Arus Galodo Tunduk pada Ikatan Darah dan Doa Tiga Anak Manusia

Di tengah deru air keruh yang mengamuk dan jeritan malam yang mencekam, ada satu pemandangan yang tak sanggup menghentikan detak dada siapa pun yang melihatnya. Tiga jemari bersaudara yang saling mengunci erat, menolak untuk dilepaskan oleh derasnya arus.


Dua anak laki-laki itu berdiri seperti benteng kecil. Tubuh mereka gemetar, tetapi lengan mereka kokoh memeluk dan memagari satu-satunya saudara perempuan mereka di tengah. Tak ada tameng, tak ada pegangan lain, selain genggaman tangan yang makin erat saat air makin meninggi.


“Ya Allah, selamatkan kami… Ya Allah…”

Di antara gemuruh batu dan lumpur, jerit tangis bertukar menjadi doa yang melangit. Mereka tidak lari sendiri-sendiri. Mereka memilih bertahan bersama, atau tenggelam bersama. Tangis ketakutan bercampur dengan kepasrahan paling dalam kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Malam itu, keajaiban bukan cuma cerita di dalam buku.

Atas kuasa dan kebesaran Allah SWT, arus galodo yang sanggup meratakan rumah mereka hingga hampir tak berbekas, justru tunduk pada ikatan darah dan doa tiga anak manusia ini. Mereka bertiga selamat. Selamat tanpa ada satu pun genggaman yang terlepas.

Rumah boleh hancur dihantam bandang, harta boleh habis disapu lumpur, tapi cinta saudara dan pertolongan Allah melampaui segalanya.

Untuk adik-adik hebat di Solok, terima kasih sudah mengajarkan kami arti keteguhan, kasih sayang, dan keajaiban sebuah doa. Semoga Allah segera memulihkan Solok dan menyembuhkan setiap luka yang tersisa. *

Posting Komentar

0 Komentar