnews.id*

Posting Komentar

0 Komentar