PADANG, kiprahkita.com –Bupati Tanah Datar, Eka Putra, kembali resmi dilantik dan dikukuhkan sebagai Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Sumatera Barat untuk masa bakti 2025–2029. Upacara pelantikan berlangsung di UNP Hotel and Convention, Padang, pada Minggu (15/2/2026) lalu.
Pelantikan dilakukan oleh Wakil Ketua Umum PBVSI Pusat, Irjen (Purn) Djoko Sardono, berdasarkan Surat Keputusan Ketua Pengurus Pusat PBVSI Nomor 24/Skep/PP PBVSI/IX/2025 tertanggal September 2025.
Dalam sambutannya, Eka Putra menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kembali untuk memimpin organisasi bola voli di Sumatera Barat. Ia menegaskan siap mengemban amanah bersama jajaran pengurus yang baru dilantik dan akan fokus pada pengembangan serta pembinaan prestasi voli di daerah ini.
Eka Putra juga menyoroti beberapa prestasi yang telah dicapai sebelumnya, termasuk keberhasilan PBVSI Sumbar mengantarkan tim voli Provinsi Sumatera Barat lolos ke Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh–Sumut 2024. Meski begitu, menurutnya, tantangan dan “pekerjaan rumah” ke depan masih besar, termasuk upaya mendorong partisipasi tim Sumbar di Proliga, kompetisi profesional bola voli di tingkat nasional.
Ia berharap pengurus baru segera bergerak dalam mempersiapkan tim voli indoor dan pantai secara kontinyu guna menghadapi berbagai event nasional. Menurut Eka, pembinaan prestasi membutuhkan proses panjang yang ditopang oleh kompetisi yang terus berjalan dan pencarian pemain berbakat hingga pelosok daerah.
Wakil Ketua Umum PBVSI Pusat, Djoko Sardono, dalam sambutannya juga mengucapkan selamat kepada Eka Putra dan jajaran pengurus yang baru. Ia berharap kepengurusan periode 2025–2029 dapat memperkuat pembinaan serta terus meningkatkan prestasi bola voli Sumatera Barat di tingkat nasional.
Dukungan dan ucapan selamat juga disampaikan oleh Dewan Penasehat Gusti Candra dan Ketua KONI Sumatera Barat, Hamdanus, yang berharap PBVSI Sumbar akan terus tumbuh dengan mengedepankan sportivitas dan profesionalisme demi kemajuan olahraga di provinsi ini.
Refleksi kritis atas pengulangan kepemimpinan di olahraga voli Sumatera Barat. Kembalinya Eka Putra—figur yang selama ini lebih dikenal publik sebagai Bupati Tanah Datar—untuk menakhodai Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Sumatera Barat periode 2025–2029. Ini penting tentang arah pembinaan olahraga dan dinamika kekuasaan dalam organisasi olahraga daerah.
Di satu sisi, terpilihnya kembali seorang pemimpin yang memiliki pengalaman administratif dan jaringan politik sebagai pilihan yang “aman”. Kepemimpinan yang stabil dipandang sebagai fondasi untuk melanjutkan proses pembinaan, konsolidasi klub, dan pencapaian prestasi di level nasional. Itu menjadi narasi para pendukungnya: bahwa kontinuitas akan membawa PBVSI Sumbar semakin matang, mulai dari pembinaan usia dini hingga target mengikuti kompetisi besar seperti Proliga.
Di balik kedigdayaan narasi tersebut tersimpan sejumlah tantangan struktural yang tak boleh kita abaikan.
1. Kepemimpinan Bupati dan Ketua PBVSI
Realitas bahwa seorang kepala daerah—dengan segala kewajiban pemerintahan dan politiknya—memimpin sebuah organisasi olahraga berskala provinsi memunculkan pertanyaan: apakah peran ganda ini benar-benar memperkuat atau justru melemahkan fokus pembinaan olahraga? Ketika seorang pemimpin harus membagi fokus antara birokrasi pemerintahan dan pembinaan olahraga, pertumbuhan prestasi organisasi itu sendiri berpotensi tertinggal karena kapasitas perhatian yang terbagi.
Jabatan ganda seperti ini cenderung melahirkan kepemimpinan ketimbang inovasi teknis yang dibutuhkan untuk memajukan cabang olahraga secara substantif. Tentu ini tantangan dan peluang untuk kepemimpinan yang baru Eka Putra.
2. Demokrasi di Arena Organisasi Olahraga
Musyawarah Provinsi (Musprov) PBVSI Sumatera Barat yang diwarnai persaingan tipis—Eka Putra unggul dari pesaingnya hanya dengan selisih satu suara—seolah mencerminkan gagasan demokrasi yang sehat. Suara itu menunjukkan potensi bahwa kepengurusan ini mewakili aspirasi pembinaan olahraga secara luas dalam struktur lokal.
3. Risiko Prioritas yang Tergeser
Fokus kepengurusan harus seimbang, jangan lebih tertuju pada aspek politik organisasi dibandingkan substansi olahraga, karena berpotensi terdampak pada pembinaan atlet. Cabang olahraga seperti voli membutuhkan program jangka panjang—mulai dari pembinaan usia dini, pendampingan penuh, hingga kompetisi terstruktur. Kebutuhan teknis olahraga dapat membuat sumber daya, energi, dan strategi pembinaan yang diperlukan atlet untuk bersaing di level nasional dan internasional.
4. Pesan untuk Masa Depan
Kembalinya figur yang sama untuk periode berikutnya bukan semata soal loyalitas atau konsistensi, tetapi justru sebuah tantangan: bagaimana menjadikan kepemimpinan stabil ini benar-benar menciptakan prestasi riil. Komitmen terhadap profesionalisme olahraga, transparansi dalam pengambilan keputusan, dan orientasi terhadap pembinaan jangka panjang harus menjadi parameter yang lebih tajam daripada sekadar kedekatan politik atau dominasi jaringan kepengurusan. Posmetro Padang*
0 Komentar