PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Dalam perbincangan tentang hemat dan pelit, banyak orang sering tersandung pada ambiguitas makna. Apakah menabung berarti mengekang hidup? Apakah mengatur pengeluaran berarti menjadi orang yang tidak mau memberi?
Artikel terbaru dari CNBC Indonesia mencoba memotong simpul tali emosional ini: hemat bukan berarti pelit — dan pelit bukan sekadar hemat ekstrem yang dikemas rapih.
Pelit secara sosial sering distigma sebagai kekikiran: menolak membantu, menunda kontribusi pada kebahagiaan orang lain, atau menempatkan akumulasi uang di atas hubungan manusia. Sementara itu, hemat — sejatinya — adalah tindakan sadar menjaga arus finansial tanpa merusak kualitas hidup, hubungan, atau kepuasan batin.
![]() |
| koin emas |
Tetapi di lain sisi, memberi dukungan kepada orang lain melalui bantuan yang bermakna juga mencerminkan keseimbangan moral yang sehat. Ini bukan soal “berapa banyak” uang yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakannya secara sadar untuk memenuhi kebutuhan esensial dan hubungan sosial.
Dilema muncul ketika hemat diperlakukan sebagai aturan tanpa pengecualian: “jangan makan di luar,” “jangan belanja apa pun yang tidak esensial,” atau “jangan pernah mengizinkan diri bersenang-senang.”
Pendekatan seperti ini bisa menimbulkan rasa kurang berharga atau bahkan menumbuhkan konflik dalam relasi — terutama ketika pola hemat itu diterapkan kepada orang lain dengan cara otoriter. Hemat yang bijak justru menyertakan ruang untuk fleksibilitas: itu bukan larangan, tetapi batasan yang jelas dan realistis.
Dalam konteks hubungan sosial, memberi atau berbagi bukan sekadar bentuk kemurahan hati, tetapi juga bagian dari jaringan saling memberi makna. Menolak berkontribusi kepada orang lain hanya demi menjaga saldo rekening, sekalipun secara matematis rasional, dapat memperlemah ikatan sosial yang menjadi modal emosional kehidupan.
Sebaliknya, memberi tanpa batas atau perencanaan bisa mengorbankan stabilitas pribadi dan menciptakan ketergantungan yang tidak sehat.
Secara psikologis, perilaku hemat yang sehat memerlukan kesadaran penuh atas kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang. Ini berarti menyusun anggaran yang realistis, memprioritaskan tujuan signifikan, serta tetap membuka ruang bagi pengalaman yang memberi rasa hidup — seperti rekreasi bersama teman atau hadiah kecil atas pencapaian penting.
Pemikiran ini mirip dengan prinsip “mindful spending” di literatur finansial modern, yang menekankan belanja dengan kesadaran tujuan, bukan sekadar dominasi angka di layar bank. Level Africa
Lebih jauh, perbedaan antara frugal (hemat cerdas) dan pelit (hemat ekstrem yang menolak pengeluaran wajar) menunjukkan bahwa rasa keadilan dan empati memainkan peran penting dalam keputusan finansial. Frugal adalah seni memilih pengeluaran yang menghasilkan nilai terbaik, baik untuk diri sendiri maupun orang lain — sedangkan pelit sering berbasis pada ketakutan atau keinginan memiliki kontrol mutlak atas uang.
Dengan demikian, hemat yang sehat bukan sekadar soal menabung, tetapi soal mengelola uang dengan tujuan dan rasa hormat — baik terhadap diri sendiri maupun komunitas sosial. Melalui batasan-batasan yang wajar, serta dukungan terhadap orang lain sesuai kemampuan, kita membentuk hubungan yang lebih sehat dengan uang — suatu hubungan yang tak hanya menjaga saldo rekening, tetapi juga menjaga harga diri, hubungan, dan kebahagiaan.
Hemat Uang Tanpa Bersikap Pelit: Panduan Praktis
Hemat Bukan Berarti Kekurangan
Menghemat uang tidak identik dengan melarang diri melakukan hal-hal yang menyenangkan. Yang penting adalah mengetahui tujuan keuangan Anda serta menetapkan batasan pengeluaran yang sesuai kemampuan, bukan larangan total yang kaku.
Batas Pengeluaran, Bukan Larangan
Daripada melarang semua hal menyenangkan, pakai batas pengeluaran realistis. Misalnya:
Tetapkan berapa kali Anda boleh nongkrong setiap bulan.
Buat plafon anggaran untuk hiburan atau hobi.
Dengan pendekatan ini, Anda tetap bisa bersosialisasi dan menikmati hidup tanpa merasa bersalah atau diperbudak oleh anggaran.
Pisahkan Uang Berdasarkan Fungsi
Perasaan “pelit” sering muncul karena uang tercampur semua dalam satu saldo. Solusinya adalah memisahkan uang menurut tujuan:
Uang kebutuhan harian (makan, transportasi),
Uang untuk gaya hidup dan sosial (nongkrong, traktir),
Uang simpanan atau tabungan.
Uang untuk infaq, sedekah, dan zakat
Dengan pembagian seperti ini, Anda bisa lebih mudah melihat kapan boleh menggunakan uang, kapan harus menahan diri, tanpa drama batin atau ruginya hubungan sosial.
Tetap Dermawan dengan Perencanaan
Menghemat bukan berarti berhenti memberi. Artikel ini menekankan bahwa memberi atau berdonasi tetap penting, apalagi bagi seorang muslim, asalkan dilakukan sesuai kemampuan dan direncanakan dalam anggaran. Anda bisa menganggarkan sedekah sebagai bagian dari rencana keuangan, sehingga tetap dermawan tanpa membebani kebutuhan sendiri.
Ini dalil yang relevan untuk menegaskan bahwa menghemat bukan berarti berhenti memberi, dan bahwa sedekah tetap penting selama dilakukan sesuai kemampuan.
Dalam Surah Al-Baqarah
Surah Al-Baqarah ayat 195
“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…”
Maknanya: berinfak itu perintah, tapi tetap dengan hikmah — tidak sampai mencelakakan diri sendiri secara finansial.
Surah Al-Baqarah ayat 286
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”
Ini jadi dasar kuat bahwa memberi pun mengikuti kemampuan. Tidak perlu memaksakan diri.
Dalam Surah Yasin
Surah Yasin ayat 47
“…Mengapa kami harus memberi makan kepada orang yang jika Allah menghendaki tentu Dia akan memberinya makan?”
Ayat ini menggambarkan sikap orang yang enggan berbagi. Artinya, menolak memberi karena alasan logika duniawi adalah sikap yang dikritik di Al-Qur’an.
Dalam Surah Al-Munafiqun
Surah Al-Munafiqun ayat 10
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu…”
Pesannya jelas: jangan menunda memberi sampai terlambat.
Benang Merahnya,
Memberi itu perintah.
Tapi tidak melampaui kemampuan.
Tidak menunggu kaya raya.
Tidak menunda sampai akhir hayat.
Tidak menjadikan alasan ekonomi sebagai pembenaran untuk berhenti berbagi.
Mengatur anggaran sedekah justru bentuk ketaatan yang matang.
Itu bukan pelit — itu perencanaan.
Secara keseluruhan, strategi ini mendorong pembaca mengatur keuangan dengan sadar (mindful spending), membuat batasan yang masuk akal, dan menjaga keseimbangan antara tujuan finansial dan kualitas hidup — tanpa dicap pelit. dupoin.co.id*

0 Komentar