BOGOR, kiprahkita.com –Masih ingat kasus itu. Setelah videonya viral dan sempat dituding menjual es gabus yang terbuat dari spons, bantuan untuk Suderajat, seorang pedagang es gabus berusia sekitar 50 tahun asal Bojonggede, Kabupaten Bogor, mulai berdatangan dari berbagai pihak.
Kejadian bermula ketika Suderajat berjualan es gabus di Kemayoran, Jakarta Pusat, pada akhir Januari 2026 lalu dan sempat diperiksa aparat karena tuduhan soal bahan dagangannya. Sempat viral di media sosial, hasil uji laboratorium oleh pihak berwenang menyatakan bahwa es yang dijualnya aman dan layak dikonsumsi — tidak mengandung spons atau bahan berbahaya.
Bantuan yang Diterima
Beberapa bentuk dukungan yang diterima Suderajat antara lain: Pemerintah Kabupaten Bogor memberikan sembako dan bantuan sosial, serta mengalokasikan bantuan untuk memperbaiki rumahnya yang kurang layak huni. Dana sekitar Rp20 juta telah dicairkan untuk rehabilitasi atap dan struktur bangunan rumah. Pemkab juga berencana membantu pendidikan anak-anaknya agar bisa kembali bersekolah.
Polisi dan TNI selain meminta maaf atas kejadian tersebut, juga memberikan bantuan barang, termasuk gerobak baru untuk mendukung usaha kecilnya.
Dari tokoh publik, termasuk utusan Gubernur Jawa Barat, turut menghubungi dan mengundang Suderajat untuk bertemu, serta memberikan dukungan moral dan bantuan yang diperlukan.
Selain itu, bantuan lain seperti sepeda motor dilaporkan juga diberikan untuk membantu mobilitas dan operasional berjualan.
Pemerintah daerah Bogor bahkan fasilitasi tempat berjualan di area Car Free Day supaya Suderajat bisa bangkit kembali secara ekonomi. Antara News Bengkulu
Respons Aparat dan Publik
Kasus yang sempat memicu diskusi luas ini ditanggapi serius oleh aparat: Kepolisian Jakarta Pusat dan Kodim setempat sudah menyelesaikan masalah secara kekeluargaan serta menyampaikan permintaan maaf karena penanganan awal yang dinilai kurang tepat.
Propam Polres Jakarta Pusat juga menyelidiki tindakan anggota yang terlibat dalam penanganan awal kejadian. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi aparat dan masyarakat luas untuk lebih berhati-hati dalam menilai informasi sebelum menyimpulkan sesuatu.
Ketika Viralisme Menjadi Jendela Empati dan Kritik Publik
Kasus pedagang kecil bernama Suderajat—yang sehari-harinya berjualan es gabus tradisional—bermulai dari tindakan sepele yang kemudian berkembang menjadi sorotan nasional. Di sebuah video yang tersebar luas di media sosial, oknum aparat seperti Bhabinkamtibmas dan Babinsa menuduh dagangannya berbahan spons Tuduhan yang cepat memicu kritik publik karena menyangkut keselamatan pangan dan cara aparat melakukan penilaian di lapangan. Tuduhan itu terbukti keliru setelah pemeriksaan laboratorium menyatakan bahwa es gabus dagangannya aman dan layak dikonsumsi.
Peristiwa ini penting bukan semata soal pedagang kecil yang difitnah, tetapi juga soal dampak sosial media dan cara respons publik terhadap kekuasaan. Dari sudut pandang struktural, ada ketidakseimbangan antara kekuatan institusi negara dan kehidupan warga biasa: tanpa verifikasi yang matang, aparat bertindak cepat berdasarkan prasangka, bukan bukti. Dominasi interpretasi seperti ini berpotensi mencederai reputasi dan mata pencaharian seseorang, serta membangkitkan ketidakpercayaan publik terhadap aparat sipil.
Namun, fenomena ini juga menunjukkan gerak sosial yang positif: setelah video viral dan kritik mengalir deras, respons tak hanya berupa permintaan maaf dari anggota polisi yang terlibat, tetapi juga gelombang bantuan dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Kabupaten Bogor, memberikan bantuan materi seperti sembako, rehabilitasi rumah, dan dukungan pendidikan bagi anak-anak Suderajat. Bahkan jajarannya menyiapkan lapak berjualan di area Car Free Day untuk membantu pemulihan ekonominya, sementara Kapolres Metro Depok memberi bantuan motor dan modal usaha. VOA Bogor+2Antara News Bengkulu+2
Respons kolektif ini mencerminkan dua sisi yang bertolak belakang dari ruang publik saat ini: di satu sisi, kekuatan media sosial bisa memperbesar kesalahan institusi; di sisi lain, itu juga bisa menggalang solidaritas sosial yang kuat untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Gerakan empati publik terhadap Suderajat menjadi semacam koreksi moral terhadap birokrasi: masyarakat tidak hanya mengecam kesalahan proses, tetapi juga mendorong tanggung jawab moral dan material dari negara terhadap warga kecil yang dirugikan. Aspirasiku
Namun, perlu digarisbawahi bahwa respons terbuka ini bukan pengganti reformasi struktural. Bantuan materi dan permintaan maaf bersifat remedial—mengurangi dampak bagi individu yang dirugikan—tetapi tidak mengatasi akar permasalahan yang lebih luas: praktik penanganan di lapangan yang sering mengedepankan asumsi daripada bukti. Ini menimbulkan pertanyaan serius tentang pelatihan profesionalisme aparat, tata kelola data dan bukti, serta mekanisme tanggung jawab yang lebih transparan. kumparan
Singkatnya, kisah Suderajat lebih dari sekadar berita viral: ia adalah cermin dua arah realitas sosial kita—tempat di mana kekuatan narasi cepat menyebar bisa menjatuhkan, tetapi juga bisa mengangkat solidaritas dan mengevaluasi ulang cara kita memandang kekuasaan, publik, dan tanggung jawab sosial. Bangkit lagi. BS*
0 Komentar