JAKARTA, kiprahkita.com –Nikel adalah logam berwarna putih keperakan dengan simbol kimia Ni dan nomor atom 28. Logam ini dikenal kuat, tahan panas, dan tidak mudah berkarat sehingga banyak digunakan dalam berbagai kebutuhan industri. Salah satu penggunaan terbesar nikel adalah sebagai bahan campuran stainless steel agar lebih tahan lama dan antikarat.
Selain itu, nikel juga menjadi bahan penting dalam pembuatan baterai kendaraan listrik, pelapis logam, hingga komponen mesin industri. Indonesia termasuk negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, terutama di wilayah Sulawesi dan Halmahera.
Nikel sering disebut sebagai salah satu komoditas strategis masa depan. Harga nikel dunia melonjak setelah Presiden Prabowo Subianto menyetujui rencana penerapan pajak ekspor untuk komoditas nikel dan batu bara.
Kebijakan tersebut diumumkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di tengah meningkatnya tekanan terhadap anggaran negara akibat lonjakan harga energi global.
![]() |
| Harga Nikel Dunia Melonjak |
Harga kontrak berjangka nikel di London Metal Exchange tercatat naik hingga 2,7 persen sejak perdagangan Rabu (25/3/2026) lalu hingga waktu belum diketahui. Pada sesi perdagangan terbaru, harga nikel berada di level sekitar US$17.310 per ton.
Dampak Konflik Timur Tengah
Pemerintah Indonesia mengambil langkah tersebut setelah tekanan fiskal meningkat akibat perang di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Sebagai negara pengimpor bersih minyak mentah dan bahan bakar, Indonesia dinilai rentan terhadap gangguan pasokan energi global, termasuk dampak konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Kebijakan pajak ekspor komoditas dipandang sebagai strategi pemerintah untuk memperkuat penerimaan negara sekaligus menjaga stabilitas anggaran di tengah situasi global yang tidak menentu.
Dorong Hilirisasi Nikel
Pengenaan pajak ekspor juga menjadi bagian dari strategi hilirisasi industri mineral yang terus didorong pemerintah.
Indonesia saat ini menguasai lebih dari separuh produksi nikel dunia dan berupaya meningkatkan nilai tambah dengan mendorong pembangunan industri pengolahan dalam negeri, termasuk smelter dan bahan baku baterai kendaraan listrik.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat mempercepat transformasi Indonesia menjadi pusat industri kendaraan listrik dan baterai global.
Sebagian besar perkembangan industri nikel nasional dalam beberapa tahun terakhir juga ditopang investasi besar dari perusahaan-perusahaan asal China.
Investor Nilai Indonesia Punya Posisi Tawar Kuat
Analis Shuohe Asset Management Co., Gao Yin, menilai pasar mulai percaya bahwa pemerintah Indonesia serius menjalankan kebijakan pajak ekspor di tengah tekanan fiskal yang dihadapi negara.
Menurutnya, kenaikan tarif ekspor berpotensi meningkatkan biaya produksi global sehingga harga nikel internasional ikut terdorong naik.
Wacana pajak ekspor nikel sebenarnya telah muncul sejak 2022, namun kembali menguat pada 2026 seiring meningkatnya kebutuhan pendapatan negara dan upaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok energi hijau dunia.
Dengan dominasi pasokan nikel global, Indonesia dinilai memiliki posisi tawar yang besar dalam memengaruhi pasar internasional sekaligus menarik investor untuk membangun fasilitas pengolahan di dalam negeri.*
Baca Juga
http://www.kiprahkita.com/2026/05/gerakan-peduli-seragam-di-mtsn-padang.html

0 Komentar