TANAH DATAR, kiprahkita.com –Setidaknya sebulan sekali, saya menyempatkan diri ke sini, ke pasar Pitalah. Jangan membayangkan sebuah pasar yang modern, justru ini pasar tradisonal dalam arti yang sebenarnya. Walaupun kondisinya sederhana, tapi secara umum pasarnya cukup bersih, Tak ada bau sampah yang menyengat. Pasar yang dikelola anak nagari ini sepertinya dikelola dengan cukup baik.
Suasananya ramai di setiap hari balainya yaitu hari Minggu. Orang-orang berdesakan di lorong lorongnya. Pelataran depan pasar penuh mobil dan motor yang kadang parkir semaunya sebelum diurus kang parkir. Bahkan kadang saking ramainya, ada yang sampai mengambil sedikit tepi jalan besar, sehingga kendaraan yang melintas terpaksa mengurangi kecepatan.
Pasar Pitalah memang begitu. Tak terlalu luas tapi punya magnet tersendiri yang membuat orang datang berkunjung atau singgah sebentar dari berbagai arah. Bangunan dan kiosnya didominasi bangunan kayu, yang sebagian saya yakin sudah berumur puluhan bahkan mungkin ada yang hampir 100 tahun.
Barangkali dari deretan kios kios itu masih ada kios yang sama yang dikunjungi Muhamad Radjab, seorang jurnalis nasional penulis buku Perang Padri, ketika dibawa ayahnya ke Pasar Pitalah dari kampungnya di Sumpu di momen lebaran tahun 1920an dulu, sebagaimana ditulis dalam bukunya “Masa Ketjil di Kampung”.
Bangunan-bangunan tua itu seperti menyimpan suara dari puluhan tahun lalu. Suara pedagang menawarkan dagangan, pembeli menawar harga, bunyi ‘karisiak’ dilipat membungkus pinyaram atau lepat, bunyi pisau memotong daging, dan sesekali suara anak kecil yang merengek minta jajan pada orang tuanya.
Saya menyukai pasar seperti ini. Berjalan di lorong lorongnya yang ramai seperti berjalan bernostalgia ke masa lalu. Suasananya, aromanya, keramaian, jejeran dagangan disana sini mengingatkan pada Pasar Padang Panjang puluhan tahun silam, ketika sesekali diajak bapak ke pasar.
Dulu, bagi anak kampung kaki Gunung Marapi seperti saya, sesekali diajak orang tua ke pasar adalah semacam piknik yang mewah. Karena dalam pikiran anak anak waktu itu, pasar identik dengan keramaian dan hal hal baru. hal-hal yang tidak setiap hari bisa dilihat.
Di kampung, pemandangannya ya itu itu saja, sawah, kebun, pohon bambu, ‘parak’ pisang, kolam ikan, selokan, sapi, kerbau. Aktifitasnya tak jauh dari main bola di sawah yang baru di panen, memancing belut, berenang di kolam ikan yang airnya menghitam karena lumpur yang naik, memanjat pohon memetik jambu biji yang tak sempat matang atau merangkak ke kebun mentimun mencari pengobat haus yang mendera.
Lalu, lalu ketika tiba-tiba diajak orang tua ke Pasar Padang Panjang, riang nya bukan kepalang. Di sana tak ada barisan itik yang berlenggak lenggok menuju sawah, tak ada sapi yang melenguh kelaparan di kandang, tak ada jalan tanah yang becek. Di Pasar Padang Panjang jalannya lebar. Toko-tokonya besar. Barang dagangannya macam-macam, orang banyak berlalu lalang. Semuanya terasa lebih ramai, lebih berwarna, dan tentu saja lebih menarik daripada melihat kerbau yang berguling guling santai di kubangan.
Beranjak SMP, saya mulai berani pergi ke pasar Padang Panjang sendirian. Walaupun pasarnya luas menurut ukuran anak kampung seperti saya, tapi saya cepat menghafalkan setiap sudutnya, merekam lay out nya dalam kepala saya.
Hingga saya tahu kalau mau mencari ini letak kiosnya di sana. Kalau ibu titip beli ini, saya tahu posisi penjualnya di mana. Di mana orang jual ikan, jual daging, jual sayur, jual kaos kaki, dimana bisa minta kain perca untuk bikin prakarya, pokoknya peta pasar Padang Panjang sudah terhampar di otak saya.
Sayangnya, suasana pasar seperti itu sekarang sudah banyak berubah. Nuansa tradisional yang melekat dalam memori masa kecil tentang Pasar Padang Panjang sudah hampir sepenuhnya berubah, bangunannya sudah semi modern dan bertingkat, beda dengan dahulu yang luas terhampar, penempatan pedagangnyapun tak lagi seperti yang bayangkan dulu.
Tetapi di Pasar Pitalah, suasana lama itu masih bisa ditemukan. Waktu seolah berhenti di sana. Nuansa tradisionalnya masih sangat kental. Pasar yang tak terlalu luas dan dibelah rel kereta api yang sudah lama pensiun itu sudah saya hafal titik titiknya.
Saya tahu ibu bertubuh subur penjual lamang tapai itu biasa berjualan, saya juga ingat di mana posisi uni pedagang pangek sasau yang kamek itu, Di sudut sana ada kakek penjual martabak, bersebelahan dengan penjual sabit dan parang. Di pojok yang berlawanan, sebelah utara selalu saya bertemu bapak penjual ‘sanduak’ dari tempurung kelapa yang dibuatnya langsung ditempat.
Saya juga sudah tahu di mana mencari jajanan tradisional yang sudah jarang ditemukan ditempat lain, godok, kacimuih, lapek, kareh kareh, dakak-dakak dan lain-lain. Tapi tentu saja ada satu alasan lain kenapa saya rajin datang ke sini.
Karena di sana ada Warung Nasi Gulai Gajeboh Ni Era. Warungnya sederhana persis di tengah keramaian pasar. Tempat makannya lesehan, beralas tikar plastik, dengan dinding kain seadanya. Tapi jangan tertipu oleh penampilannya, citarasa makanannya serius, suer !
Pengunjung kadang harus antri menunggu giliran untuk dapat tempat duduk di tikar yang tak terlalu luas itu. Tapi orang orang betah untuk antri. Saya paham kenapa. Karena gulai gajebohnya juara, gulai tambunsu dan babeknya sedap, Aroma telur dadarnya menggugah selera, dendengnya garing dan gurih.
Tapi ya itu tadi, awak bertekad makan disini paling cuma sekali sebulan
Kenapa ?, faktor U !.
Bagi awak yang sudah masuk fase Lolita (lolos lima puluh tahun) tentu tak elok lagi memperturutkan selera menikmati gulai gajeboh full lemak seperti masa muda dulu. Mencari masalah saja namanya itu. Maka cukup sebulan sekali, itu pun kadang saya selingi dengan lauk lain, tetapi telur dadarnya tetap harus ada.
Lalu di sana ada kopi kawa atau kawa daun.
Nah, ini yang menarik, sesuatu yang jarang ditemukan di tempat lain. Ada sensasi yang berbeda ketika menuangkan kopi kawa beraroma khas itu langsung dari tabung bambu bersaringan ijuk itu. melihat tabung bambu dan ijuk itu kadang menerbangkan pikiran kita pada masa lalu.
Konon cerita asal kopi kawa daun ini bermula dari 'keterpaksaan'. Dulu, di masa tanam paksa, kopi menjadi salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi. Pemerintah Kolonial Belanda nyaris tak menyisakan hasil panenan kopi beredar dan dinikmati masyarakat lokal yang notabene adalah penanamnya (yang dipaksa). Semuanya diangkut ke pelabuhan di Pariaman menuju Batavia bahkan di ekspor ke luar negeri.
Tapi siapa yang tak tergoda dengan aroma kopi sekaligus menikmatinya. Maka orang tua kita memutar otak untuk tetap bisa menikmati kopi. Kalau buah kopinya tak ada, ya daunnya lah. Daun kopinya dipetik, dikeringkan, diasapi atau disangrai, lalu diseduh. Jadilah kopi kawa. Rasanya tentu berbeda tapi aromanya khas dan cukup enak dinikmati selagi hangat.
Menyantap nasi gulai gajeboh, atau gulai babek plus secangkir kopi kawa dengan gula ‘selayang’. dengan rasa manis yang tipis samar antara terasa dan tiada, alamak nikmatnya. Sampai tak terlihat siapa yg berlalu lalang di balik kain pembatas.
Warung Ni Era tidak pernah benar-benar sepi sampai dagangannya habis menjelang siang. Pelanggannya kebanyakan orang-orang tua dari kampung, Bapak-bapak dan emak-emak. Yang saya yakin sebagian mungkin baru saja menjual hasil panennya. Setengah karung cabe rawit, sekarung jahe, talas, alpukat atau sekian ikat daun kunyit, dan lain lain
Setelah mendapatkan uang, mungkin mereka berpikir " Hari ini makan enak dulu.".
Dan menurut saya itu pilihan yang masuk akal, untuk sekedar memberi diri sebuah self reward yang pantas. Hidup tak cuma tentang bekerja membanting tulang namun juga tentang menikmatinya dalam sepiring nasi, gulai gajeboh, telur dadar dan secangkir kopi kawa.
Setelah itu pulang dengan hati gembira, dan besok bekerja lagi, sesederhana itu terkadang.
Selesai makan, saya biasanya memutar pasar sebentar, shopping window ala pasar tradsional, mencari penganan yang unik dan jarang bersua. Lalu lalang di lorong sempit masih tetap ramai, Suara tawar-menawar pedagang dan pembeli bersahutan ditingkahi bunyi speaker cempreng radio mini buatan Tiongkok, bunyi pisau di talenan tukang daging, suara pedagang asongan menjajakan dagangan dan tentu saja anak kecil yang merengek minta jajan. Sama persis seperti yang mungkin didengar Muhamad Radjab hampir seabad lalu.
Di zaman sekarang, ketika belanja bisa dilakukan sambil goleran di atas kasur, dan pasar-pasar lama satu per satu berganti rupa jadi lebih modern dengan gedung dan toko bertingkat, tempat seperti Pasar Pitalah ini terasa makin berharga. Ia bukan sekadar tempat jual beli. Ia menyimpan tradisi, cara orang berkumpul, bertegur sapa, dan merayakan hasil kerja dengan sepiring nasi ampera dan segelas kopi.
Di pasar modern tak akan kita temukan sekelompok orang tua bersebo dengan sarung yang melilit leher asyik ngobrol ditengah keramaian pasar. Para senior citizen itu menikmati obrolan dalam circle mereka ditengah kepulan asap rokok, bercerita tentang riuhnya masa muda sesama mereka. Di Pasar Pitalah pemandangan itu masih ada. Ini tempat yang pas untuk rendezvous bersama teman lama.
Rel kereta api tua yang membelah pasar itu sudah terhampar seratus tahun lebih, dan sudah lama pensiun. Semoga pasarnya tidak ikut menyusul. januardi
Tetap lah lestari Pasar Pitalah..*
0 Komentar