oleh : Medi Iswandi
Bayangkan sebuah kota berhenti sejenak dari kesibukannya.
Puluhan ribu orang meninggalkan aktivitas masing-masing, lalu berkumpul dan duduk bersimpuh di atas tikar, di tengah kota, mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah. Di hadapan mereka tersaji hidangan yang dinikmati bersama. Tidak ada meja yang membedakan pejabat dan rakyat, tidak ada kursi khusus yang memisahkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Pernahkah Anda merasakan makan bersama belasan ribu orang dalam suasana seperti itu, ketika di hadapan satu dulang makanan, semua duduk sejajar, saling menyapa, saling bercanda dan untuk sesaat menyadari bahwa tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah? Hanya ada manusia, kebersamaan, dan sebuah kota yang sedang merayakan dirinya.
Orang Minang duduk bersama orang Jawa. Orang Sunda bercengkerama dengan orang Batak. Orang Bugis makan bersama masyarakat dari berbagai penjuru Nusantara.
Yang berbeda hanya asal-usul dan adat mereka, duduk bersama, satu tikar, satu hidangan, satu kebersamaan.
Itulah Makan Bajamba Multikultural Sawahlunto. Di balik kemeriahan yang kini menjadi salah satu identitas kota ini, ada sebuah cerita yang mungkin tidak banyak diketahui orang. Tradisi tersebut ternyata tidak lahir dari ide konsultan hebat atau sebuah rapat besar dengan konsep yang rumit, justru lahir dari celutukan sederhana, ironisnya, dari seseorang yang sedang kelaparan.
Pertengahan 2005.
Senin siang di Balai Kota Sawahlunto. Seperti biasa rapat pimpinan yang rutin setiap senin untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan. Rapat selalu dipimpin langsung oleh Wali Kota Sawahlunto, Amran Nur, dihadiri Wakil Walikota Fauzi Hasan, Sekretaris Daerah, Asisten dan Kepala OPD yang dieveluasi kinerjanya. Hadir juga selalu beberapa ASN muda yang sering diminta hadir oleh Pak Amran. Saya termasuk diantaranya, belajar dengan mengikuti langsung bagaimana para pemimpin kota mengambil keputusan dan mengevaluasi progres sebuah program.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Jam sudah melewati pukul 12.00.
Satu per satu peserta rapat mungkin mulai kehilangan konsentrasi, bukan karena pembahasan tidak menarik tetapi karena perut sudah mulai berbunyi.
Sebelum menutup rapat, Pak Amran tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan. “Perda tentang Hari Jadi Sawahlunto sudah disahkan DPRD. Hari Jadi kita ditetapkan tanggal 1 Desember. Biasanya, kalau hari jadi daerah, paling rapat paripurna di DPRD. Apa yang akan kita buat agar peringatannya lebih meriah?”
Ruangan mendadak hening.
Semua mulai berpikir, karena kalau hanya diam tidak menyampaikan ide pak Amran bisa saja menyuruh keluar menjemput kepala yang beliau bilang tertinggal kenapa tidak dibawa.
Apa yang bisa dilakukan untuk sebuah kota yang memiliki sejarah panjang, masyarakat yang beragam, dan tradisi yang kuat?
Di tengah keheningan itu, senior saya Uda Gusrial, tiba-tiba bersuara.
“Biasanya kalau ulang tahun, ya makan-makan Pak Wali.”
Sederhana. Bahkan terdengar seperti candaan karena dari tadi dia menggerutu kepada saya perutnya kelaparan. Tetapi Pak Amran justru menyambutnya dengan serius.
“Good idea!”
Saya langsung menoleh kepada Uda Gusrial.
berbisik kepadanya : Ide apa ini? Masa Hari Jadi Kota hanya makan-makan?
Saya belum tahu saat itu, bahwa kalimat yang mungkin bentuk spontan karena sedang kelaparan tersebut kelak akan melahirkan sebuah tradisi yang bertahan hingga puluhan tahun.
Pak Amran kemudian menjelaskan.
“Bagaimana kalau kita bikin makan-makan di tengah kota. Seluruh lapisan masyarakat dari desa, nagari dan kelurahan kita ajak makan bersama. Yang hadir harus berpakaian adat asal daerah masing-masing. Cara makannya juga sesuai adat masing-masing.”
Seketika, suasana rapat berubah.
Sebuah acara yang awalnya terdengar seperti makan siang biasa tiba-tiba menjadi gagasan tentang sebuah kota yang ingin mempertemukan seluruh warganya.
Tetapi ada satu orang yang tampaknya agak kaget dengan gagasan pak Amran tersebut.
Saya melihat Pak Sekda, Zohirin Sayuti, yang biasa kami panggil Pak In, mulai mengernyitkan dahi.
Saya tahu apa yang mungkin sedang beliau pikirkan.
Sebagai Sekretaris Daerah, Ketua Tim Anggaran dan orang yang cukup lama malang melintang di Bappeda, beliau tentu langsung menghitung dalam kepala: Sangat besar sekali menyediakan anggaran untuk makan belasan ribu orang.
Sepertinya Pak Amran membaca kegelisahan itu.
Beliau kemudian berkata, “Tenang Pak In. Nggak akan banyak kebutuhan anggarannya. Pak In nggak usah bingung. Sekarang kita salat dulu. Nanti kita lanjutkan pembahasannya sambil makan siang.”
Kalimat itu sederhana, justru di situlah filosofi awal Makan Bajamba mulai terlihat. Pemerintah tidak menyediakan makan untuk seluruh rakyat, hanya menyediakan tempat agar rakyat bisa makan bersama.
Seusai salat, sambil makan siang diskusi dilanjutkan.
Pak Amran menjelaskan konsepnya lebih jauh.
“Ini sebenarnya kita hanya memindahkan makan siang masyarakat dari rumah mereka ke tengah kota.” Kami semua mulai memahami.
Masyarakat membawa dan menikmati makanan mereka.
Pemerintah cukup menyediakan lokasi yang layak, menata tempat, mengatur acara, dan memastikan semuanya berjalan tertib.
Lalu Pak Amran mengatakan sesuatu yang justru menjadi tantangan terbesar. “Yang paling berat bukan anggarannya. Yang paling berat adalah meyakinkan masyarakat.”
Beliau kemudian menoleh kepada Pak In. “Saya rasa Pak In bisa mengondisikan ini.” Kening Pak In yang tadi berkerut berganti dengan senyum di bibirnya.
Untuk urusan berkomunikasi dengan masyarakat, memang bukan hal baru bagi Pak Zohirin. Selain pernah bertugas di Bappeda, beliau juga lama menjadi kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa. Hubungannya dengan tokoh masyarakat, tokoh adat, pemerintah desa dan KAN telah terbangun selama bertahun-tahun.
Maka dimulailah menggarap ide itu.
Bukan mendatangkan artis dan mencari hiburan mahal.
Tetapi membangun kepercayaan masyarakat.
Saya mendapat tugas merancang layout lokasi agar jalanan di pasar remaja layak dan terhormat menjadi tempat makan dalam bentuk prosesi adat.
Bang Halomoan memikirkan konsep dan rangkaian acara di bantu oleh Da Silo.
Sementara untuk sosialisasi kepada masyarakat, Pak Zohirin bergerak bersama Pak Datuak Mukhis, Pak Syafriwal dan Uda Gusrial ke seluruh Kerapatan Adat Nagari, Desa, Kelurahan, Tokoh Adat dan Tokoh Masyarakat.
Pak Amran memberikan mandat kepada Pak Zohirin untuk mengoordinasikan seluruh kepanitiaan.
Namun, ketika sebuah gagasan mulai menyentuh ruang publik, selalu ada kekhawatiran yang harus dijawab. Kali ini datang dari kawasan Pasar Remaja tempat lokasi acara.
Para pedagang khawatir kegiatan tersebut akan mengganggu aktivitas mereka.
Bagi mereka, pasar bukan sekadar tempat berkumpul.
Di sanalah dapur keluarga mereka bergantung.
Mereka mencari nafkah di sana, menjual barang, menunggu pembeli.
Dan tiba-tiba pemerintah ingin membawa ribuan orang dan akan mengganggu aktivitas mereka.
Kekhawatiran itu sangat masuk akal. Maka Pak Amran tidak cukup hanya mengeluarkan surat kepada masyarakat. Beliau bersama Wakil Wali Kota Fauzi Hasan turun langsung menemui masyarakat.
Menjelaskan bahwa gangguan itu hanya sebentar.
Tetapi di balik keramaian itu ada peluang. Ribuan orang yang datang berarti ribuan calon pembeli.
Kawasan yang biasanya hanya menjadi tempat perdagangan berubah menjadi pusat keramaian. Apa yang awalnya dianggap gangguan mungkin justru bisa membawa rezeki.
Perlahan-lahan masyarakat mulai percaya kemudian tumbuh dan hambatan berubah menjadi dukungan.
Prosesi event Makan Bajamba tidak dimulai pada tanggal 1 Desember namun Sehari sebelumnya yaitu di 30 November, ada sebuah pekerjaan yang tidak kalah penting dan berlangsung dalam suasana gotong royong.
Biasanya minimal dua ekor sapi disiapkan untuk dipotong. Menariknya, sapi tersebut tidak dibeli menggunakan dana APBD. tapi diperoleh melalui sumbangan dari perusahaan atau tokoh-tokoh masyarakat dan perantau yang ikut mendukung perayaan Hari Jadi Kota.
Prosesi pemotongan sapi itu pun bukan sekadar pekerjaan teknis. Wali Kota Amran Nur setiap tahun turut hadir menyaksikannya.
Setelah dipotong, daging sapi kemudian diolah dimasak menjadi gulai yang nantinya menjadi salah satu hidangan dalam setiap dulang jamba. Sebagian lainnya menjadi makanan yang dikemas dalam ribuan nasi bungkus untuk dibagikan kepada masyarakat umum.
Di sinilah tangan-tangan para ibu mulai mengambil peran besar.
Ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita menjadi bagian penting dalam proses memasak dan menyiapkan makanan. Dapur-dapur menjadi hidup. Daging diolah, bumbu diracik, nasi disiapkan dan ribuan makanan dibungkus untuk dibagikan.
Tidak ada kesan bahwa ini adalah pekerjaan pemerintah semata.
Perusahaan menyumbang, Tokoh masyarakat ikut membantu, Perantau berkontribusi
Ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita bekerja di dapur.
Aparatur mengatur pelaksanaan.
Masyarakat ikut mengambil bagian.
Semuanya bergotong royong untuk satu hari yang sama.
Justru di sinilah ruh Makan Bajamba sesungguhnya mulai terasa.
Sebelum ribuan orang duduk bersama pada tanggal 1 Desember, sehari sebelumnya sudah ada banyak tangan yang bekerja bersama tanpa banyak bicara.
yang menyumbang sapi, memotong, membersihkan, memasak, menyiapkan gulai, membungkus nasi dan menata tempat serta susunan acara.
Semuanya menuju satu tujuan: agar esok hari seluruh masyarakat bisa duduk bersama dan makan bersama.
Lalu tibalah tanggal 1 Desember 2005. Hari yang sebelumnya hanya ada dalam sebuah percakapan di ruang rapat akhirnya menjadi kenyataan. Masyarakat datang.
Dari desa, nagari dan kelurahan.
Mereka mengenakan pakaian adat masing-masing, membawa makanan, duduk bersimpuh.
Untuk pertama kalinya, ribuan orang makan bersama di tengah kota.
Jumlahnya lebih dari 6 ribu orang.
Enam ribu orang.
Enam ribu cerita.
Enam ribu kehidupan.
Tetapi hari itu mereka duduk dalam satu ruang yang sama.
Tidak ada yang bertanya siapa pejabat dan siapa rakyat.
Tidak ada yang sibuk menghitung perbedaan.
Mereka hanya makan.
Bersenda gurau.
Berbagi cerita dan makanan.
merayakan hari jadi kota mereka.
Saya membayangkan, mungkin saat itulah Sawahlunto menemukan sebuah cara baru untuk memperkenalkan dirinya kepada dunia.
Bukan melalui pidato atau seremoni.
Tetapi melalui kebersamaan.
Tetapi bagi Pak Amran, keberhasilan itu belum cukup.
Dalam rapat evaluasi setelah acara, beliau kembali melontarkan sebuah gagasan. “Tahun depan pada hari jadi ditanggal 1 Desember 2006 kita harus mendapatkan rekor MURI.”
Kali ini kami tidak lagi menganggapnya sebagai candaan.
Kami tahu, kalau Pak Amran sudah mengatakan sesuatu, berarti target itu harus di capai dengan berkualitas.
Benar. 1 Desember Tahun 2006, Makan Bajamba kembali digelar.
Kali ini skalanya jauh lebih besar.
Bukan hanya masyarakat Sawahlunto.
Perantau datang.
Wisatawan datang.
Tamu dari berbagai daerah berdatangan.
Wisatawan mancanegara ikut merasakan suasananya.
Tamu-tamu VIP dari pemerintah pusat pun hadir.
Jumlah peserta mencapai lebih dari 17 ribu orang.
Apa yang setahun sebelumnya bermula dari enam ribuan orang kini berubah menjadi sebuah peristiwa besar.
Rekor yang dahulu hanya sebuah gagasan akhirnya terwujud.
sesungguhnya, angka 17 ribu bukanlah pencapaian terbesarnya.
Karena sebuah tradisi yang mampu bertahan puluhan tahun jauh lebih sulit dibangun.
Tugas saya ditambah, tidak hanya mendesain layout kawasan jalanan pasar remaja agar layak, nyaman dan bisa menampung untuk puluhan ribu orang makan bersama, tapi juga harus mengatur akomodasi ribuan orang yang datang padahal di Sawahlunto hanya ada satu hotel melati dengan jumlah kamar 21 buah, ini pekerjaan gila, tapi penuh tantangan dan mengasyikan. Saya kemudian menemui banyak masyarakat pemilik rumah yang bagus bagus untuk mendadak dijadikan home stay dan semua tamu akhirnya mendapat akomodasi, mereka nyaman, masyarakat mendapat pendapatan baru.
Sampai saat ini, Makan Bajamba itu masih hidup, berkembang menjadi Makan Bajamba Multikultural. Di sinilah letak keistimewaan Sawahlunto. Makan Bajamba tidak lagi hanya menjadi perayaan masyarakat Minangkabau, tetapi telah berkembang menjadi ruang perjumpaan berbagai budaya yang hidup di kota ini.
Orang Minang, Jawa, Sunda, Batak, Bugis, dan berbagai Suku dan kelompok masyarakat lainnya datang membawa identitas dan tradisi masing-masing. Mereka tidak diminta meninggalkan asal-usulnya untuk menjadi bagian dari Sawahlunto. Justru keberagaman itulah yang ditampilkan, dirayakan, dan dipertemukan dalam satu ruang kebersamaan. Berbeda dalam budaya, tetapi bersatu dalam kebersamaan.
Sejak pelaksanaan 2006, Sebelum prosesi Makan Bajamba dimulai, masing-masing suku dan komunitas adat diberi ruang untuk mempersembahkan kekayaan budaya mereka. Kawasan Kota Tua Sawahlunto seakan berubah menjadi panggung besar tempat berbagai tradisi bertemu. Ada Hoyak Tabuik dan Gandang Tasa yang dibawa oleh masyarakat asal Pariaman yang hidup dan menetap di Sawahlunto. Ada Lukah Gilo, pertunjukan keroncong, kuda kepang, serta beragam kesenian dan permainan tradisional lainnya yang dibawa oleh masyarakat dari berbagai daerah asal mereka.
Setiap kelompok datang bukan hanya untuk menjadi peserta, tetapi juga membawa cerita tentang kampung halaman, identitas, dan warisan budaya yang mereka jaga di perantauan. Semua pertunjukan itu menjadi sebuah mozaik budaya yang memperlihatkan bahwa Sawahlunto bukan hanya kota yang dihuni oleh berbagai suku, tetapi juga kota yang mampu mempertemukan berbagai kebudayaan dalam suasana yang rukun dan penuh kegembiraan.
Barulah setelah seluruh pertunjukan budaya selesai, prosesi Makan Bajamba dimulai.
Suasananya berubah menjadi lebih khidmat. Para tetua adat membuka prosesi dengan pasambahan, menyampaikan petatah-petitih yang sarat makna tentang adat, penghormatan, persaudaraan, dan kebersamaan. Kata-kata yang terucap bukan sekadar pembuka sebuah acara, tetapi seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, antara warisan para leluhur dengan kehidupan masyarakat Sawahlunto hari ini.
Setelah pasambahan selesai, masyarakat kemudian duduk bersimpuh dan menikmati hidangan bersama. Pada saat itulah seluruh rangkaian budaya yang sebelumnya tampil dalam bentuk pertunjukan menemukan puncaknya: bukan lagi sekadar untuk ditonton, tetapi untuk dirasakan bersama.
Bagi wisatawan, seluruh rangkaian tersebut bukan sekadar tontonan. Mereka tidak hanya melihat sebuah pertunjukan budaya, tetapi menyaksikan bagaimana sebuah kota merawat keberagaman dalam kehidupan nyata. Dari bunyi Gandang Tasa, gerak Hoyak Tabuik, permainan Lukah Gilo, suara keroncong, reog hingga kuda kepang dan berbagai kesenian lainnya, kemudian ditutup dengan pasambahan dan prosesi makan bersama, semuanya menjadi sebuah pengalaman budaya yang utuh. Sawahlunto tidak hanya mempertontonkan kebudayaannya kepada wisatawan lebih dari itu mengajak mereka masuk dan merasakan sendiri bagaimana keberagaman itu hidup.
Inilah pelajaran paling penting dari kisah Makan Bajamba Sawahlunto:
Kota tidak selalu dibangun dengan beton.
Tapi dibangun dengan kepercayaan.
Tidak selalu dengan anggaran besar.
Hanya perlu gagasan sederhana.
Tidak selalu dengan seremoni megah.
Kadang dengan cara membuat rakyat duduk sejajar.
tidak selalu dengan pidato panjang.
Kadang cukup dengan mengajak orang makan bersama.
Sebab ketika orang duduk dalam satu lingkaran, jarak mulai menghilang.
Ketika orang berbagi makanan, rasa curiga mulai mencair.
Ketika orang bisa tertawa bersama, perbedaan tidak lagi terasa sebagai ancaman.
Iulah alasan mengapa Makan Bajamba Sawahlunto bertahan sampai saat ini.
Karena sejak awal bukan sekadar acara Hari Jadi.
Tapi cara sebuah kota mengatakan kepada warganya:
Di kota ini, kita boleh datang dari mana saja.
Dengan adat yang berbeda.
Berbicara dengan bahasa yang berbeda.
Memiliki cerita masa lalu yang berbeda.
Tetapi kita tetap bisa duduk bersama.
Dari sekian banyak hal yang bisa diwariskan sebuah kota kepada generasi berikutnya, tidak ada yang lebih indah daripada mengajarkan satu hal sederhana: bahwa kebersamaan, toleransi dan kesetaraan bukan sesuatu yang harus dikhotbahkan, namun harus dihidupkan.
Sawahlunto memilih menghidupkannya dengan cara yang sangat sederhana.
Dengan "Makan Bajamba".*

0 Komentar