PACU KUDO
oleh : Medi Iswandi
Saat sedang menginterview CPNS kota Padang yang sedang mengikuti ujian Latsar, handphone saya berdering, nada panggil dari seorang kakak, Uni Era Moan, istri Bang Moan.
Beliau seperti biasa langsung nyerocos tanpa pengantar “Kenapa tidak menulis tentang pacu kuda dan waterboom?” katanya.
Saya tersenyum, dua hal itu memang punya cerita yang panjang, bukan hanya soal pembangunannya tetapi tentang sebuah gagasan yang awalnya terdengar seperti mustahil atau tidak rasional untuk ukuran Sawahlunto yang hebatnya dapat diwujudkan.
Saya menjawab, “Nanti malam, kalau mood sedang bagus", kebetulan sahabat saya Catur Eby juga sudah minta saya menulis tentang Waterboom, dia mengirimkan beberapa data dan Informasi karena beliaulah GM Pertamanya saat itu yang sangat fenomenal. Sekarang Catur tidak lagi berkarir di Sawahlunto, tapi menjadi Kepala Dinas di Kabupaten Dharmasraya.
Malam ini saya mulai dari kisah Gelanggang Pacu Kuda Kandi.
Karena bukan sekadar cerita tentang kuda yang berpacu namun sebuah bekas kawasan tambang yang awalnya terlihat seperti lahan tempat ‘Jin Buang Anak’, perlahan disulap menjadi sebuah kawasan yang kemudian dikenal oleh para pecinta pacu kuda dari seluruh Indonesia.
kebetulan saya terlibat sejak awal dalam proses tersebut.
Di akhir tahun 2004, saat mendampingi Kepala Dinas Pertambangan, Pak Syafriwal, yang memenuhi panggilan Wakil Wali Kota Sawahlunto, Pak Fauzi Hasan, ikut juga bersama kami da Gusrial, yang menjabat Sekretaris Dinas. Saya sendiri masih sebagai Kepala Bidang Pertambangan.
Pak Fauzi meminta informasi “Apa yang akan kita lakukan dengan kawasan bekas tambang Kandi?” Kawasan tersebut sebelumnya merupakan kawasan pertambangan PT Bukit Asam yang sudah berakhir aktivitasnya kemudian diserahkan kepada Pemerintah Kota Sawahlunto.
Dalam RTRW Kota Sawahlunto 2004 - 2014, kawasan tersebut diarahkan menjadi resort wisata, sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang yang Berbudaya. Saya cukup memahami persoalan itu karena sebelum di Dinas Pertambangan, bertugas di Bappeda dan ditunjuk menjadi tim leader dalam penyusunan RTRW tersebut.
Pak Fauzi lalu bertanya: “Apakah mungkin di sana dibangun lapangan pacuan kuda?” Kami tidak langsung menjawab bisa atau tidak karena perlu melihat dulu kondisi topografi kawasan tersebut. Setelah itu baru kami laporkan lokasi yang paling memungkinkan.
Kebetulan saya cukup mengenal kawasan Kandi.
Tahun 1996, ketika menyelesaikan tugas akhir sebagai sarjana pertambangan, penelitian saya adalah tentang close mining kawasan Kandi dan perencanaan tambang Sapan Dalam.
Saya memiliki data cukup detail tentang kawasan tersebut tidak hanya di atas peta, karena berbulan-bulan saat mahasiswa pernah mengikuti aktivitas di sana sehingga bisa memperkirakan kontur, lahannya dan memahami bagaimana kawasan tersebut terbentuk oleh aktivitas pertambangan.
Kami kemudian membuka kembali peta topografi yang saya miliki.
Ada satu lokasi di bagian utara kawasan yang cukup memungkinkan.
Mulailah kami membuat pra-desain sederhana.
Saat itu saya membayangkan lintasan hanya dengan panjang sekitar 800 meter dan lebar sekitar 12 meter, kurang lebih mengikuti ukuran gelanggang pacuan kuda yang sudah ada di Sumatera Barat. dengan ukuran seperti itu, kira-kira delapan kuda bisa berpacu dalam satu race. Kami pikir, mungkin itu sudah cukup. Ternyata salah!
Pak Fauzi membawa kami berdiskusi dengan Wali Kota Amran Nur.
Kami buka peta, jelaskan kondisi lahannya.
Tetapi ketika konsep lintasan 800 meter itu disampaikan, Pak Amran justru berkata “Kalau sama saja dengan gelanggang pacuan kuda yang sudah ada di Kab/Kota lain, apa daya tariknya? Buat sesuatu yang berbeda, bukan sekadar gelanggang pacuan kuda tapi gelanggang berstandar nasional".
Panjangnya minimal harus sekitar 1.400 meter. Lebarnya harus memungkinkan minimal 12 kuda berpacu dalam satu race.
Ada satu syarat lagi yang menurut saya waktu itu justru paling sulit: gelanggang itu harus berada di tempat yang tinggi, bukan sekadar mendapatkan lahan datar.
Pak Amran ingin orang datang ke sana bukan hanya untuk melihat kuda berpacu, tetapi sekaligus menikmati pemandangan kawasan bekas tambang dari puncak sebuah bukit.
Kami kembali membuka peta topografi dan persoalan mulai terlihat. Kawasan Kandi bukanlah hamparan lahan yang datar.
Topografi sangat tidak beraturan karena bekas kawasan pertambangan.
Kalau hanya membuat lintasan pendek, tentu tidak terlalu sulit. Tetapi kalau harus membuat lintasan minimal 1.400 meter, lebar sekitar 25 meter dengan semua fasilitas tribun dan parkir yang luas serta semuanya harus berada di atas puncak bukit, maka persoalannya bukan lagi sekadar membuat lintasan pacu, tapi harus menciptakan lahannya terlebih dahulu.
Akhirnya Pak Amran menunjuk lokasi yang sebenarnya sejak awal juga kami rekomendasikan kepada Pak Fauzi, namun ada satu persoalan besar, lahan yang datarnya tidak cukup. Untuk konsep seperti yang diinginkan Pak Amran, diperlukan pekerjaan pematangan lahan yang luar biasa besar.
Pak Amran kemudian mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih saya ingat: “Kalau hanya seperti itu, percuma kita bangun. Kita harus membuat sesuatu yang bisa menjadi daya tarik kuda-kuda terbaik datang ke Sawahlunto.” Baru saat itu saya memahami bahwa yang ada di kepala beliau bukan sekadar membangun lintasan pacu kuda. Beliau sudah membayangkan sesuatu yang lebih jauh: Kejuaran Pacu Kuda Nasional. Dengan kuda-kuda terbaik dari seluruh Indonesia berpacu di Sawahlunto. Beliau tidak sekedar membangun gelanggang tapi destinasi wisata.
Setelah pertemuan itu, Pak Fauzi meminta bantuan seorang sahabatnya yang berprofesi sebagai konsultan untuk membuat perhitungan awal berapa biaya yang diperlukan untuk mempersiapkan lahan tersebut. Saya masih ingat ketika mendampingi Pak Fauzi bertemu konsultan itu.
Angkanya membuat saya terdiam. Untuk menyiapkan lahan yang cukup bagi lintasan 1.400 meter dengan lebar sekitar 25 meter serta kawasan parkir yang luas dan tribun penonton, diperlukan biaya pematangan lahan yang sangat besar.
Luas yang harus disiapkan sekitar 35–40 hektare.
Perkiraan biaya pematangan lahan dengan kondisi di Kandi itu mencapai sekitar Rp10 miliar.
Bagi kita sekarang mungkin angka itu terasa biasa saja.
Tetapi di tahun 2004 angka Rp10 miliar di Sawahlunto bukan anggaran yang kecil. Total APBD saat itu sekitar Rp133,5 miliar, dengan anggaran yang bisa untuk kegiatan pembangunan hanya sekitar Rp. 50 M. Artinya biaya pematangan lahan saja sudah mendekati 20 persen total anggaran yang bisa digunakan untuk pembangunan di Sawahlunto.
Pak Fauzi kemudian menyampaikan angka tersebut kepada Pak Amran.
Saya masih ingat suasananya, Pak Amran tidak mengatakan pembangunan itu mustahil.
Tetapi semua orang tahu, anggaran tidak ada. Kemudian beliau berkata : “Kita akan temukan cara lain.” jangan ada yang bilang mustahil, jangan berhenti berusaha, dan jangan bilang tidak rasional, karena itu hanya akan membuat kita semua berhenti berfikir dan berusaha, Allah bisa saja menutup pintu jalan menyelesaikannya".
Kalimat sederhana, tetapi itulah kata yang membawa perubahan.
Sampai akhir tahun 2004, belum ditemukan cara yang realistis untuk membiayai pematangan lahan tersebut. Suatu hari saya bersama da Gusrial dan tim, ikut juga bersama kami alm Ari Bawa dan da Magdarisman melakukan pengawasan terhadap lokasi pembuangan limbah hasil pembakaran batubara PLTU Sijantang di kawasan Sapan Dalam.
Tempat pembuangan material tersebut sudah mulai penuh dan menggunung. Kami khawatir kalau dibiarkan dapat menimbulkan longsoran ke Batang Ombilin sedangkan kalau dihentikan sama saja menghentikan operasi PLTU Sijantang yang berdampak pemadaman se Sumatera Barat, karena saat itu hanya PLTU Sijantang satu satunya pembangkit yang besar, belum ada PLTU Teluk Sirih dan belum ada jaringan interkoneksi sumatera.
Persoalannya adalah lingkungan dan supply listrik seluruh masyarakat.
Ketika saya melihat timbunan material itu, tiba-tiba muncul sebuah pikiran: bagaimana kalau material ini justru digunakan untuk pematangan lahan Kandi?
Kami segera kembali ke kantor dan menemui Pak Syafriwal.
Kami ceritakan gagasan itu. Kemudian bersama-sama menemui Pak Fauzi Hasan dan kemudian menghadap Pak Amran.
Rapat langsung dilakukan siang itu, GM PLTU Sijantang saat itu, Ir. Irwansyah, langsung dipanggil, membicarakan dua persoalan sekaligus. PLTU membutuhkan tempat pembuangan material yang lebih aman. Pemerintah Kota membutuhkan material timbunan dalam jumlah sangat besar untuk pematangan lahan pacuan kuda.
Akhirnya dicapai titik temu.
Material yang selama ini menjadi persoalan dapat dimanfaatkan menjadi material timbunan untuk membentuk kawasan yang akan menjadi gelanggang pacuan kuda dan semua operasional untuk itu biayanya ditanggung oleh PLTU Sijantang, berakhirlah masalah tidak tersedianya anggaran Rp10 M.
Bagi saya, ini adalah salah satu bagian paling menarik dari seluruh cerita Kandi. Pak Amran benar, Allah tidak menutup pintu jalan lain menyelesaikan ini, karena kami tidak bilang mustahil tidak berfikir ini tidak rasional, pikiran kami semua otomatis selalu terdorong untuk mencari upaya menyelesaikannya.
Pembangunan tidak selalu dimulai dengan uang. pembangunan dapat saja dimulai dengan melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda, "Masalah di satu pihak, bagi pihak lain bisa menjadi solusi".
Yang sebelumnya harus dibuang, justru bisa menjadi bagian dari sebuah kawasan baru.
Tentu ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, material tersebut harus ditempatkan dan dikelola dengan benar agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan.
Saya dan Tim bersama da Gusrial kemudian ditugaskan untuk mengawasi proses pembuangan material tersebut ke kawasan yang dipersiapkan menjadi lokasi pacuan kuda. Pak Amran tidak ingin menyelesaikan satu persoalan dengan menciptakan persoalan baru.
Pematangan lahan kemudian berjalan, hari demi hari, material datang, ditimbun, diratakan, dipadatkan.
Kontur yang sebelumnya tidak memungkinkan perlahan-lahan dibentuk menjadi kawasan yang bisa digunakan. Lahan hampir 40 hektare itu akhirnya dapat dipersiapkan.
Kemudian teman-teman di Dinas PU mulai bekerja membuat desain lintasan.
Tetapi Pak Amran tidak ingin kami hanya membuat desain berdasarkan asumsi sendiri. Beliau ingin melihat langsung seperti apa gelanggang pacuan kuda yang benar-benar digunakan untuk event besar. Maka kami berangkat ke Gelanggang Pacu Kuda Pulo Mas di Jakarta.
Saat itu sedang berlangsung Kejurnas tahun 2005.
Rombongan Sawahlunto berangkat cukup besar.
Ada wakil walikota Fauzi Hasan, beliau malah membawa kuda pacunya ke Pulo Mas kemudian pak Zohirin selaku Sekda, pak Dt. Mukhsis, da Adrius Putra, bang Moan, Saya, da Gusrial, da Silo, mas Eko atau Dahono Eko dengan Tim Dinas PU yang ditugaskan membuat desain lintasan.
Di sana kami melihat langsung bagaimana sebuah lintasan pacu kuda berstandar nasional serta event pacuan kuda berkualitas diselenggarakan.
Kami juga bertemu dengan pengurus Pordasi Pusat dan para pemilik stable serta peternak kuda terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Di tengah suasana itulah Pak Amran menyampaikan keinginannya.
Beliau ingin Sawahlunto menjadi tempat berpacu kuda-kuda terbaik di Indonesia dan bercerita bahwa Sawahlunto sedang membangun sebuah lintasan yang lebih besar daripada Pulo Mas, di atas sebuah bukit dengan pemandangan kawasan bekas tambang yang indah.
Banyak yang penasaran, bahkan mungkin ada yang menyangka yang disampaikan walikota Sawahlunto hanya cerita khayalan.
Benarkah sebuah kota kecil seperti Sawahlunto sanggup membangun gelanggang sebesar itu?
Pak Amran justru semakin yakin, beliau mengatakan bahwa gelanggang Sawahlunto nantinya akan mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki Pulo Mas.
Bukan karena ingin mengecilkan Pulo Mas, tetapi karena konteksnya berbeda. Pulo Mas berlokasi di tengah perkembangan ibu kota Jakarta, terjepit diantara perumahan dan gedung-gedung.
Sedangkan Kandi mempunyai sesuatu yang tidak bisa dibeli yaitu ruang, bukit, lanskap bekas tambang dan pemandangan alam yang sangat baik.
Malam itu setelah dari Pulo Mas pak Amran minta kami semua menginap dirumah pribadi beliau, tidak boleh seorang pun di hotel.
Malam itu pak Amran menyampaikan suatu hal yang penting, "saya ingin gelanggang yang kita bangun di kandi harus lebih bagus dari Pulo Mas", "pelaksanaan event juga harus lebih baik dan tertib sehingga berkesan dan dipercaya seluruh stable dan kontingen", sebuah cita-cita tulus yang disampaikan seorang pemimpin yang mendorong kami semua mengerahkan seluruh kemampuan terbaik untuk mewujudkannya.
Ternyata keyakinan itu kemudian terbukti. Pak Amran memang mempunyai selera yang tinggi dalam menyiapkan sesuatu.
Bagi beliau, kalau sudah membangun, jangan setengah-setengah.
Lintasan Kandi tidak cukup hanya lebih panjang dan lebih lebar.
Kualitas lintasannya juga harus berbeda.
Beliau bahkan menginginkan kualitas permukaan lintasan memenuhi standar internasional. Satu hal yang sangat diperhatikan adalah debu.
Beliau tidak ingin setiap kuda berpacu kemudian debu beterbangan dan mengganggu pandangan.
Pasir yang digunakan harus sesuai untuk standar lintasan pacuan kuda internasional yang tetap nyaman digunakan meskipun cuaca kering.
Bagi orang yang tidak memahami pacuan kuda, mungkin hal-hal seperti itu terlihat kecil. Tetapi bagi pemilik kuda dan joki, kualitas lintasan bisa menentukan banyak hal.
Kemudian soal penyelenggaraan.
Pak Amran ingin event-nya juga mempunyai kualitas yang terbaik.
Entah memang sudah sangat percaya kepada timnya, atau karena memang tidak cukup anggaran maka pak Amran tidak menggunakan EO disetiap penyelengaraan event apapun.
Pak Dt. Mukhis selalu diminta menjadi Ketua Penyelenggara beliau selalu di temani oleh da Gusrial sebagai sekretaris Panitia. Dua orang senior saya ini kalau bertemu selalu bertengkar namun Kecintaannya terhadap kuda membuat beliau bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi benar-benar memahami suasana pacuan. Sebagai orang yang memastikan gagasan besar itu dapat diterjemahkan menjadi sebuah event yang hidup.
Kemudian ada bang Moan dan da Silo, bersama timnya. Mereka berada di balik berbagai susunan Acara. Banyak pekerjaan yang tidak terlihat penonton justru berada di tangan mereka: memastikan semua agenda acara berjalan baik, koordinasi berlangsung dan berbagai persoalan di lapangan dapat diselesaikan. Tidak ada panggung besar tanpa orang-orang yang bekerja di belakangnya.
Kemudian da Adrius Putra, kami semua punya panggilan khusus untuk beliau : " Ad Kudo" Dia memang terlahir di gelanggang pacu kuda, karena rumah orang tuanya berada di kawasan Bukit Gombak, sebuah gelanggang pacu kuda di Tanah Datar yang merupakan gelanggang pacu kuda tertua. da Adrius banyak sekali kenal dengan tokoh-tokoh berkuda, tugasnya berkomunikasi dengan semua stable dan meyakinkan mereka untuk datang bertanding ke Sawahlunto serta juga menjadi salah satu anggota Dewan Steward Pacuan.
Saya tetap kebagian tugas teknis, setelah pematangan lahan selesai, pak Amran meminta dibuat sebuah sistem agar pada saat finish dapat diketahui dengan jelas kuda mana yang menjadi pemenang. Harus ada foto dan rekaman video secara otomatis ketika kuda menyentuh garis finish. Harus dapat dilihat dari dua sisi lintasan dan diputar ulang sebagai bukti. Tujuannya sederhana, jangan sampai pemenang ditentukan oleh perdebatan dan terjadi keributan.
Saya menyanggupi dengan membuat sistem yang prinsip kerjanya seperti di Pulo Mas. Tentu saja tidak dengan peralatan secanggih dan semahal yang mereka punya. Pak Amran bilang, kalau tidak punya alat mahal harus menggunakan akal. Dengan peralatan yang sederhana dan tanpa mengeluarkan biaya besar, sistem itu akhirnya dapat dibuat dengan fungsi yang sama persis dengan di Pulo Mas.
bagi saya, bagian ini juga menjadi pelajaran.
Pak Amran selalu bisa memotivasi kami bekerja sehingga mengeluarkan semua kemampuan yang kami miliki. beliau selalu bilang yang paling mahal sebenarnya kemauan untuk mencari jalan keluar.
Tahun 2006 mulai digelar kejuaraan pacu kuda di Kandi walau belum dalam bentuk Kejurnas yang mewakili kontingen provinsi.
Tetapi kuda-kuda terbaik dari berbagai stable di Indonesia sudah mulai datang dan berpacu di Sawahlunto. Sejak saat itu, nama Kandi semakin dikenal.
Kuda-kuda terbaik datang. Pemilik stable datang. Joki-joki terbaik datang. Puluhan ribu Penonton datang.
Tahun 2007 sampai 2013 dan mungkin sampai saat ini Gelanggang Pacu Kuda Kandi setiap tahun selalu menyelenggarakan Pacuan Nasional Derby dengan nama "Sawahlunto Derby", yaitu sebuah race dengan kuda yang berpacu berumur 3 Tahun pada jarak 2.000 meter. Saya menyebutnya ini race promosi, karena kuda pemenang Derby akan mendadak melonjak harganya mencapai ratusan juta bahkan milyaran, benar-benar nggak masuk akal. Tapi race ini sangat diminati untuk diikuti oleh seluruh pemilik stable di Indonesia karena mereka dapat mempromosikan peternakan kuda mereka. Pak Amran memang punya ide yang nggak terpikirkan oleh kami saat itu.
Pada tahun 2010, Sawahlunto menjadi tempat penyelenggaraan Kejurnas Pacu Kuda yang diikuti hampir seluruh provinsi di Indonesia dan sampai sekarang Gelanggang Kandi sudah menyelanggarakan tiga kali Kejurnas.
Apa yang dulu hanya berupa garis-garis di atas peta topografi, perlahan berubah menjadi gelanggang yang benar-benar hidup.
Setiap kali pacuan digelar, puluhan ribu orang datang.
Bukan hanya dari Sumatera Barat, tapi dari seluruh Indonesia.
Hotel penuh, rumah makan ramai, pedagang souvenir mendapatkan pembeli, transportasi bergerak. Masyarakat mendapat kesempatan memperoleh pendapatan. Itulah yang kemudian sering disebut orang sebagai multiplier effect.
Sebuah event olahraga ternyata tidak berhenti di arena.
Uang berputar dari tamu di gelanggang ke hotel, kemudian ke rumah makan, lanjut ke pedagang dan sampai ke tangan masyarakat. Dari sebuah gelanggang di atas bekas kawasan tambang, tumbuh aktivitas ekonomi yang sebelumnya mungkin tidak pernah dibayangkan.
Kalau hari ini orang mengatakan Gelanggang Pacu Kuda Kandi sudah menjadi salah satu gelanggang yang menjadi legenda para pecinta pacu kuda nasional, saya hanya bisa tersenyum. Karena saya tahu, sebuah kawasan itu tidak lahir hanya dari gambar desain. Ada keberanian mengambil keputusan, berani bermimpi lebih tinggi daripada kemampuan yang tersedia saat itu.
Amran Nur tidak mau membuat gelanggang yang sekadar ada.
Beliau ingin membuat gelanggang menjadi sebuah destinasi wisata. Ternyata, bukan hanya orang yang datang, kuda-kuda terbaik Indonesia pun datang.
Bagi saya, itulah kisah sebenarnya tentang Kandi.
Bukan sekedar membangun sebuah lapangan pacuan kuda.
Tetapi tentang sebuah kota kecil berani mempunyai mimpi yang besar, lalu mencari jalan untuk mewujudkannya.
Pembangunan terbaik memang tidak dimulai dari pertanyaan: “Berapa anggaran yang kita punya?” Tapi dari pertanyaan: “Apa yang bisa maksimal kita upayakan dengan apa yang kita punya?”
filsuf perang cina kuno Sun Tzu menulis sebuah pesan : "Jika punya pasukan dan senjata terbaik panglima itu wajib memenangkan perang, Tapi jika pasukan dan senjata sangat terbatas dapat memenangkan perang, itulah Panglima Terhebat"
Gelanggang Pacu Kuda Kandi adalah salah satu jawabannya.
Sebuah bekas tambang yang pernah dianggap sebagai lahan tempat “Jin Buang Anak”, akhirnya berubah menjadi tempat di mana puluhan ribu orang berkumpul, kuda-kuda terbaik berpacu, dan nama Sawahlunto berkali-kali disebut dalam dunia pacuan kuda Indonesia.
Dulu waktu kami melihat hanya sebuah hamparan bukit dan jurang.
Pak Amran sudah membayangkan sebuah gelanggang berstandar nasional.
Itulah cerita Pacu Kuda Kandi.
Tempat yang dahulu hanya dilihat sebagai kontur di atas peta, sekarang sudah menjadi bagian dari sejarah Sawahlunto, gelanggang pacu kuda berstandar nasional, kawasan yang luas, bukit dan pemandangan yang indah.

0 Komentar