BUKITTINGGI, kiprahkita.com –Sebanyak 40 negara mengonfirmasi akan mengikuti seminar internasional dalam rangka memperingati 100 tahun Jam Gadang di Kota Bukittinggi pada Juni 2026.
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, mengatakan bahwa puluhan negara tersebut akan berpartisipasi dalam seminar dan kegiatan literasi sebagai bagian dari rangkaian peringatan satu abad Jam Gadang (1926–2026).
Seminar dan literasi internasional tersebut akan mengulas sejarah Jam Gadang yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Kegiatan ini bertujuan memperkaya pengetahuan sejarah yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat.
![]() |
Dalam rencana pelaksanaannya, acara ini akan menghadirkan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, serta Duta Besar Belanda untuk Indonesia. Pemerintah Kota Bukittinggi juga berencana mengundang para arsitek untuk mengkaji lebih dalam struktur bangunan Jam Gadang yang memiliki tinggi 27 meter dengan atap bercorak khas Minangkabau.
Ramlan juga menyampaikan dua keistimewaan Jam Gadang. Pertama, penulisan angka empat pada jam menggunakan angka Romawi “IIII”, berbeda dari umumnya yang menggunakan “IV”. Kedua, mesin jam tersebut hanya ada dua di dunia, yakni di Jam Gadang Bukittinggi dan di Big Ben.
Sejarah Jam Gadang
Jam Gadang merupakan ikon paling terkenal di Kota Bukittinggi yang tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk waktu, tetapi juga menjadi simbol sejarah dan kebanggaan masyarakat Minangkabau. Menara jam ini dibangun pada tahun 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada sekretaris kota (controleur) Bukittinggi saat itu.
Nama “Jam Gadang” sendiri berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “jam besar”, sesuai dengan ukuran menaranya yang menjulang tinggi dan memiliki empat sisi jam yang dapat dilihat dari berbagai penjuru kota. Pembangunan Jam Gadang dilakukan oleh arsitek lokal dengan rancangan yang dipengaruhi gaya Eropa, namun tetap mengakomodasi nilai-nilai lokal.
Keunikan Jam Gadang terletak pada bentuk atapnya yang mengalami beberapa perubahan seiring perjalanan sejarah. Awalnya, atap menara berbentuk kubah khas Eropa pada masa kolonial Belanda. Kemudian, saat pendudukan Jepang, bentuk atap diubah menyerupai pagoda. Setelah Indonesia merdeka, atap tersebut kembali diubah menjadi bentuk gonjong khas rumah adat Minangkabau, yang bertahan hingga sekarang sebagai simbol identitas budaya lokal.
Selain arsitekturnya yang khas, Jam Gadang juga memiliki mesin jam yang langka. Mesin tersebut dibuat di Jerman oleh pabrikan terkenal dan menjadi salah satu dari sedikit mesin jam menara di dunia yang masih menggunakan sistem manual tanpa bantuan listrik modern pada awalnya.
Seiring waktu, kawasan Jam Gadang berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat dan destinasi wisata utama di Sumatera Barat. Lokasinya yang strategis membuatnya dikelilingi berbagai fasilitas publik, taman kota, serta pusat perdagangan seperti Pasar Atas Bukittinggi dan Pasar Bawah Bukittinggi. Tidak jauh dari sana, terdapat pula kawasan Pasar Aur Kuning yang dikenal sebagai pusat grosir terbesar di wilayah tersebut.
Hingga kini, Jam Gadang tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah Bukittinggi dari masa kolonial, pendudukan Jepang, hingga kemerdekaan Indonesia. Keberadaannya menjadikan kota ini sebagai salah satu destinasi wisata paling ikonik di Sumatera Barat, sekaligus tempat berkumpulnya masyarakat dan wisatawan dari berbagai daerah.*

0 Komentar