LIMA KAUM, kiprahkita.com –Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tanah Datar sekaligus Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Tanah Datar, Wel Ahmad S.Sos, MM, menggelar kegiatan reses dan silaturahmi bersama pengurus IPSI bersama para ketua perguruan pencak silat, pelatih, serta atlet pesilat. Acara digelar di Aula Kantor Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum, Minggu (15/2/2026) lalu.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai isu strategis dibahas, termasuk persiapan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026 yang akan berlangsung pada Oktober mendatang. Rencana seleksi atlet akan dimulai pada akhir April 2026, dengan aturan usia peserta pertandingan ditetapkan antara 17 hingga 34 tahun. Diskusi juga mencakup kebutuhan sarana dan prasarana latihan seperti matras serta peralatan pendukung lainnya.
Hasrinaldi, S.H.I., M.H., Sekretaris Umum IPSI Tanah Datar, menyampaikan bahwa pertemuan ini juga menjadi wadah evaluasi untuk pengurus dan perguruan silat. Ia menekankan pentingnya koordinasi yang lebih intensif antar perguruan serta konsistensi dalam menjalankan program latihan guna menghasilkan atlet-atlet potensial yang siap bersaing di tingkat provinsi.
Sementara itu, Wel Ahmad menegaskan bahwa kunjungan reses dan silaturahmi ini merupakan bukti komitmen nyata dalam mendukung pembinaan pesilat lokal. Ia berharap hubungan kerja sama antara pengurus IPSI, pelatih, dan perguruan semakin diperkuat sehingga proses pembinaan dapat berjalan terarah dan berkelanjutan sehingga Tanah Datar dapat meraih prestasi terbaik di Porprov 2026.
Ketua perguruan Silar Taduang Bangkeh Batipuh, Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali, memberikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Ia mengaku kegiatan semacam ini memberikan motivasi tambahan dan memperkuat semangat seluruh pihak untuk berkontribusi maksimal dalam pembinaan atlet pencak silat di Tanah Datar.
Reses dan silaturahmi yang dilakukan oleh Wel Ahmad S.Sos MM, anggota DPRD sekaligus Ketua IPSI Tanah Datar, sejatinya merupakan wujud politik olahraga yang strategis. Langkah ini tidak sekadar rutinitas politik, melainkan sebuah upaya merangkul akar komunitas olahraga lokal demi menyiapkan atlet-atlet pencak silat menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.
Namun, di balik semangatnya, ada sejumlah refleksi tajam yang harus diperhatikan.
1. Ambivalensi antara Kepentingan Politik dan Kepentingan Pembinaan
Di satu sisi, tindakan Wel Ahmad dalam mengadakan reses yang menyasar pengurus, perguruan, pelatih, dan atlet menunjukkan niat baik untuk mulai menyinergikan berbagai elemen dalam pembinaan olahraga di tingkat akar rumput. Ini penting karena pembinaan olahraga tidak lahir dari satu tangan saja, melainkan kolaborasi antara legislatif, organisasi cabang olahraga, pelatih, dan masyarakat luas.
Mudahan reses semacam ini berakhir sebagai ritual legitimasi politik berkelanjutan — tempat bagi semua untuk tampil di publik menjelang persiapan event besar, berkelanjutan untuk perubahan struktural. Apalagi kegiatan itu dukungan terhadap prestasi, realitas pembinaan — pelatihan teratur, fasilitas lengkap, dan kesejahteraan atlet — membutuhkan komitmen lebih panjang dari pejabat terkait.
2. Permasalahan Sarana dan Prasarana Bukan Sekadar Janji
Salah satu isu yang dikemukakan dalam pertemuan adalah perlunya perbaikan sarana dan prasarana, termasuk matras dan perlengkapan latihan agar proses pembinaan berjalan aman dan optimal.
Ini menunjukkan kesadaran akan kebutuhan dasar pembinaan yang berpijak pada fasilitas memadai. Perbaikan sarana yang masih menjadi wacana mudahan menjadi rencana anggaran dan eksekusi yang jelas. Pembinaan atlet yang serius — terutama dalam cabang olahraga beregu atau seni – menuntut bukan hanya kunjungan dan wacana, tetapi investasi berkelanjutan dalam infrastruktur, pelatih yang kompeten, serta dukungan pembinaan psikologis dan nutrisi bagi semua.
3. Seleksi Atlet
Rencana seleksi atlet pada akhir April mendatang menjadi momen krusial dalam menentukan siapa yang layak mewakili Tanah Datar di Porprov mendatang. Dalam praktiknya, proses ini bisa menjadi pintu memastikan atlet terbaik yang dipilih berdasarkan potensi dan prestasi. Maka perlu kerangka seleksi yang transparan, independen, dan berbasis data, agar proses tersebut tidak berpotensi menjadi ajang pembenahan nama saja, bukan prestasi.
Pembinaan yang efektif membutuhkan metodologi seleksi yang sistematis, yang mencakup evaluasi berkelanjutan, kompetisi internal, dan exposure terhadap kompetisi di luar kabupaten. Ini penting agar calon atlet tidak hanya diukur pada satu atau dua event, tetapi melalui proses panjang yang mencerminkan kesiapan fisik, mental, dan teknis atlet.
4. Sportivitas dan Spirit Juang
Wacana yang disampaikan oleh Wel Ahmad bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari medali, tetapi juga dari disiplin, sportivitas, dan semangat juang, merupakan refleksi nilai yang mulia dalam konteks olahraga. *Gowesterkini.com
0 Komentar