PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Kebiasaan adalah tindakan yang dilakukan berulang-ulang hingga menjadi bagian dari diri seseorang. Ada yang lebih suka chat daripada te;eponan. Mengapa Seseorang Lebih Suka Dichat daripada Ditelepon?
Kebiasaan lebih suka dichat daripada ditelepon tidak melulu berkaitan dengan hal-hal praktis seperti demi hemat pulsa atau agar bisa membalas sambil melakukan hal lain, tetapi bagian dari kecenderungan psikologis tertentu seseorang.
![]() |
| Seseorang Lebih Suka Dichat daripada Ditelepon? |
Bagi sebagian orang, menelepon adalah bagian rutin dari aktivitas sehari-hari. Namun, bagi sebagian lainnya, tugas sederhana ini justru bisa memicu kecemasan yang berlebihan bagi mentalnya. Ada orang mudah tersinggung dan mudah panik. Jika kita termasuk dalam kelompok kedua, psikologi memiliki sejumlah penjelasan yang menarik untuk disimak.
Keengganan kita untuk menekan tombol panggilan dan berbicara langsung di telepon dengan seseorang ternyata dapat berkaitan dengan karakter atau ciri kepribadian seseorang. Dalam pembahasan yang dilansir dari The Expert Editor, kita akan mengulas tiga karakter yang kerap dimiliki oleh seseorang yang lebih suka chat daripada telepon. Semua pembahasan didasarkan pada wawasan psikologis yang relevan dan bisa jadi dapat membantu kita memahami diri sendiri dengan lebih objektif.
Orang dengan ciri kepribadian introvert misalnya, cenderung memproses informasi dan emosi di dalam pikirannya terlebih dahulu sebelum berbicara atau bertindak. Ketika ada panggilan telepon yang datang tiba-tiba, situasi itu menuntut jawaban cepat tanpa jeda untuk berpikir. Panik dong.
Bagi introvert, kondisi seperti ini bisa terasa melelahkan secara mental karena mereka dipaksa bereaksi seketika, bukan melalui proses refleksi yang biasanya mereka lakukan. Introvert memiliki preferensi komunikasi yang berbeda dibandingkan kebanyakan orang biasa.
Carl Gustav Jung, psikiater dan psikolog asal Swiss, menjelaskan bahwa introvert bukan sekadar pribadi yang pendiam atau pemalu, melainkan individu yang lebih berfokus pada dunia batinnya daripada rangsangan eksternalnya. Karena kecenderungan ini, interaksi yang menuntut respons spontan seperti panggilan telepon akan terasa melelahkan dan memicu kecemasan bagi mereka.
Tanpa waktu untuk menyusun kata dan mempertimbangkan jawaban, kita yang introvert harus berpikir serta bereaksi seketika, sesuatu yang tentu tidak akan terasa nyaman bagi yang terbiasa merenung sebelum berbicara. Apalagi bila berhubungan dengan penambahan pekerjaan. Introvert cendrung takut menolak hingga mengangkat telepon menjadi beban mental.
Jung menggambarkan bahwa pertemuan dua kepribadian seperti dua zat kimia yang bereaksi. Ketika dua zat bertemu dan bereaksi, keduanya tidak lagi sama seperti sebelumnya karena saling memengaruhi.
Bagi introvert, proses saling memengaruhi ini bisa terasa lebih kuat dan menguras energinya. Karena mereka cenderung memproses pengalaman secara internal, interaksi mendadak bisa berdampak lebih besar dibandingkan percakapan via chat yang sudah diperkirakan sebelumnya. Chat dalam bahasa Minangnya bisa diinokmanungan.
Memiliki Tingkat Empati yang Tinggi
Ciri kepribadian dengan empati tinggi terlihat dari kepekaan membaca perubahan emosi orang lain, termasuk melalui ekspresi dan bahasa tubuh. Orang dengan empati tinggi sangat peka terhadap perubahan emosi orang lain. Biasanya, kepekaan itu akan terbantu oleh isyarat nonverbal seperti ekspresi wajah, kontak mata, gestur, atau bahasa tubuh.
Namun, dalam percakapan telepon, seluruh isyarat visual tersebut tidak terlihat dan yang tersisa hanya suara dan intonasi. Akibatnya, kita yang sangat empatik akan merasa kesulitan memastikan apakah lawan bicaranya sedang sedih, marah, kecewa, atau baik-baik saja. Bahkan susah memutuskan boleh ditolak atau tidak ya?
Karena terbiasa membaca emosi secara utuh, keterbatasan informasi ini menimbulkan ketidakpastian. Ketidakpastian itulah yang kemudian bisa memicu rasa cemas atau tidak nyaman saat menelepon.
Psikolog Daniel Goleman menyatakan bahwa empati merupakan keterampilan dasar yang menjadi fondasi dari berbagai kompetensi sosial penting dalam dunia kerja. Namun, meskipun demikian, dalam konteks percakapan telepon, kepekaan yang tinggi justru bisa terasa membebani. Kekhawatiran terhadap reaksi lawan bicara dapat membuatmu terlalu banyak memikirkan setiap kata yang akan diucapkan, hingga akhirnya merasa lelah secara emosional.
Jika kita merasa enggan melakukan panggilan telepon karena sangat sadar akan dinamika emosi yang terlibat, hal tersebut bisa menjadi tanda tingkat empati yang tinggi. Namun, perlu diingat bahwa walaupun membuat situasi tertentu terasa lebih sulit, empati tetap merupakan kelebihan yang bernilai besar.
Ciri kepribadian perfeksionis juga sering ditandai dengan adanya dorongan kuat untuk memenuhi standar yang sangat tinggi dan menghindari kesalahan sekecil apa pun.
Jika sering merasa harus memenuhi standar yang sangat tinggi dan takut melakukan kesalahan sekecil apa pun, kemungkinan Anda memiliki kecenderungan perfeksionis. Hal ini kerap membuat panggilan telepon terasa menegangkan karena ada banyak kemungkinan untuk salah ucap, salah paham, atau tiba-tiba kehilangan kata-kata. Tanpa isyarat visual, kamu juga tidak bisa membaca ekspresi lawan bicara untuk memastikan semuanya berjalan baik.
Albert Ellis, pengembang rational emotive behavior therapy, menekankan bahwa cinta bukan soal selalu melakukan hal dengan benar, tetapi tentang tetap bertahan dan terus berusaha meskipun ada hambatan. Prinsip yang sama berlaku dalam bertelepon. Tindakan itu tidak harus berjalan sempurna tanpa ada salah ucap atau jeda canggung di antaranya. Hal yang penting adalah tetap melakukannya walau ada rasa takut membuat kesalahan.
Memang tidak mudah bagi perfeksionis menerima bahwa segala sesuatu tidak harus sempurna. Namun, kesalahan adalah bagian alami dari proses belajar dan bertumbuh. Jadi, jika selama ini menghindari telepon karena ingin semuanya berjalan sempurna, cobalah memberi diri sendiri sedikit ruang untuk tidak selalu sempurna.
Telepon juga identik dengan pekerjaan penting. Seseorang malas mengangkat telepon karena pengalaman yang kurang baik. Seseorang menelepon biasanya karena kepepet. Butuh bantuan orang lain. Butuh utangan uang. Butuh bantuan. Maka situasi itu membuat seseorang enggan mengangkat telepon.
Selain itu bagi seorang pekerja menelepon butuh filter. Ada penelepon yang menelepon dalam jangka waktu lama. Kita segan mematikan hingga menimbulkan waktu yang terbuang percuma. Jawaban penolakan di telepon juga membuat kita yang introvert cemas. Artinya takut menolak dan ditolak.*
Baca Juga
http://www.kiprahkita.com/2026/05/kepala-kantor-hadiri-pelepasan-siswa_01897418137.html

0 Komentar