Satu Abad NU, Muhammadiyah Ajak Perkuat Kolaborasi demi Kemajuan Bangsa

YOGYAKARTA, kiprahkita.com Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan ucapan selamat dan doa mendalam atas genapnya usia 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU). Haedar menegaskan pentingnya kolaborasi antara dua organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut untuk kemajuan bangsa dan peradaban dunia.

Mengawali ucapannya dengan salam dan puji syukur, Haedar menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas nama organisasi yang dipimpinnya.



“Atas nama keluarga besar Persyarikatan Muhammadiyah, saya menyampaikan tahniah. Selamat atas 100 tahun usia Nahdlatul Ulama,” ujar Haedar Nashir pada Sabtu (31/1).

Haedar berharap agar di usia satu abad ini, NU terus konsisten dalam memperkuat persaudaraan sesama muslim serta memegang teguh prinsip moderasi dalam beragama.

“Semoga Nahdatul Ulama menjadi pergerakan Islam yang terus memupuk ukhuwah islamiah yang merekat persatuan dan kesatuan sesama kaum muslimin dengan lebih kokoh sekaligus berpondasikan nilai-nilai Islam yang wasatiah untuk kepentingan umat, bangsa dan kemanusiaan semesta,” tuturnya.

Dengan mengusung tema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia, Haedar menyatakan keyakinannya bahwa NU akan tetap menjadi pilar penting dalam mengawal perjalanan bangsa Indonesia menuju cita-cita kemerdekaan yang bermartabat, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.

“Kami yakin Nahdlatul Ulama akan semakin bergerak maju untuk terus mengawal Indonesia dengan spirit kemerdekaan menuju pada cita-cita nasional, terwujudnya Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur sekaligus dalam konteks menuju peradaban mulia menjadi Indonesia yang bermartabat, baik dalam kehidupan nasional maupun di kancah global,” ungkapnya.

Haedar juga menekankan bahwa langkah NU ke depan sejalan dengan misi menyebarkan kebaikan bagi seluruh alam. Hal ini, menurutnya, tertuang dalam spirit keislaman yang berbunyi wa mā arsalnāka illā raḥmatan lil-‘ālamīn, yang membawa nilai-nilai yang menebar rahmat bagi semesta alam.

Menutup pesannya, Haedar menegaskan komitmen Muhammadiyah untuk terus berjalan beriringan dengan Nahdlatul Ulama dalam membangun peradaban yang mulia.

“Dan kami dengan semangat persaudaraan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama akan terus bergandengan tangan mewujudkan kehidupan keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan semesta yang menebar nilai-nilai keadaban utama dan mulia membawa kemajuan yang menebar berkah dan rahmat bagi semesta,” pungkasnya.

Satu Abad NU dan Tantangan Kolaborasi yang Tak Boleh Sekadar Retorika

Ucapan selamat Muhammadiyah atas satu abad Nahdlatul Ulama adalah momen yang indah, hangat, dan—jujur saja—aman. Kata-kata tentang ukhuwah, moderasi, dan peradaban mulia mengalir rapi, seperti sudah sangat kita hafal. Tapi justru di titik inilah pertanyaan penting muncul: apakah kolaborasi NU–Muhammadiyah akan terus berhenti sebagai bahasa moral, atau berani naik kelas menjadi kekuatan struktural yang nyata di masa depan?

NU dan Muhammadiyah bukan sekadar dua organisasi Islam terbesar; keduanya adalah pilar sosial yang sejak sebelum republik berdiri telah membentuk watak bangsa. Ketika Haedar Nashir mengajak memperkuat kolaborasi demi kemajuan bangsa, sesungguhnya itu bukan ajakan baru, melainkan pengingat keras bahwa potensi besar ini terlalu sering terbuang dalam sekat kultural, ego historis, dan perbedaan pendekatan yang diwariskan turun-temurun.

Di usia satu abad NU, tantangannya bukan lagi soal menjaga moderasi beragama—itu sudah menjadi “default setting” kedua ormas ini. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana moderasi itu diterjemahkan dalam keberpihakan nyata: pada keadilan sosial, pada pendidikan yang membebaskan, pada ekonomi umat yang tidak sekadar bertahan tapi berdaulat. Tanpa itu, moderasi hanya akan menjadi jargon sopan di tengah ketimpangan yang terus dibiarkan.

Tema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia terdengar agung, tetapi peradaban tidak lahir dari slogan. Ia lahir dari keberanian bersikap kritis terhadap kekuasaan, bahkan ketika kekuasaan itu datang dengan label “nasional”, “religius”, atau “demi stabilitas”. Di sinilah NU dan Muhammadiyah diuji: apakah mampu berdiri sejajar dengan negara tanpa larut menjadi aksesorinya?

Kolaborasi yang dibutuhkan bangsa hari ini bukan kolaborasi foto bersama di panggung peringatan, melainkan konsolidasi nilai dan agenda. Bayangkan jika energi NU dan Muhammadiyah benar-benar disatukan untuk mengawal kebijakan publik, melawan korupsi berbasis moral, dan membela kelompok rentan tanpa kompromi politik. Itu baru makna rahmatan lil ‘alamin yang hidup, bukan sekadar dikutip.

Satu abad NU adalah cermin perjalanan panjang Islam Indonesia yang santun dan membumi. Ajakan Muhammadiyah untuk bergandengan tangan seharusnya menjadi momentum untuk melampaui romantisme sejarah. Karena bangsa ini tidak kekurangan doa dan pidato; yang langka adalah keberanian kolektif untuk menjadikan nilai keislaman sebagai daya gugah perubahan.

Selamat satu abad NU. Sekarang saatnya NU dan Muhammadiyah membuktikan bahwa persaudaraan bukan hanya warisan, tapi strategi masa depan. Ilham*

Posting Komentar

0 Komentar