YOGYAARAT, kiprahkita.com –Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkenalkan konsep agrivoltaic, yakni sistem yang mengintegrasikan panel surya dengan lahan pertanian sebagai upaya mendukung pertanian cerdas, efisiensi pemanfaatan lahan, serta ketahanan pangan dan energi di Indonesia.
Inovasi tersebut diperkenalkan dalam Seminar Internasional bertajuk Smart Agrivoltaic Nusantara: Membangun Kedaulatan Pangan, Energi, dan Air Berbasis Teknologi Hijau dari Desa untuk Indonesia yang digelar di Fakultas Teknik UGM.
Kepala Laboratorium Energi Terbarukan UGM, Ahmad Agus Setiawan, mengatakan pengembangan teknologi agrivoltaic menjadi salah satu solusi menghadapi berbagai tantangan sektor pertanian, mulai dari rendahnya produktivitas lahan, perubahan iklim, hingga ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino.
Menurutnya, sistem ini memanfaatkan panel surya yang dipasang di atas lahan pertanian sehingga produksi energi dan aktivitas budidaya dapat berlangsung secara bersamaan tanpa mengurangi fungsi lahan.
Saat ini, teknologi tersebut telah diterapkan di Desa Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, dan dikelola langsung oleh masyarakat bersama para petani setempat.
UGM juga berencana memperluas penerapan teknologi ini melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa akan membawa paket teknologi yang menggabungkan panel surya sebagai sumber energi dengan layanan internet satelit untuk mendukung aktivitas masyarakat di daerah terpencil.
Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, menjelaskan bahwa sistem pertanian cerdas yang dikembangkan bertumpu pada tiga pilar utama, yakni sistem informasi manajemen, pertanian presisi, serta optimalisasi berbasis otomasi dan robotik.
Melalui teknologi tersebut, petani dapat memperoleh data kondisi lahan secara real-time, termasuk kebutuhan air dan unsur hara tanaman. Informasi yang dihasilkan sensor memungkinkan pemberian pupuk dilakukan secara lebih tepat sasaran sehingga penggunaan input pertanian menjadi lebih efisien.
Dalam pengembangannya, UGM juga mengintegrasikan penggunaan drone pemetaan, drone penyemprot, sensor cuaca, serta sensor tanah portabel untuk membantu pemantauan kondisi tanaman di lahan terbuka yang memiliki tantangan cuaca lebih kompleks dibandingkan pertanian di dalam rumah kaca.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Solar Research Institute (SRI) Malaysia, Prof. Nofri Yenita Dahlan, memaparkan pengalaman penerapan agrivoltaic melalui pembangkit listrik tenaga surya skala besar yang berhasil menekan konsumsi listrik sekaligus mendukung kegiatan pertanian.
Menurutnya, tanaman yang dibudidayakan di bawah panel surya dapat membantu menjaga kondisi tanah, sementara energi listrik yang dihasilkan panel dimanfaatkan untuk mengoperasikan berbagai teknologi pendukung pertanian modern, termasuk sistem pengendali lingkungan di rumah kaca.
Sementara itu, Direktur Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Dr. Rustamadji, berharap teknologi agrivoltaic dapat dibawa mahasiswa melalui program KKN ke berbagai daerah di Indonesia.
Ia menekankan bahwa penerapan teknologi tepat guna tidak hanya berfokus pada penyediaan perangkat, tetapi juga harus disertai dengan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan ekosistem yang mendukung agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Melalui pengembangan agrivoltaic, UGM berharap tercipta sinergi antara sektor pertanian, energi terbarukan, dan teknologi digital untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendorong pembangunan desa yang lebih berkelanjutan.*

0 Komentar