Rupiah Melemah, Dosen UGM Prediksi Harga Pangan Berpotensi Naik

 JAKARTA, kiprahkita.com Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai berpotensi memicu kenaikan harga pangan di dalam negeri, terutama untuk komoditas yang masih bergantung pada impor.


Rupiah Melemah, Harga Pangan Berpotensi Naik


Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Hani Perwitasari, mengatakan fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi stabilitas harga pangan dengan besaran dampak yang berbeda-beda tergantung jenis komoditas.

“Untuk fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,” ujar Hani dikutip dari laman resmi UGM, mulai Jumat (27/3/2026) lalu hingga saat ini Sabtu 16/3/2026.

Komoditas Impor Paling Rentan

Menurut Hani, komoditas pangan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor akan lebih sensitif terhadap pelemahan rupiah.

Beberapa produk yang dinilai paling rentan antara lain daging, telur, dan susu karena sulit disubstitusi dengan produk lain serta masih bergantung pada pasokan dan bahan baku impor.

“Komoditas yang paling rentan seperti daging, kemudian telur, susu yang memang sulit untuk disubstitusi, maka dia akan lebih rentan terhadap dampak dari pelemahan rupiah ini,” katanya.

Ia menjelaskan, semakin besar porsi impor suatu komoditas, maka semakin tinggi pula risiko kenaikan harga di pasar domestik ketika nilai tukar melemah.

Bebani Biaya Produksi

Selain berdampak langsung terhadap harga pangan, pelemahan rupiah juga disebut meningkatkan biaya produksi di sektor pertanian dan peternakan.

Hal itu terjadi karena sejumlah kebutuhan produksi seperti pupuk, pakan ternak, benih, hingga bahan baku lainnya masih terkait dengan pasar global.

“Nilai tukar akan mempengaruhi biaya produksi, terutama ketika barang-barang produksi ini merupakan barang tradable, sehingga harganya akan naik dan total biayanya meningkat,” ujar Hani.

Kenaikan biaya produksi tersebut pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat produsen maupun konsumen.

Perlunya Penguatan Produksi Dalam Negeri

Sebagai solusi jangka pendek, Hani mendorong pemerintah memperkuat monitoring data produksi dan kebutuhan pangan nasional agar kebijakan impor dapat dilakukan secara tepat.

Sementara untuk jangka panjang, ia menilai dukungan terhadap petani dan pelaku sektor pangan perlu diperkuat guna meningkatkan kapasitas produksi nasional secara berkelanjutan.

Menurutnya, akses pembiayaan, subsidi pupuk dan benih, hingga perlindungan melalui asuransi pertanian perlu diperluas agar produksi pangan dalam negeri semakin kuat.

Hani juga mengajak masyarakat untuk lebih memilih produk lokal guna membantu memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah gejolak ekonomi global.*

Posting Komentar

0 Komentar