KEDIRI, kiprahkita.com –Kemunculan organisasi bernama Yakuza Maneges di Kota Kediri, Jawa Timur, menarik perhatian publik. Nama yang identik dengan kelompok mafia Jepang itu memunculkan berbagai pertanyaan. Namun, pendirinya menegaskan bahwa organisasi tersebut tidak memiliki kaitan apa pun dengan sindikat kriminal, melainkan bergerak di bidang sosial dan dakwah.
Yakuza Maneges dideklarasikan sebagai wadah pemberdayaan masyarakat marginal dengan pendekatan spiritual yang inklusif. Komunitas ini berada di bawah pimpinan Gus Thuba dan terinspirasi dari metode dakwah ulama kharismatik asal Kediri, almarhum Gus Miek.
![]() |
Peresmian organisasi tersebut turut dihadiri Wali Kota Kediri, , yang menyampaikan apresiasi atas lahirnya gerakan sosial tersebut.
Gus Thuba, yang memiliki nama lengkap , menjelaskan bahwa Yakuza Maneges dibentuk untuk merangkul kelompok masyarakat yang selama ini sering dipandang negatif atau terpinggirkan.
Menurutnya, pendekatan tersebut berangkat dari teladan dakwah yang dikenal dekat dengan kalangan masyarakat akar rumput. Dalam pandangan itu, orang-orang yang kerap dicap sebagai "nakal", "preman", atau "terbuang" justru perlu mendapatkan perhatian, pembinaan, dan pendampingan.
"Orang-orang yang selama ini dianggap berada di pinggiran masyarakat bukan untuk dihakimi, melainkan dirangkul dan diberdayakan," ujar Gus Thuba.
Nama Yakuza yang digunakan organisasi tersebut juga menjadi perhatian publik. Meski identik dengan kelompok kriminal di Jepang, Gus Thuba menyebut pemilihan nama itu dilakukan secara sadar dan memiliki makna simbolik dalam konteks gerakan yang dibangunnya.
Ia menjelaskan bahwa Yakuza Maneges hadir sebagai ruang pembinaan bagi mereka yang sering disebut sebagai "santri jalur kiri", yakni kelompok masyarakat yang belum tersentuh pembinaan keagamaan secara optimal.
"Yakuza Maneges merupakan tempat bagi saudara-saudara kita yang sering kita sebut sebagai santri jalur kiri," kata Gus Thuba saat deklarasi organisasi.
Melalui pendekatan sosial dan spiritual tersebut, Yakuza Maneges berharap dapat menjadi jembatan bagi kelompok marginal untuk memperoleh pendampingan, pemberdayaan, dan pembinaan keagamaan secara lebih inklusif.
Meski namanya memicu kontroversi, organisasi ini menegaskan fokus utamanya adalah kegiatan kemanusiaan, sosial, dan dakwah, bukan aktivitas yang berkaitan dengan kelompok kriminal maupun kekerasan.*
Baca Juga
http://www.kiprahkita.com/2026/07/haedar-nashir-pemimpin-muhammadiyah.html

0 Komentar