Masyaallah Kalau ajal belum waktunya datang, mau sehebat apapun ombak menerpa, seluas luasnya air laut, tetap saja ada jalan untuk selamat,
Kisah korban kapal tengelam bernama Gilang Slamet Saputra (27) tahun , KM Virgo Transport 8 asal Garut, akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat di perairan Makassar.
Ia Terbawa arus begitu jauh dari lokasi tragedi, tetapi Gilang masih mampu bertahan hingga akhirnya ditemukan.
Ia tidak menyangka bisa selamat. Bahkan ia sudha putus asa saat itu. Di tengah duka tragedi ini, keselamatan Gilang menjadi keajaiban dan keberuntungan besar bagi dirinya dan keluarga.Bukan hanya karena masih banyak korban yang belum ditemukan, tetapi karena tim SAR kini menemukan sejumlah korban di dalam badan kapal yang karam di dasar Laut Jawa.
Pada hari ke-10 operasi pencarian, Selasa 22 September 2026, tim penyelam gabungan Basarnas Special Group, TNI AL, dan PT Jasalindo kembali menemukan tiga jas4d di dalam badan kapal. Ketiganya kemudian dievakuasi untuk menjalani proses identifikasi.
Penemuan ini bukan yang pertama.
Beberapa hari sebelumnya, tim SAR juga menemukan korban di dalam ruangan kapal. Bahkan pada 18 September, tiga jas4d ditemukan dalam kondisi terjebak di dalam ruangan, sehingga penyelam harus memecahkan kaca untuk mengeluarkannya.
Pada 20 September, satu korban kembali ditemukan di dalam badan kapal. Sehari kemudian, dua korban lainnya ditemukan penyelam saat menyisir bagian dalam bangkai kapal.
Di sinilah kesaksian para penyintas menjadi semakin penting.
Sebelumnya, korban selamat menceritakan bahwa ketika kapal mulai mengalami masalah, mereka menghadapi situasi yang sangat kacau.
Ada kesaksian tentang kapal yang tiba-tiba miring.
Ada kesaksian mengenai kondisi gelap setelah listrik padam.
Ada pula korban yang mengaku tidak mendengar alarm atau mendapatkan pemberitahuan yang cukup sebelum keadaan semakin genting.
Kru yang selamat, Rizky Apriansyah, bahkan mengatakan kepada Reuters bahwa kapal tiba-tiba miring sekitar 30 derajat ketika gelombang besar menghantam. Menurut kesaksiannya, ia tidak mendengar alarm dan kapal kemudian terbalik dalam waktu kurang dari 10 menit.
Kesaksian-kesaksian tersebut tentu harus diperiksa bersama bukti dan hasil investigasi resmi.
Tetapi sekarang ada fakta lain yang tidak kalah menyedihkan:
sejumlah korban ternyata ditemukan di dalam kapal yang karam.
Bayangkan keluarga yang masih menunggu kabar.
Di daratan, mereka berharap orang yang mereka cintai mungkin masih ditemukan.
Sementara jauh di bawah permukaan laut, tim penyelam justru menemukan korban di dalam badan kapal.
Hingga Selasa 22 September pukul 11.30 WITA, Basarnas mencatat 126 korban telah ditemukan: 108 selamat dan 18 meninggal dunia. Sementara 117 korban lainnya masih dalam pencarian dari total 243 orang dalam manifes.
Karena itu, kesaksian para penyintas tidak boleh dianggap sepele.
Bukan untuk langsung menyalahkan nakhoda.
Bukan pula untuk membuat kesimpulan sebelum investigasi selesai.
Tetapi untuk menjawab pertanyaan yang sangat penting:
Apa sebenarnya yang terjadi pada menit-menit terakhir sebelum KM Virgo Transport 8 terbalik?
Apakah alarm sudah dijalankan?
Apakah penumpang sudah mendapatkan instruksi evakuasi?
Bagaimana penggunaan sekoci dan alat keselamatan?
Dan bagaimana proses evakuasi berlangsung ketika kapal mulai miring dan akhirnya karam?
Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab secara terang.
Sebab bagi keluarga korban, ini bukan sekadar berita tentang sebuah kapal yang tenggelam.
Ini tentang ayah yang belum pulang. Tentang ibu yang masih menunggu. Tentang anak yang masih berharap orang tuanya kembali.
Setiap korban yang ditemukan di dalam bangkai kapal menjadi pengingat bahwa di balik angka statistik itu ada manusia yang malam itu sedang berusaha bertahan hidup.
Semoga seluruh korban yang masih dalam pencarian segera ditemukan.
Semoga penyebab sebenarnya dari tragedi KM Virgo Transport 8 dapat terungkap secara terang, agar tidak ada lagi keluarga yang harus mengalami duka yang sama.*

0 Komentar