Seabad Jam Gadang, Pengurus Perwatusi Abadikan Momen Kebersamaan di Ikon Wisata Bukittinggi

BUKITTINGGI, kiprahkita.com Memasuki usia satu abad, Jam Gadang tetap menjadi ikon Kota Bukittinggi sekaligus destinasi wisata favorit di Sumatera Barat. Keindahan arsitektur dan nilai sejarah yang dimiliki menara bersejarah tersebut terus menarik perhatian wisatawan untuk mengabadikan momen.


Suasana itu juga terlihat saat jajaran pengurus pusat Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) berfoto bersama di pelataran Jam Gadang, di sela kegiatan Pencanangan Gerakan Sumbar Melawan Osteoporosis yang digelar di Bukittinggi.


Dengan latar Jam Gadang yang berdiri megah, para pengurus Perwatusi mengabadikan kebersamaan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan tulang dan mencegah osteoporosis.


Jam Gadang yang dibangun pada 1926 kini genap berusia 100 tahun. Menara setinggi sekitar 26 meter tersebut menjadi saksi berbagai perjalanan sejarah bangsa, mulai dari masa pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan Indonesia.


Keunikan arsitekturnya, terutama atap bergaya rumah gadang khas Minangkabau, menjadikan Jam Gadang sebagai salah satu landmark paling dikenal di Indonesia sekaligus simbol Kota Bukittinggi.


Selain memiliki nilai sejarah, kawasan Jam Gadang juga menjadi pusat aktivitas masyarakat dan salah satu destinasi wisata unggulan di Sumatera Barat. Hampir setiap wisatawan yang berkunjung ke Bukittinggi menyempatkan diri mengabadikan momen di kawasan tersebut, baik pada siang maupun malam hari.


Kehadiran pengurus Perwatusi turut menambah semarak suasana kawasan wisata. Momen kebersamaan itu sekaligus menunjukkan bahwa kampanye gaya hidup sehat dapat berjalan beriringan dengan upaya mempromosikan pariwisata dan pelestarian budaya daerah.


Melalui Gerakan Sumbar Melawan Osteoporosis, Perwatusi mengajak masyarakat menerapkan pola hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, serta melakukan deteksi dini osteoporosis sebagai langkah menjaga kesehatan tulang.


Momentum seabad Jam Gadang pun menjadi pengingat bahwa warisan budaya dan kesehatan masyarakat merupakan aset berharga yang perlu dijaga bersama demi generasi mendatang.*

Baca Juga

http://www.kiprahkita.com/2026/07/yakuza-maneges-jadi-sorotan-komunitas.html

Posting Komentar

0 Komentar