Relevansi Filsafat Pendidian Islam dalam Menghadapi Tantangan Pendidikan di Era Digital

Oleh Yusriana Musriadi Musanif, S.Pd

Mahasiswa S2 PAI UM Sumatera Barat



Abstrak

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Kemudahan memperoleh informasi, penggunaan platform pembelajaran digital, serta hadirnya kecerdasan buatan memberikan peluang sekaligus tantangan bagi pendidikan Islam. Dalam kondisi tersebut, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan teknologi, tetapi juga membutuhkan landasan filosofis yang mampu mengarahkan proses pendidikan agar tetap berorientasi pada pembentukan manusia yang utuh. Artikel ini bertujuan membahas hakikat filsafat, filsafat pendidikan, dan filsafat pendidikan Islam serta menganalisis relevansinya dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital. Kajian ini menggunakan pendekatan kepustakaan dengan menelaah berbagai literatur yang berkaitan dengan filsafat pendidikan dan pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa filsafat pendidikan Islam memiliki posisi penting dalam memberikan arah terhadap tujuan, proses, dan nilai pendidikan. Kemajuan teknologi perlu ditempatkan sebagai sarana pendidikan, bukan sebagai tujuan akhir. Dalam perspektif pendidikan Islam, pengembangan intelektual harus berjalan seiring dengan pembentukan akhlak, adab, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual. Dengan demikian, relevansi filsafat pendidikan Islam pada era digital terletak pada kemampuannya memberikan orientasi nilai agar kemajuan teknologi tetap berada dalam kerangka pembentukan manusia yang berilmu, berakhlakulkarimah, dan bertanggung jawab.

Kata kunci: filsafat, filsafat pendidikan, pendidikan Islam, era digital, akhlakulkarimah.

Pendahuluan

Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Melalui pendidikan, manusia memperoleh pengetahuan, mengembangkan potensi, membentuk karakter diri, serta belajar memahami dirinya dan lingkungan sosialnya. Oleh sebab itu, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan persoalan bagaimana seseorang memperoleh pengetahuan di kelas, tetapi juga menyangkut pertanyaan yang lebih mendasar: manusia seperti apa yang hendak dibentuk melalui pendidikan tersebut?


Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan membutuhkan landasan filosofis. Filsafat dapat membantu manusia berpikir secara mendalam, sistematis, kritis, dan reflektif terhadap berbagai persoalan kehidupan. Dalam konteks pendidikan, filsafat berfungsi memberikan arah mengenai hakikat manusia, hakikat ilmu, tujuan pendidikan, nilai yang harus dikembangkan, serta bagaimana proses pendidikan tersebut seharusnya dilaksanakan.


Dalam pendidikan Islam, persoalan filosofis menjadi semakin penting karena pendidikan tidak hanya diarahkan pada pengembangan kemampuan intelektual saja. Pendidikan Islam harus pula memiliki dimensi moral dan spiritual yang kuat. Peserta didik dipandang sebagai manusia yang memiliki potensi jasmani (fisik), akal, hati, dan spiritual yang perlu dikembangkan secara seimbang. Dengan demikian, pendidikan Islam memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan akademik.


Tantangan tersebut semakin kompleks pada era digital. Perkembangan teknologi memberikan akses informasi yang sangat luas dan memungkinkan proses pembelajaran berlangsung tanpa batas ruang dan waktu. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan baru, seperti ketergantungan peserta didik terhadap teknologi, banjir informasi, penyebaran informasi yang tidak valid, berkurangnya interaksi sosial, serta persoalan etika dalam penggunaan teknologi dan kecerdasan buatan.


Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan penting: apakah kemajuan teknologi dengan sendirinya akan menghasilkan pendidikan yang lebih baik? Jawabannya tidak selalu demikian. Teknologi hanyalah alat. Kualitas pendidikan tetap ditentukan oleh tujuan, nilai, manusia itu sendiri, dan proses pendidikan yang mendasarinya. Di sinilah filsafat pendidikan Islam memiliki relevansi yang kuat dalam memberikan arah terhadap pemanfaatan teknologi agar tetap sesuai dengan tujuan pendidikan Islam.


Hakikat Filsafat

Secara sederhana, filsafat dapat dipahami sebagai usaha manusia untuk mencari dan memahami kebenaran secara mendalam melalui proses berpikir yang rasional, kritis, sistematis, dan reflektif. Filsafat tidak berhenti pada pertanyaan mengenai apa yang diketahui, tetapi juga mempertanyakan mengapa sesuatu dianggap benar, bagaimana kebenaran tersebut diperoleh, dan apa implikasinya bagi kehidupan manusia.


Filsafat memiliki karakteristik yang membedakannya dari cara berpikir biasa. Berpikir filosofis menuntut manusia untuk tidak menerima suatu pendapat begitu saja. Setiap gagasan perlu dikaji dasar pemikirannya, argumentasinya, serta konsekuensi yang mungkin ditimbulkannya.


Dalam konteks pendidikan, pola berpikir filosofis sangat diperlukan. Seorang pendidik tidak cukup hanya mengetahui metode mengajar, tetapi juga perlu memahami alasan mengapa suatu metode digunakan, tujuan yang hendak dicapai, karakter manusia yang dididik, serta nilai yang hendak ditanamkan.


Dengan demikian, filsafat dapat menjadi sarana untuk melakukan refleksi terhadap praktik pendidikan. Ketika pendidikan menghadapi persoalan baru, filsafat membantu manusia tidak hanya mencari solusi praktis, tetapi juga memahami akar persoalan tersebut.


Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan merupakan penerapan pemikiran filosofis dalam memahami persoalan pendidikan. Filsafat pendidikan berusaha menjawab berbagai pertanyaan mendasar mengenai pendidikan, seperti hakikat manusia, tujuan pendidikan, hakikat ilmu, nilai, hubungan pendidik dan peserta didik, serta bagaimana pendidikan seharusnya diselenggarakan.


Filsafat pendidikan memiliki peran penting karena pendidikan tidak pernah bebas dari nilai. Setiap sistem pendidikan pada dasarnya memiliki pandangan tertentu mengenai manusia dan kehidupannya. Ketika sebuah pendidikan menekankan prestasi akademik, misalnya, terdapat pandangan tertentu mengenai makna keberhasilan. Demikian pula ketika pendidikan menekankan karakter, terdapat pandangan bahwa manusia tidak cukup dinilai berdasarkan kemampuan intelektualnya.


Oleh karena itu, filsafat pendidikan memberikan dasar bagi pengembangan teori maupun praktik pendidikan. Ia membantu pendidik memahami bahwa kegiatan pembelajaran bukan hanya proses transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan manusia.


Pada titik ini, filsafat pendidikan mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata dapat diukur melalui nilai ujian. Kemampuan berpikir, karakter, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta kemampuan menggunakan pengetahuan secara bijaksana juga merupakan bagian penting dari hasil pendidikan.


Filsafat Pendidikan Islam

Filsafat pendidikan Islam merupakan pemikiran filosofis mengenai pendidikan yang berlandaskan pandangan hidup Islam. Landasan tersebut bersumber terutama dari Al-Qur'an dan Sunnah, serta dikembangkan melalui penggunaan akal dan pengalaman manusia selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.


Filsafat pendidikan Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki dimensi jasmani, intelektual, sosial, moral, dan spiritual. Karena itu, pendidikan harus mengembangkan berbagai dimensi tersebut secara seimbang.


Dalam perspektif Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting. Namun, ilmu tidak berdiri sendiri tanpa nilai. Ilmu harus diarahkan kepada kemaslahatan dan digunakan secara bertanggung jawab. Pengetahuan yang tinggi tetapi tidak disertai akhlak dapat menimbulkan persoalan apabila digunakan secara keliru.


Tujuan pendidikan Islam karena itu tidak sebatas mencetak manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk manusia yang beriman, berakhlak, memiliki tanggung jawab sosial, dan mampu menjalankan kehidupannya secara baik.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam memiliki orientasi yang holistik. Pendidikan tidak memisahkan secara tajam antara aspek intelektual dan moral. Keduanya harus berkembang secara bersama.


Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital

Era digital membawa perubahan besar terhadap cara manusia memperoleh dan memproduksi pengetahuan. Peserta didik saat ini dapat memperoleh informasi melalui mesin pencari, media sosial, platform pembelajaran, video digital, maupun teknologi kecerdasan buatan.


Perubahan tersebut memberikan peluang besar bagi pendidikan Islam. Guru dapat mengakses berbagai sumber pembelajaran, peserta didik dapat mempelajari materi dari berbagai tempat, dan lembaga pendidikan dapat mengembangkan pembelajaran yang lebih fleksibel.


Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan. Salah satunya adalah persoalan kemampuan memilah informasi. Tidak semua informasi yang tersedia di internet benar. Peserta didik dapat menemukan informasi yang keliru, bias, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai agama.


Tantangan lainnya adalah perubahan pola belajar. Kemudahan teknologi dapat membuat peserta didik terbiasa memperoleh jawaban secara instan. Jika tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, peserta didik dapat kehilangan kesempatan untuk melakukan proses berpikir yang mendalam.


Kehadiran kecerdasan buatan juga menimbulkan persoalan baru dalam pendidikan. AI dapat membantu mencari informasi, menyusun gagasan, memberikan penjelasan, dan mendukung proses pembelajaran. Namun, penggunaan AI secara tidak kritis dapat membuat peserta didik hanya menerima jawaban tanpa memahami proses berpikir di baliknya.


Persoalan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pendidikan pada era digital bukan sekadar persoalan kemampuan menguasai teknologi. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana manusia menggunakan teknologi secara bijaksana.


Relevansi Filsafat Pendidikan Islam

Filsafat pendidikan Islam memiliki relevansi yang kuat dalam menghadapi perubahan tersebut karena memberikan landasan nilai bagi penggunaan ilmu dan teknologi.


Pertama, filsafat pendidikan Islam membantu menegaskan kembali tujuan pendidikan. Teknologi tidak boleh menggeser tujuan utama pendidikan dari pembentukan manusia menjadi sekadar pencapaian kemampuan teknis. Teknologi harus digunakan untuk mendukung proses pembentukan manusia yang berilmu dan berakhlak.


Kedua, filsafat pendidikan Islam menempatkan ilmu dalam kerangka tanggung jawab. Pengetahuan bukan hanya sesuatu yang digunakan untuk mencapai kepentingan pribadi, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Prinsip tersebut relevan ketika peserta didik menggunakan teknologi digital dan kecerdasan buatan.


Ketiga, pendidikan Islam perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Peserta didik tidak cukup hanya mampu memperoleh informasi, tetapi juga harus mampu menilai kebenaran informasi tersebut. Dalam konteks ini, kemampuan berpikir filosofis dan kemampuan membaca secara kritis memiliki posisi penting.


Keempat, pendidikan Islam perlu memperkuat pendidikan akhlak dan adab. Di tengah derasnya arus informasi digital, peserta didik membutuhkan kemampuan untuk menentukan apa yang layak dikonsumsi, dibagikan, dan digunakan. Etika digital pada akhirnya merupakan bagian dari penerapan akhlak dalam kehidupan modern.


Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam tidak seharusnya dipandang sebagai kajian teoritis yang jauh dari realitas. Justru pada era perubahan teknologi yang sangat cepat, filsafat pendidikan Islam dibutuhkan untuk memberikan arah agar pendidikan tidak kehilangan orientasi kemanusiaan dan nilai-nilai keislamannya.


Analisis Kritis

Persoalan utama pendidikan di era digital sebenarnya bukan terletak pada teknologi, melainkan pada bagaimana manusia memosisikan teknologi. Teknologi dapat menjadi instrumen yang sangat bermanfaat apabila digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi persoalan apabila manusia kehilangan kemampuan untuk mengendalikan penggunaannya.


Dari perspektif filsafat pendidikan, hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak dapat menentukan tujuan pendidikan. Tujuan harus ditentukan berdasarkan pandangan mengenai manusia dan kehidupan. Dalam perspektif pendidikan Islam, manusia bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi makhluk yang memiliki tanggung jawab moral dan spiritual.


Misalnya, penggunaan kecerdasan buatan dalam menyelesaikan tugas akademik dapat memberikan manfaat apabila digunakan sebagai alat untuk membantu memahami materi. Namun, apabila peserta didik menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI, maka teknologi justru dapat menghambat tujuan pendidikan. Peserta didik mungkin memperoleh jawaban, tetapi belum tentu memperoleh pemahaman.


Di sinilah pentingnya kemampuan critical reading dan critical thinking. Peserta didik harus mampu membaca informasi secara kritis, mempertanyakan sumbernya, membandingkan berbagai pendapat, menemukan kelemahan argumentasi, dan menyusun kesimpulan berdasarkan pertimbangan yang rasional.


Dalam pendidikan Islam, kemampuan tersebut perlu dilengkapi dengan nilai akhlak dan adab. Artinya, pertanyaan bukan hanya apakah sesuatu boleh dilakukan secara teknologi, tetapi juga apakah sesuatu tersebut benar, bermanfaat, bertanggung jawab, dan sesuai dengan nilai Islam.


Dengan demikian, pendidikan Islam di era digital idealnya tidak menolak perkembangan teknologi, tetapi juga tidak menerimanya secara tanpa kritik. Sikap yang diperlukan adalah sikap terbuka sekaligus kritis. Teknologi diterima sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pendidikan, sementara arah dan penggunaannya tetap dikendalikan oleh nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran Islam.


Penutup

Filsafat memberikan landasan berpikir yang mendalam, kritis, sistematis, dan reflektif dalam memahami berbagai persoalan kehidupan. Dalam bidang pendidikan, filsafat membantu menjawab pertanyaan mengenai hakikat manusia, tujuan pendidikan, ilmu, nilai, dan proses pembentukan manusia.

Filsafat pendidikan Islam memberikan perspektif yang lebih khusus dengan menjadikan ajaran Islam sebagai landasan dalam memahami tujuan dan proses pendidikan. Pendidikan Islam tidak hanya bertujuan mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk manusia yang beriman, berakhlak, beradab, dan bertanggung jawab.

Di era digital, relevansi filsafat pendidikan Islam semakin penting. Kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, memberikan peluang besar bagi pengembangan pendidikan, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan terhadap kemandirian berpikir, etika, dan karakter peserta didik.

Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu mengambil posisi yang proporsional terhadap perkembangan teknologi. Teknologi tidak perlu ditolak, tetapi juga tidak boleh ditempatkan sebagai tujuan pendidikan. Teknologi harus menjadi sarana untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih mendasar, yaitu membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, kritis, bertanggung jawab, dan mampu memberikan manfaat bagi kehidupan.

Pada akhirnya, kemajuan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi oleh seberapa bijaksana manusia menggunakannya. Di sinilah filsafat pendidikan Islam menemukan relevansinya sebagai landasan untuk memastikan bahwa kemajuan ilmu dan teknologi tetap berjalan dalam arah yang memuliakan manusia.

Daftar Pustaka

Al-Attas, S. M. N. (1984). The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education. Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization.

Langgulung, Hasan. (1986). Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan. Jakarta: Pustaka Al-Husna.

Nata, Abuddin. (2018). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Prenadamedia Group.

Ramayulis. (2015). Filsafat Pendidikan Islam: Analisis Filosofis Sistem Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Tafsir, Ahmad. (2012). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Zuhairini, dkk. (2015). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.


Posting Komentar

0 Komentar