JAKARTA, kiprahkita.com –Dr. Suhardin, S. Ag., M. Pd. (Dosen UIC Jakarta) juga pengurus pusat Muhammadiyah ini melakukan uji objektivitas atas Pengaruh Thaharah terhadap Etika Pergaulan Generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh thaharah terhadap etika pergaulan di kalangan Generasi Z.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan model survei ex post facto. Subjek penelitian adalah Generasi Z yang dikelompokkan berdasarkan tingkat kethaharaan tinggi dan rendah. Instrumen penelitian dikembangkan untuk mengukur tingkat kethaharaan dan etika pergaulan Generasi Z.
![]() |
| Dr. Suhardin, S. Ag., M. Pd. (Dosen UIC Jakarta) |
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z yang memiliki tingkat kethaharaan tinggi memperoleh skor etika pergaulan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Generasi Z dengan tingkat kethaharaan rendah. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa kethaharaan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap etika pergaulan Generasi Z. Thaharah tidak hanya berfungsi sebagai praktik kebersihan fisik dan biologis, tetapi juga berpengaruh terhadap aspek psikologis, spiritual, serta sosio-kultural dalam membentuk pola pergaulan.
Generasi Z (Gen-Z), yang lahir pada rentang tahun 1997–2012, sering disebut sebagai native generation atau generasi digital. Hingga saat ini, mereka berada pada rentang usia 13–28 tahun dan mendominasi kelompok usia produktif muda yang kreatif, inovatif, serta adaptif terhadap percepatan perubahan zaman. Kehidupan Gen-Z tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi digital yang memungkinkan mereka melakukan berbagai aktivitas secara simultan (multitasking) melalui beragam platform komunikasi.
Di balik potensi produktivitas yang tinggi, Generasi Z juga menghadapi tantangan serius berupa gaya hidup materialistis, pragmatis, dan hedonis. Fenomena seperti Fear of Missing Out (FOMO), You Only Live Once (YOLO), Fear of People’s Opinion (FOPO), serta self-hatred menjadi indikasi terjadinya disorientasi nilai kehidupan. Kondisi ini mencerminkan keterputusan dari nilai moralitas, spiritualitas, dan religiusitas yang berdampak pada kesehatan mental, seperti perfeksionisme ekstrem, kritik diri berlebihan, kesulitan menerima apresiasi, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.
Situasi tersebut menunjukkan urgensi penguatan nilai-nilai religiusitas, spiritualitas, etika sosial, dan moralitas dalam kehidupan Generasi Z. Salah satu nilai fundamental yang bersifat praktis sekaligus spiritual adalah thaharah. Thaharah tidak hanya dipahami sebagai praktik kebersihan fisik, tetapi juga sebagai nilai yang membentuk kesadaran spiritual, etika, dan moral dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pergaulan antarindividu.
Berbagai penelitian terdahulu telah membahas Generasi Z dari beragam perspektif, seperti bonus demografi, penggunaan teknologi, kepuasan pernikahan, perilaku seksual, serta pembelajaran thaharah di ruang kelas. Namun, kajian yang secara spesifik mengaitkan thaharah dengan etika pergaulan Generasi Z masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini menghadirkan kebaruan (novelty) dengan mengkaji pengaruh thaharah sebagai nilai yang diinternalisasi dalam diri Generasi Z terhadap pembentukan etika pergaulan, khususnya dalam interaksi antar lawan jenis.
Penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa pemeliharaan thaharah secara konsisten dapat menjadi kerangka nilai yang membentengi Generasi Z dari penyimpangan etika pergaulan, seperti khalwat, sentuhan fisik yang tidak dibenarkan, serta perilaku yang melanggar norma moral dan religius. Data empiris diperoleh melalui survei terhadap responden Generasi Z di tingkat SLTP dan SLTA di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
Secara etimologis, kata thaharah berasal dari bahasa Arab thahara–yathhuru–thuhuran yang berarti bersih dan suci dari kotoran. Dalam konteks fikih, thaharah merupakan tuntunan syariat yang mengatur tata cara membersihkan diri dari najis dan hadas sebagai syarat sahnya ibadah. Najis berasal dari sisa metabolisme manusia dan hewan, seperti kotoran, darah, dan nanah, yang apabila mengenai tubuh wajib dibersihkan dengan air yang suci dan mensucikan.
Selain najis, dikenal pula konsep hadas, yaitu kondisi yang menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah tertentu. Hadas terbagi menjadi hadas kecil dan hadas besar, yang masing-masing memiliki tata cara penyucian tersendiri, seperti wudu dan mandi wajib. Dalam praktiknya, thaharah tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban ritual, tetapi juga membentuk kebiasaan hidup bersih dan sehat yang bersifat universal.
Generasi Z dikenal sebagai generasi yang memiliki perhatian tinggi terhadap kebersihan diri, tubuh, dan lingkungan. Namun, keterbukaan pola pergaulan Gen-Z yang tidak terikat oleh batasan gender dan ideologi menimbulkan tantangan etis tersendiri. Kedekatan personal, terutama dengan lawan jenis, berpotensi memicu perilaku yang melanggar norma sosial, moral, dan religius apabila tidak dikendalikan oleh nilai yang kuat.
Etika pergaulan berfungsi sebagai seperangkat aturan yang mengatur batas kebolehan dan larangan dalam interaksi sosial. Dalam konteks Generasi Z, etika pergaulan mencakup interaksi di ruang virtual maupun luring. Nilai moralitas, spiritualitas, dan religiusitas menjadi landasan utama dalam menentukan kualitas pergaulan agar tidak menimbulkan dampak negatif, baik secara personal maupun sosial.
Thaharah, sebagai nilai yang terinternalisasi dalam diri individu, diyakini mampu membentuk kesadaran etis dalam berinteraksi. Individu yang terbiasa menjaga kebersihan fisik dan kesucian diri cenderung lebih mampu mengontrol perilaku, menjaga batasan, serta menghindari tindakan yang berpotensi menimbulkan pelanggaran etika pergaulan.
Berdasarkan kajian teoretis dan temuan empiris, dapat disimpulkan bahwa thaharah memiliki peran strategis dalam membentuk etika pergaulan Generasi Z. Thaharah tidak hanya dimaknai sebagai praktik kebersihan jasmani, tetapi juga sebagai nilai spiritual dan moral yang memengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku sosial. Pembiasaan hidup bersih dan suci secara fisik serta spiritual menjadi fondasi penting dalam membangun pergaulan yang sehat, bermakna, dan berorientasi pada masa depan yang lebih baik. Suhardin*

0 Komentar