JAKARTA, kiprahkita.com –Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Juda Agung sebagai Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, menggantikan Thomas Djiwandono. Pergantian jabatan ini merupakan bagian dari rotasi strategis antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI).
Sebelumnya, Juda Agung menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Ia mengundurkan diri dari posisinya di BI pada pertengahan Januari 2026 sebelum dilantik menjadi Wakil Menteri Keuangan.
![]() |
Sementara itu, Thomas Djiwandono yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, kini dipercaya mengisi posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk masa jabatan 2026–2031. Thomas telah melalui proses uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR RI sebelum resmi dilantik.
Pergantian posisi ini dinilai sebagai langkah pemerintah untuk memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter, terutama di tengah tantangan perekonomian global dan kebutuhan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Juda Agung menyampaikan bahwa pengalamannya di Bank Indonesia akan menjadi modal penting dalam mendukung kebijakan fiskal pemerintah. Ia berharap koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia dapat berjalan semakin efektif.
Dengan rotasi ini, pemerintah berharap kesinambungan kebijakan ekonomi tetap terjaga serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Reshuffle Kabinet Merah Putih sore itu memang digelar nyaris tanpa dentuman. Tanpa drama, tanpa kebocoran, tanpa daftar panjang nama. Istana memilih diksi paling aman: mengisi jabatan kosong. Bagi sebagian orang, ini terdengar administratif. Namun dalam politik pemerintahan, justru di sanalah sering tersembunyi strategi yang paling disengaja.
Masuknya Juda Agung sebagai Wakil Menteri Keuangan patut dibaca sebagai sinyal konsistensi, bukan sekadar pengisian kursi. Presiden Prabowo kembali menegaskan pilihannya pada pendekatan teknokratis di sektor fiskal—sektor yang paling sensitif terhadap kepercayaan pasar, stabilitas makro, dan persepsi investor. Latar belakang Juda Agung dari Bank Indonesia adalah pesan ketenangan: negara ingin bergerak dengan kepala dingin, disiplin anggaran, dan kehati-hatian yang terukur.
Dalam konteks ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak tergoda untuk bereaksi berlebihan. Justru sebaliknya, negara memilih tampil rasional, terprediksi, dan stabil. Bagi pasar dan pelaku usaha, stabilitas semacam ini bukan kelemahan, melainkan fondasi.
Memang, reshuffle ini tidak dimaksudkan sebagai koreksi besar-besaran. Ia bukan evaluasi total, bukan pula perombakan politis. Namun di situlah pesan pentingnya: Presiden tampaknya sedang menjaga ritme. Tidak semua perubahan harus bersuara keras; sebagian justru bekerja dalam senyap, memastikan roda pemerintahan tetap berputar tanpa guncangan yang tidak perlu.
Pernyataan Menteri Sekretaris Negara bahwa presiden masih membuka kemungkinan perombakan lebih luas dapat dibaca sebagai sikap terbuka, bukan penundaan semata. Dalam sistem politik koalisi, keseimbangan bukan sekadar kompromi, tetapi prasyarat agar kebijakan dapat dijalankan secara berkelanjutan. Stabilitas politik memberi ruang bagi kebijakan ekonomi untuk bekerja.
Pelantikan ini juga berlangsung bersamaan dengan pengangkatan Hakim Mahkamah Konstitusi. Dua agenda penting dalam satu panggung yang sama, menandakan kesinambungan antara tata kelola ekonomi dan penegakan konstitusi. Pesannya jelas: pemerintahan berjalan, institusi bekerja, dan negara hadir secara utuh.
Kabinet Merah Putih hari ini mungkin bukan kabinet yang paling gemuruh, tetapi ia sedang membangun citra ketekunan. Tantangan ekonomi, sosial, dan fiskal memang nyata dan menekan. Namun respons terhadap tantangan itu tidak selalu harus berupa guncangan politik. Ada kalanya, ketahanan justru dibangun lewat konsistensi, koordinasi, dan penguatan institusi dari dalam.
Reshuffle sore itu pada akhirnya bukan tentang siapa yang dilantik, melainkan tentang bagaimana negara memilih bergerak. Apakah dengan langkah besar yang tergesa, atau dengan langkah kecil yang terukur. Presiden tampaknya memilih yang kedua—bertaruh pada stabilitas hari ini untuk menyiapkan manuver yang lebih matang esok hari.
Dalam politik, tidak semua perubahan harus diumumkan dengan teriakan. Sebagian cukup dibuktikan dengan kerja. Bloomberg Technoz/DH*

0 Komentar