PADANG PANJANG, kiprahkita.com –Prestasi membanggakan kembali datang dari Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang. Dua santrinya, Mayanggi Sephira dan Mutia Hafidzah Novri, berhasil menorehkan capaian inspiratif dengan diterima di sejumlah perguruan tinggi luar negeri. Kisah keduanya menjadi bukti bahwa kerja keras, disiplin, dan keberanian untuk bermimpi besar mampu membawa pelajar Indonesia bersaing di tingkat global.
Mayanggi Sephira, santri asal Siak, Riau, putri dari pasangan Sutikno dan Heriani, bahkan mencatatkan prestasi luar biasa dengan diterima di 13 perguruan tinggi luar negeri dari berbagai negara seperti Australia, Inggris, Turki, Selandia Baru, Amerika Serikat hingga Jerman. Bagi Mayanggi, kesempatan untuk belajar di luar negeri merupakan langkah penting untuk memperluas wawasan dan memahami dinamika global, khususnya dalam bidang Hubungan Internasional yang ingin ia tekuni.
Ia mengaku memiliki keinginan kuat untuk keluar dari zona nyaman dan belajar di lingkungan yang lebih kompetitif. Selain memperluas pengetahuan, pengalaman belajar di luar negeri juga diharapkan dapat membuka jaringan internasional yang kelak berguna ketika ia kembali berkontribusi bagi Indonesia.
![]() |
Semangat yang sama juga dimiliki oleh rekannya, Mutia Hafidzah Novri, santri asal Sijunjung, Sumatera Barat. Mutia mengungkapkan bahwa keinginannya untuk melanjutkan studi ke luar negeri didorong oleh keinginan untuk mencari pengalaman yang lebih luas serta menantang dirinya dengan hal-hal baru di luar zona nyaman.
Menurut Mutia, motivasi terbesarnya adalah untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus membanggakan kedua orang tua dan keluarga.
“Motivasi saya adalah untuk memperbanyak pengalaman, meningkatkan value diri, serta membanggakan kedua orang tua dan keluarga,” ujarnya.
Perjalanan menuju perguruan tinggi luar negeri tentu tidak mudah bagi keduanya. Selama menempuh pendidikan di pesantren, mereka harus menjalani berbagai aktivitas yang padat setiap hari. Jadwal kegiatan yang dimulai sejak pagi hingga malam hari menjadi tantangan tersendiri dalam membagi waktu antara kegiatan akademik, aktivitas pesantren, serta persiapan melanjutkan studi ke luar negeri.
Mutia mengakui bahwa padatnya aktivitas tersebut sempat menjadi rintangan dalam proses persiapannya. Namun dari pengalaman tersebut ia justru belajar untuk lebih disiplin, mandiri, dan mampu mengatur waktu dengan baik.
Ke depan, Mutia berencana untuk terus mengembangkan ilmu yang telah ia peroleh serta memanfaatkan pengalamannya untuk menghadirkan berbagai inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Ia juga memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister (S2) di universitas yang lebih baik lagi.
Keduanya juga membagikan pesan kepada para pelajar Indonesia yang memiliki impian untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Menurut mereka, hal terpenting adalah memiliki tekad yang kuat serta mempersiapkan diri sejak dini.
Mutia menegaskan bahwa keinginan saja tidak cukup tanpa diiringi usaha yang sungguh-sungguh.
“Yang paling utama adalah tekad. Jika hanya mengatakan ingin tanpa benar-benar berusaha, maka hal itu tidak akan tercapai. Persiapkan diri sejak jauh-jauh hari, karena memulai persiapan sejak kelas 10 saja sebenarnya masih terasa kurang,” katanya.
Kisah Mayanggi Sephira dan Mutia Hafidzah Novri menjadi inspirasi bagi banyak pelajar Indonesia bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan terbaik. Dengan tekad yang kuat, kerja keras, dan keyakinan pada potensi diri, mimpi untuk menembus kampus-kampus dunia bukanlah hal yang mustahil.
Prestasi keduanya juga diharapkan dapat memotivasi generasi muda Indonesia untuk berani bermimpi besar, keluar dari zona nyaman, serta terus berusaha meraih peluang pendidikan yang lebih luas di tingkat global.(Ali)*


0 Komentar