JAKARTA, kiprahkita.com –Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima audiensi Women Business Syariah Community (WBSC) di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (3/2) lalu. Audiensi tersebut diterima oleh Sekretaris PP Muhammadiyah, M. Izzul Muslimin, didampingi Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Jebul Suroso.
Pertemuan ini dilaksanakan dalam rangka penyampaian penawaran kerja sama dari WBSC terkait program pemberdayaan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya bagi kalangan perempuan.
Izzul Muslimin menyampaikan apresiasi dan sambutan positif atas inisiatif kerja sama yang ditawarkan WBSC. Menurutnya, program-program yang disampaikan memiliki keselarasan dengan komitmen Persyarikatan Muhammadiyah dalam mendorong kemandirian ekonomi umat serta peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Izzul juga mendorong agar WBSC dapat melibatkan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah sebagai organisasi otonom perempuan Muhammadiyah dalam pelaksanaan program ke depan, sehingga sinergi yang dibangun semakin kuat dan berkelanjutan.
“Pada dasarnya Muhammadiyah sangat terbuka terhadap berbagai tawaran kerja sama, terlebih jika memberikan dampak positif bagi umat. Muhammadiyah memiliki perhatian besar terhadap penguatan ekonomi keumatan. Ke depan, WBSC dapat kami hubungkan dengan Lembaga Pengembangan UMKM PP Muhammadiyah serta Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah,” tegasnya.
Audiensi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi lintas lembaga yang dapat ditindaklanjuti melalui program-program konkret dan berkelanjutan bagi kemaslahatan umat dan masyarakat luas.
Pemberdayaan Perempuan dan Ujian Keseriusan Kolaborasi
Inisiatif kerja sama antara Women Business Syariah Community (WBSC) dan PP Muhammadiyah terdengar menjanjikan, bahkan ideal. Pendidikan, kesehatan, dan UMKM—tiga kata kunci yang hampir selalu hadir dalam setiap wacana pemberdayaan perempuan. Muhammadiyah pun, melalui pernyataan resmi, menyambutnya dengan tangan terbuka. Wajar. Secara nilai, tawaran ini sejalan dengan napas panjang gerakan persyarikatan.
Namun, justru karena terlalu ideal, kolaborasi semacam ini perlu diuji lebih jauh dari sekadar audiensi dan rilis berita.
Sejarah gerakan sosial di Indonesia dipenuhi kerja sama yang berakhir di meja rapat: banyak niat baik, minim dampak nyata. Pemberdayaan perempuan sering terjebak pada slogan—digaungkan, difoto, lalu perlahan dilupakan. Di titik ini, sambutan hangat Muhammadiyah belum cukup. Yang dibutuhkan adalah mekanisme konkret: siapa mengerjakan apa, di wilayah mana, dengan target yang terukur.
Usulan agar Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dilibatkan adalah langkah penting sekaligus pengingat halus. Muhammadiyah sadar bahwa pemberdayaan perempuan tidak bisa dikerjakan dari luar tubuh perempuan itu sendiri. ‘Aisyiyah bukan sekadar pelengkap struktural, melainkan aktor historis yang telah membuktikan kerja nyata di akar rumput—dari PAUD, kesehatan ibu-anak, hingga ekonomi keluarga. Tanpa ‘Aisyiyah, kerja sama ini berisiko elitis: rapi di pusat, jauh dari realitas lapangan.
Pertanyaan berikutnya menyentuh WBSC: sejauh mana komitmen mereka melampaui branding? Dunia komunitas bisnis—termasuk yang berlabel syariah—tak jarang tergoda menjadikan “pemberdayaan perempuan” sebagai etalase moral. Padahal tantangan UMKM perempuan bukan seminar motivasi, melainkan akses modal, pasar, pendampingan jangka panjang, dan keberanian menghadapi struktur ekonomi yang timpang.
Jika kerja sama ini serius, maka ia harus berani masuk ke wilayah yang tidak glamor: desa-desa terpencil, perempuan prasejahtera, usaha kecil yang nyaris tak bankable. Di situlah pemberdayaan diuji—bukan di forum diskusi berpendingin ruangan.
Muhammadiyah, dengan jaringan amal usaha dan reputasi moralnya, punya modal besar untuk memastikan kolaborasi ini tidak berhenti sebagai simbol. Tapi modal moral juga membawa tanggung jawab: memastikan setiap kerja sama benar-benar berpihak, bukan sekadar selaras secara jargon.
Audiensi ini boleh disebut awal yang baik. Tapi bagi publik, terutama perempuan akar rumput, satu hal jauh lebih penting daripada sambutan hangat: apakah kerja sama ini akan terasa di hidup mereka, atau hanya tercatat rapi di arsip organisasi?
Di situlah, kolaborasi diuji—bukan oleh niat, melainkan oleh dampaknya. Muhammadiyah or.id*
0 Komentar