Mengapa Banjir Bandang dan Longsor Dahsyat Melanda Sumatera ?

PADANG PANJANG, kiprahkita.com Pada periode akhir tahun 2025 hingga awal 2026, wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda rangkaian bencana alam dahsyat berupa banjir bandang dan tanah longsor. 

Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu bencana paling mematikan dalam dua dekade terakhir di Indonesia, dengan jumlah korban jiwa yang sangat besar mencapai lebih dari 1.250 orang dan ratusan lainnya dinyatakan hilang. Fenomena ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan akibat dari kombinasi ekstremnya anomali cuaca serta rapuhnya kondisi ekologis di kawasan hulu pegunungan.



Secara teknis, pemicu utama bencana ini adalah kemunculan Siklon Tropis Senyar di sekitar Selat Malaka. Siklon ini menciptakan sistem tekanan rendah yang menarik uap air dalam jumlah masif dari Samudra Hindia, sehingga menyebabkan curah hujan ekstrem yang melampaui angka 350 mm per hari di sepanjang gugusan Bukit Barisan. Intensitas hujan yang sedemikian tinggi ini jauh melampaui ambang batas normal daya tampung lingkungan.

Namun, faktor meteorologi tersebut diperparah oleh kondisi daratan yang kritis. Tingginya tingkat deforestasi dan alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit serta pertambangan ilegal di wilayah hulu menyebabkan tanah kehilangan kemampuan adsorpsinya . 

Tanpa tutupan hutan yang memadai, air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung menjadi aliran permukaan (run-off) yang mengikis tebing-tebing curam. 

Material longsoran berupa lumpur, bebatuan besar, dan batang pohon yang tumbang kemudian menyumbat aliran sungai di lembah-lembah sempit, menciptakan apa yang disebut sebagai "bendung alam". 

Ketika volume air terus meningkat dan tekanan mencapai titik puncak, bendung alam ini jebol secara mendadak. Akibatnya, gelombang air bah yang membawa jutaan meter kubik material padat menerjang pemukiman di daerah hilir dengan kecepatan tinggi, menghancurkan lebih dari 12.000 bangunan dan memutus akses transportasi utama di sepanjang lintas Sumatera.

Tragedi memilukan di Sumatera ini menjadi peringatan keras bagi umat manusia bahwa krisis iklim bukanlah ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang terjadi. 

Kehancuran infrastruktur dan hilangnya ribuan nyawa membuktikan bahwa pendekatan pembangunan yang hanya berfokus pada fisik tanpa mempedulikan kelestarian ekosistem hulu adalah sebuah kesalahan fatal. 

Diperlukan evaluasi total terhadap tata ruang wilayah pegunungan dan pemulihan hutan secara masif. Tanpa adanya keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan pelestarian alam, fenomena serupa akan terus mengancam keselamatan warga dan menjadi siklus bencana yang berkepanjangan di masa depan.

Ditulis oleh Dea Alta Funisa

Siswa MTsN PP Kelas 9H


Baca Juga

MUSPIM II PWM Sumbar Teguhkan Komitmen Kepemimpinan dan Program Persyarikatan 2026 | http://www.kiprahkita.com/2026/02/muspim-ii-pwm-sumbar-teguhkan-komitmen.html

Posting Komentar

0 Komentar