Puasa Ramadhan Disiapkan untuk Membentuk Manusia Muttaqiin

PASAMAN BARAT, kiprahkita.com Puasa Ramadhan yang merupakan salah satu rukun Islam, jika dilihat secara komprehensif, memang sengaja disiapkan Allah Swt. untuk membentuk orang beriman menjadi insan muttaqiin.

Ibadah puasa Ramadhan merupakan ibadah yang luar biasa dan tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus serta apa saja yang membatalkan puasa. Di balik perintah berpuasa ini, terkandung makna yang tidak hanya membuat pelakunya menjadi lebih baik, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungannya, bahkan menginspirasi masyarakat Muslim sekitarnya untuk secara bersama menciptakan sebuah masyarakat Muslim yang sesungguhnya. Seluruh bentuk amal ibadah dan kebajikan bisa berjalan dengan penuh kesadaran dan ketaatan.


Talkisman Tanjung

Banyak yang secara tiba-tiba menjadi ahli ibadah, sahabat Al-Qur’an, bahkan menjadi seorang yang sangat dermawan. Setiap waktu selalu saja bermunculan ide-ide kreatif, pemikiran inovatif, dan pengkajian mendalam terhadap syariat puasa yang diwajibkan Allah Swt. kepada orang beriman. Berbagai fadilah atau keutamaan ibadah puasa disebutkan di dalam hadis-hadis sahih, baik berupa ganjaran yang didapatkan maupun manfaat secara duniawi seperti kesehatan (fisik dan psikis) bagi yang berpuasa. Demikian juga ketenangan jiwa yang bakal diraih ketika semuanya dilaksanakan dengan tulus karena Allah Swt.

Di lain kesempatan, Rasulullah saw. menyampaikan bahwa siapa saja yang berpuasa didasari oleh keimanan dan ihtisab akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu:

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Sebuah amalan yang luar biasa dan ibadah yang sangat istimewa. Allah Swt. berfirman di dalam hadis qudsi, “Seluruh amalan anak Adam itu adalah untuknya, kecuali puasa. Ibadah puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjarannya.”

Jika ibadah-ibadah yang lain dilipatgandakan pahalanya sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, maka ibadah puasa ganjarannya tidak ada batas hitungannya. Pernyataan tersebut menempatkan puasa sebagai ibadah yang agung dan istimewa.

Namun, apakah semua orang yang berpuasa akan memperoleh apa yang dijanjikan itu? Di sinilah Rasulullah saw. memberikan rambu-rambu yang mesti diperhatikan oleh orang-orang beriman. Rambu-rambu yang disebutkan dalam hadis di atas adalah bahwa puasa harus didasari oleh keimanan, bukan sekadar ikut-ikutan, apalagi hanya agenda rutinitas tahunan belaka. Jika demikian, puasa tidak akan bermakna dan maghfirah (keampunan) pun tidak didapatkan. Masuk bulan Ramadhan dalam keadaan berdosa dan keluar dari Ramadhan tetap menjadi orang yang banyak dosanya. Alangkah meruginya orang-orang yang seperti ini.

Hal itu mungkin disebabkan karena ia berpuasa tetapi tidak sesuai tuntunan dan teladan yang dicontohkan Rasulullah saw. Dalam hadis lain ditegaskan bahwa siapa pun yang berpuasa tetapi tidak meninggalkan dusta dan perbuatan keji, maka Allah Swt. tidak berkepentingan dengan puasanya.

Rambu berikutnya adalah ihtisab, yaitu mengharapkan pahala dari Allah Swt. Secara implisit, ihtisab memproklamasikan bahwa Allah-lah Yang Maha Kaya, Maha Pengampun, dan Maha Pemaaf, serta memiliki segala sesuatu. Sedangkan manusia hanyalah hamba yang tak berdaya. Bahkan untuk keperluan hidup pribadi pun semuanya kita mohonkan kepada Allah Swt. Dengan berpuasa dan menahan lapar serta haus, kita belajar mengenal Allah Swt.

Secara fundamental, ibadah puasa yang dikerjakan orang beriman apabila sesuai dengan tuntunannya akan mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Wajah orang yang berpuasa akan terlihat tenang dan berbahagia. Dalam kehidupan nyata, orang yang berpuasa tidak akan marah-marah karena takut puasanya ternodai. Bahkan Rasulullah saw. memberikan petunjuk, apabila ada yang mengajak konflik atau perkelahian, maka ucapkanlah:

إني صائم
(Sesungguhnya aku sedang berpuasa)

Lalu segera tinggalkan tempat tersebut.

Demikian pula, orang yang berpuasa tidak akan berani berdusta atau memanipulasi, karena takut merusak nilai puasanya. Orang tidak akan berani korupsi saat ia sedang berpuasa, bukan semata-mata karena takut atau tidak ada peluang, tetapi karena keyakinan bahwa perbuatannya merusak ibadahnya.

Seorang yang berpuasa akan menjaga ketaatannya kepada Allah Swt. Ia menjadi rajin ke masjid, rajin melaksanakan salat sunah, rajin membaca Al-Qur’an, dan secara sosial kesalehannya pun meningkat. Hal ini dibuktikan dengan rajin bersedekah serta senantiasa peduli terhadap orang-orang dhuafa dan tidak punya waktu untuk hal-hal sia-sia. Selama berpuasa, ia fokus untuk beribadah. Sebuah kondisi religius yang terjadi dalam waktu tertentu (أياما معدودات).

Berbagai perbuatan fasad dan destruktif akan hilang pada diri orang yang sedang berpuasa. Jika kondisi ini berlangsung secara intensif, otomatis akan membuat kehidupan seseorang jauh lebih baik. Pola pikirnya menjadi positif dan konstruktif, dan seluruh pembiasaan selama berpuasa menjadi media pelatihan bagi dirinya. Inilah yang dimaksud bahwa ibadah puasa memiliki magnet yang sangat kuat untuk membentuk insan muttaqiin.

Meskipun demikian, Allah Swt. telah menyiapkan “aplikasi kehidupan” untuk membentuk insan muttaqiin melalui disyariatkannya puasa Ramadhan. Namun, dalam realitasnya, banyak manusia yang acuh tak acuh terhadap kesempatan luar biasa ini. Rasulullah saw. juga mengingatkan bahwa tidak semua orang bisa berpuasa sesuai tuntunan sehingga gagal mengubah dirinya, apalagi menjadi insan muttaqiin. Konsekuensinya, ia tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus semata:

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش

Banyak orang berpuasa, tetapi tidak ada yang diperolehnya selain lapar dan haus saja.

Ibadah puasa Ramadhan tidak hanya membentuk seseorang menjadi muttaqiin, tetapi juga menginspirasi masyarakat sekitarnya untuk bersama-sama beribadah dan berjuang dengan penuh keikhlasan serta kesabaran menuju pribadi-pribadi yang muttaqiin. Jangan sia-siakan kesempatan yang Allah berikan. Siapa tahu ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita.

Wallahu a’lam bish shawab.

Batahan, 04 Ramadhan 1447 H.

Posting Komentar

0 Komentar