Pesiar Lebaran: Ikan Larangan Lubuk Landur, Terus Diminati

PASAMAN BARAT, kiprahkita.com Objek wisata budaya dan religi legendaris masih ingatkah? Ikan Larangan di Lubuak Landur, Kecamatan Pasaman, Pasaman Barat, masih saja dijadikan destinasi wisata primadona, seperti saat pesiar liburan Idul Fitri 1447/2026 ini.


Dipadati Pengunjung

Pengamatan lapangan hingga Rabu (25/3) sore kemarin diketahui, ribuan pengunjung pada setiap harinya terus datang sekaligus memadati objek wisata alam dan budaya itu. Selain melihat ikan larangan, pengunjung menikmati perpaduan kesegaran alam dan kentalnya nilai religius, dengan surau tuanya.


Yang mengasikkan lagi, Lubuk Landur juga bisa dijadikan tempat untuk permandian bagi warga yang mengunjungi objek wisata itu. Di pinggir sungai Lubuk Landur, juga berjejer kuliner dan bahan makanan untuk ikan larangan.


Herman, salah seorang pengunjung, mengakui, antusiasme masyarakat mendatangi kawasan wisata Lubuk Landur, memang tidak bisa diketahui berapa jumlah dan asal usul mereka. Mereka menikmati pemandangan ikan dengan jumlah banyak.


Semuanya, ulasnya, sama menikmati uniknya objek wisata alam dan budaya di kawasan Lubuk Landur, Kecamatan Pasaman, Pasaman Barat. Lelah melihat sejumlah ikan larangan, pengunjung juga bisa melaksanakan ibadah sholat Zuhur dan Ashar di surau khas Lubuk Landur.


Yang memadati Lubuk Landur, kata Herman lagi, bukan saja dari berbagai kecamatan se Pasaman Barat, tapi termasuk dari luar kabupaten. Dalam suasana lebaran idul fitri tahun ini, wisatawan Lubuk Landur, juga para perantau dari berbagai kota dan provinsi di Indonesia.


Bagi keluarganya, ulas Herman, berkunjung ke Lubuak Landur telah menjadi tradisi tahunan yang wajib dilakukan. Setiap liburan hari raya, rasanya tidak sempurna bagi diri bersama keluarganya, jika tidak mengunjungi objek wisata alam sekaligus budaya Lubuk Landur.


“Menghabiskan waktu sore bersama keluarga dengan mandi dan bermain bersama ikan larangan memberikan kesenangan tersendiri bagi kami. Meski setiap tahun kami menyempatkan diri ke sini, rasanya tidak pernah ada kata bosan,” kata Herman mengakui.


Aldo, pemuda setempat yang turut membantu penertiban parkir di Jorong Lubuk Landur. Ia menyebutkan bahwa faktor aksesibilitas yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat menjadi magnet utama bagi wisatawan. 


Sejarah Singkat Lubuk Landur di Pasaman Barat dikenal oleh masyarakat setempat sebagai kawasan sungai yang memiliki nilai adat dan kepercayaan yang kuat. Salah satu hal yang paling sering diceritakan adalah larangan untuk menangkap atau memakan ikan yang hidup di lubuk tersebut. 


Larangan ini bukan sekadar aturan biasa, tetapi sudah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun yang dihormati oleh warga sekitar.


Menurut cerita rakyat, lubuk tersebut dipercaya sebagai tempat yang “dijaga” oleh makhluk halus atau memiliki kekuatan gaib. Ikan-ikan yang hidup di sana disebut sebagai “ikan larangan”, yang tidak boleh diganggu sembarangan. Konon, orang yang melanggar larangan ini akan mengalami hal-hal buruk, seperti sakit, kecelakaan, atau berbagai bentuk kesialan lainnya.


Di balik cerita mistis itu, sebenarnya terdapat makna yang lebih dalam. Larangan ini berfungsi sebagai bentuk kearifan lokal untuk menjaga kelestarian alam. Dengan tidak menangkap ikan secara bebas, populasi ikan tetap terjaga dan ekosistem sungai tetap seimbang. Ini menunjukkan bahwa masyarakat dahulu sudah memiliki cara tersendiri untuk melindungi lingkungan.


Selain itu, dalam beberapa kesempatan tertentu dulunya, seperti acara adat, ikan dari lubuk tersebut bisa saja diambil dengan aturan khusus. Hanya saja pinpinan adat di sana yang bisa menangkap ikan itu sudah wafat. Beliau terlupa mewariskan cara pembebasan ikan tersebut sebelum ditangkap dan dikonsumsi. Hal ini menandakan bahwa larangan tersebut tidak bersifat mutlak dulunya, melainkan diatur agar pemanfaatannya tetap terkendali dan tidak merusak alam. Tradisi ini juga memperkuat nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap adat.


Secara keseluruhan, larangan memakan ikan di Lubuk Landur merupakan perpaduan antara kepercayaan tradisional dan upaya konservasi lingkungan. Meskipun tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan ikan tersebut berbahaya, aturan adat ini tetap dijaga karena memberikan manfaat nyata bagi kelestarian alam dan kehidupan masyarakat sekitar.


Ikan yang hanyut konon kabarnya bisa ditangkap dan dikonsumsi. Tentu hal ini akibat lokasi ikan bukan dalam pengawasan adat lagi. Masyarakat di hilir sungai tentu tetap bisa menangkap dan mengonsumsi ikan tersebut. Namun yang di lokasi surau tak ada yang berani menangkap dan mengonsumsinya. Bila penasaran dengan cerita ini bisa kamu tanya kepada masyarakat setempat. (gmz)*

Baca Juga

http://www.kiprahkita.com/2026/03/persiapan-kembali-ke-sekolah-pasca.html

Posting Komentar

0 Komentar