1702 2026, Panınggahan, Solok.
Mengapa Begitu?
HISAB VS RUKHYAT
Menurut jumhur ulama, perbedaan pendapat yang dilakukan dengan cara yang baik dan berdasarkan dalil-dalil yang kuat dapat membawa pahala. Hal ini karena perbedaan pendapat dapat memacu pengembangan ilmu, memperdalam pemahaman, dan memperkuat ukhuwah.
Rabi' bin Anas berkata, "Perbedaan pendapat di kalangan umat Islam adalah rahmat, karena jika ada dua pendapat, maka salah satu di antaranya adalah benar dan yang lain salah, maka orang yang benar mendapatkan dua pahala dan orang yang salah mendapatkan satu pahala."
Namun, perlu diingat bahwa perbedaan pendapat harus dilakukan dengan cara yang baik, tidak menimbulkan perpecahan atau fitnah, dan tidak memaksakan pendapat sendiri.
Kultum (Kuliah Terserah Antum)
SIDANG ISBAT: SAAT UMAT MENDADAK MENJADI ASTRONOM
Setiap tahun, menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, umat Islam Indonesia mengalami fenomena langka. Bukan gerhana, bukan hujan meteor, tapi ledakan mendadak keahlian astronomi massal. Yang sehari-hari melihat langit cuma buat cek hujan, malam itu mendadak hafal istilah rukyat, hisab, elongasi, imkanur rukyat. Bahkan ada yang lebih galak dari teleskop LAPAN.
Sidang isbat pun digelar. Di satu ruangan, para ahli falak, ulama, dan wakil ormas duduk serius. Di luar ruangan, netizen duduk lebih serius—dengan kopi, gorengan, dan jempol siap menyerang. Bulan sabitnya masih malu-malu, tapi komentar sudah telanjang.
Lucunya, yang paling ribut justru yang tidak ikut puasa sebulan penuh tahun lalu. Yang shalatnya bolong, tapi debatnya utuh. Yang zakatnya masih angan-angan, tapi argumennya matang di timeline.
Sidang isbat sering dituduh formalitas. “Ngapain sidang? Kalender sudah ada.” Logika ini mirip orang bilang, “Ngapain shalat berjamaah? Kan bisa sendiri.” Benar bisa, tapi Islam bukan sekadar bisa—Islam itu soal adab dan kebersamaan.
Dalam Islam, hisab itu ilmu. Rukyat itu kesaksian. Keduanya bukan musuh, tapi saudara yang sering dipertengkarkan oleh paman-pamannya. Nabi ï·º bersabda:
“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini tidak memusuhi ilmu, tapi juga tidak mematikan tradisi. Islam itu seimbang: akal jalan, iman juga pegang tangan. Sayangnya, yang sering jalan sendiri itu ego.
Ada yang bangga, “Kami lebih dulu puasa.”
Hebat. Tapi jangan lupa, iblis juga lebih dulu beribadah ribuan tahun. Yang dinilai bukan duluannya, tapi akhirnya. Puasa itu bukan lomba start, tapi lomba menjaga akhlak sampai maghrib—bahkan sampai mati.
Ada pula yang sinis, “Sidang isbat bikin umat bingung.”
Sebetulnya umat tidak bingung, umat cuma malas menerima perbedaan. Bingung itu kalau Allah tidak tahu kita puasa kapan. Ini kan tidak. Allah Mahatahu. Yang sering tidak tahu itu kita—tentang cara bersikap dewasa.
Ironisnya, hilal itu tipis. Tapi ego kita tebal. Hilal itu rendah hati, muncul perlahan. Kita justru muncul dengan status panjang dan nada tinggi. Hilal dicari pakai teleskop, salah sendiri dicari pakai dalih.
Padahal Ramadhan itu madrasah pengendalian diri. Kalau baru beda tanggal saja sudah emosi, bagaimana mau menahan lapar, haus, dan nafsu sebulan penuh? Jangan-jangan yang kita tahan cuma nasi, bukan gengsi.
Sidang isbat sejatinya bukan tentang bulan. Bulan tidak pernah protes. Yang protes manusia. Sidang isbat itu cermin kedewasaan umat: apakah kita bisa berbeda tanpa saling merendahkan, apakah kita bisa taat tanpa harus merasa paling benar.
Idul Fitri itu hari kembali suci. Tapi tiap tahun, ada yang datang dengan hati penuh sindiran. Lebaran mestinya memperpendek jarak, bukan memperpanjang status WhatsApp. Kalau belum bisa satu tanggal, minimal satu adab.
Bulan sabit itu kecil, tapi pesannya besar:
yang naik ke langit itu hilal,
yang seharusnya turun itu ego.
Kalau sidang isbat masih bikin kita marah, mungkin yang perlu disidangkan bukan bulannya—tapi cara kita beragama. Karena Islam tidak diukur dari seberapa keras kita berdebat, tapi seberapa lembut kita menjaga persaudaraan.
Semoga Ramadhan kali ini, yang terlihat bukan hanya hilal di langit, tapi juga akhlak di bumi.
Wallahu A'lam. Sc : Ashar Tamanggong
Komentar guru Pendidikan Kepancasilaan, "Beda itu keberagaman yang ada di negara kita ibuk, yang penting dijalani sesuai keyakinan masing-masing, dan kita gak boleh saling merasa benar dan saling menyalahkan.Yang penting kita puasa di bulan Ramadhan."
Selamat Berbuka Puasa*
0 Komentar