JAKARTA, kiprahkita.com –Dr. dr. Achmad Rafli, Sp.A., Subsp. Neuro.(K). berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral (S3) pada Program Studi Ilmu Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00 dan predikat Summa Cum Laude. Prestasi ini diraihnya setelah menempuh studi selama empat semester.
Pria kelahiran 20 Februari 1987 itu lulus pada usia 38 tahun dengan penelitian disertasi yang dinilai membawa harapan baru untuk pengobatan anak-anak penderita epilepsi dengan kondisi resisten obat.
Dalam siaran pers, Rafli mengatakan bahwa angka IPK bukan sekadar target akademik, melainkan langkah awal agar ilmu yang diperolehnya dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama dalam bidang kesehatan anak di Indonesia.
Perjalanan Akademik dan Pengabdian
Selama menempuh pendidikan doktoral, Dr. Rafli tetap aktif bekerja sebagai dokter spesialis anak dengan fokus neurologi di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, serta praktik di RSIA Bunda Jakarta. Ia juga tergabung dalam dewan editorial jurnal Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Menurut Rafli, keseimbangan antara peran sebagai dokter, dosen, dan ayah menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi, tetapi juga sumber motivasi dalam studi dan risetnya.
Inovasi Riset: AI untuk Epilepsi Anak
Disertasinya berjudul Pengembangan Model Machine Learning dalam Memprediksi Keberhasilan Tata Laksana pada Anak dengan Epilepsi Resisten Obat. Dalam penelitian ini, Rafli mengkombinasikan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu dokter memprediksi keberhasilan pilihan terapi dan menghasilkan protokol pemeriksaan MRI kepala yang lebih akurat untuk mendeteksi fokus kejang.
Inovasi ini dinilai berpotensi meningkatkan efektivitas pengobatan epilepsi pada anak-anak, terutama mereka yang belum merespons obat antiepilepsi konvensional.
Pengakuan Internasional dan Rencana Selanjutnya
Karena kontribusinya dalam penelitian, Rafli sebelumnya menerima penghargaan Global Burden Fellowship Award dari International Child Neurology Association (ICNA) pada 2025. Ia kini tengah menyiapkan penelitian lanjutan (post‑doctoral) yang juga mendapat pengakuan dari ICNA dan diharapkan dapat diterapkan di berbagai negara berkembang.
Dalam lanskap pendidikan tinggi Indonesia, pencapaian akademik sering kali terkurung dalam angka dan gelar — summa cum laude, IPK sempurna, atau kecepatan menyelesaikan studi. Namun, kisah dr. Achmad Rafli menantang kita untuk menempatkan gelar doktor bukan sebagai akhir dari perjalanan intelektual, tetapi sebagai alat untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat.
Rafli, yang meraih gelar doktor dengan IPK 4,00 dari Fakultas Kedokteran UI dalam waktu empat semester di usia 38 tahun, bukannya melulu menjadi cerita tentang kecerdasan akademik atau disiplin kerja yang teguh. Di balik angka sempurna itu ada komitmen yang lebih substansial: upaya menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang menyentuh hidup orang lain — khususnya anak‑anak yang menghadapi epilepsi resisten obat.
Disertasinya bukan sekadar kumpulan teori, tetapi sebuah inovasi yang memanfaatkan machine learning untuk memprediksi keberhasilan tata laksana pada pasien anak dengan kondisi yang secara klinis sangat menantang. Dengan pendekatan teknologi canggih, Rafli menunjukkan bahwa kedokteran modern bukan hanya soal obat dan resep, tetapi juga tentang bagaimana mengintegrasikan pengetahuan klinis dengan kemampuan prediktif yang mampu mengurai kompleksitas respon tubuh manusia.
Jejak akademik Rafli juga mencerminkan realitas lain dalam dunia doktoral: tidak semua pencapaian akademik harus terjadi pada rentang usia muda atau tanpa beban kehidupan. Sebagai seorang ayah, dokter klinis, sekaligus peneliti, Rafli memadukan peran‑peran yang sering kali secara normatif dipisahkan dalam jalur akademik tradisional. Tantangan menyeimbangkan praktik klinis, tugas keluarga, dan tuntutan akademik tak hanya memerlukan kecerdasan kognitif, tetapi juga ketangguhan emosional dan manajemen waktu yang luar biasa.
Namun yang paling penting dari kisah ini adalah pertanyaan etis dan pragmatis yang dia ajukan tanpa kata: Untuk apa pendidikan tinggi itu ada? Jika hanya untuk mencetak gelar dan prestasi statistik, kita bisa melihat daftar nama lulusan summa cum laude di mana‑mana. UI sendiri pernah melaporkan puluhan lulusan dengan IPK 4,00 dari beragam fakultas dalam satu wisuda besar. Kompas Tetapi ketika sebuah gelar digunakan untuk menyingkap problem konkret yang menyangkut harapan hidup anak‑anak dengan epilepsi resisten obat, maka pendidikan itu menjadi sebuah kewajiban moral, bukan sekadar sebuah prestasi.
Dalam konteks Indonesia yang masih berjuang menghadirkan akses kesehatan berkualitas, terutama di bidang neurologi anak yang masih tergolong langka spesialisnya, karya Rafli memberi kita pelajaran penting: gelar setinggi apa pun nilainya, tidak berarti apa‑apa jika tidak memetakan ilmu ke dalam praktik yang membawa perubahan nyata. Ini menjadi pemotivasi buat kita semua. Kompas,com*
0 Komentar