PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Sekolah berwawasan lingkungan kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Di tengah tantangan perubahan iklim dan tingginya risiko bencana alam di Indonesia, sekolah dituntut menjadi garda depan edukasi dan praktik kepedulian lingkungan bagi masyarakat.
![]() |
| Dr. Suhardin, S. Ag., M. Pd. (Dosen UIC Jakarta) |
Sebuah penelitian yang dilakukan di sejumlah sekolah Muhammadiyah di Kecamatan Leuwiliang, Leuwisadeng, dan Pamijahan, Kabupaten Bogor, mengungkapkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memegang peran kunci dalam keberhasilan pengembangan sekolah berwawasan lingkungan.
Penelitian tersebut menemukan bahwa kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan asertif dan efektif mampu membuka ruang inovasi yang lebih luas bagi guru dan seluruh sivitas sekolah. Sebaliknya, sekolah yang dipimpin dengan gaya kepemimpinan dominatif cenderung mengalami stagnasi inovasi, termasuk dalam program-program lingkungan.
“Sekolah berwawasan lingkungan hanya bisa tumbuh jika semua warga sekolah diberi ruang untuk berkreasi dan berinovasi. Kepemimpinan yang terlalu mendominasi justru menghambat potensi tersebut,” ungkap peneliti dalam temuannya.
Lingkungan sebagai Ekosistem Sekolah
Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa pengembangan sekolah berwawasan lingkungan tidak sekadar menghadirkan taman, kebun, atau program kebersihan. Lebih dari itu, sekolah didorong untuk bertransformasi dari lingkungan buatan (protection environment) menjadi ekosistem alami (natural environment) yang hidup melalui gotong royong seluruh warga sekolah di bawah komando kepala sekolah.
Kepala sekolah yang mengedepankan kebersamaan, nilai kebaikan, dan keteladanan dinilai mampu meninggalkan legacy jangka panjang berupa budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan. Sebaliknya, kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan pribadi, karier, dan formalitas struktural dinilai gagal memobilisasi misi besar tersebut secara nyata.
Sejalan dengan Penelitian Sebelumnya
Hasil penelitian ini sejalan dengan sejumlah riset terdahulu. Fawaid dan Mubah (2025) menemukan bahwa kepemimpinan asertif mampu menciptakan budaya kerja positif di lingkungan sekolah. Ratana dan Kantjana (2025) juga menegaskan peran komunikasi asertif dalam meningkatkan produktivitas dan kinerja organisasi.
Sementara itu, penelitian Kuddi dan Hidayat (2022) di Sekolah Asrama Taruna Papua menunjukkan bahwa kepemimpinan delegatif—yang juga merupakan bentuk kepemimpinan asertif—berpengaruh positif terhadap inovasi pembelajaran dan manajemen kelas guru.
Temuan Baru: Lingkungan sebagai Fokus Inovasi
Yang membedakan penelitian ini dengan studi sebelumnya adalah fokusnya pada inovasi pengembangan sekolah berwawasan lingkungan. Temuan menunjukkan bahwa guru dan warga sekolah lebih kreatif dan berani berinovasi ketika dipimpin oleh kepala sekolah yang asertif, terbuka, dan memberi kepercayaan.
Peneliti menyimpulkan bahwa kepemimpinan asertif merupakan syarat penting dalam membangun sekolah berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Inovasi tidak lahir dari perintah semata, tetapi dari kepercayaan, kolaborasi, dan ruang kebebasan yang sehat di lingkungan sekolah. Suhardin alumni KMM Kauman Muhammadiyah PP*

0 Komentar