Oleh : Gusmizar
Pranata Humas Ahli Muda pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasaman Barat, dan Praktisi Jurnalis di Pasaman Barat
![]() |
Manjalang Buya Lubuak Landur, Sebagai Tradisi Syawalan Oleh : Gusmizar |
PASAMAN BARAT, kiprahkita.com –"MANJALANG" guru, Buya Lubuk Landur di Lubuk Landur, Nagari Aur Kuning, Kecamatan Pasaman, Pasaman Barat, dilaksanakan saat hari raya puasa enam di kawasan Lubuk Landur, bukan sekedar mengisi program lebaran, tapi jadi agenda tahunan.
Setelah umat Islam di seluruh penjuru negeri melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, hari raya Idul Fitri, dan beberapa hari selanjutnya puasa enam hari di bulan Syawal, setelah itu momen khas manjalang guru, Buya Lubuk Landur digelar.
Masyarakat Nagari Aua Kuniang, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, kembali melaksanakan tradisi sakral manjalang buya ke Surau Buya Lubuk Landur. Dalam tahun 1447/2026 ini, agenda manjalang guru, Buya Lubuk Landur digelar hari Sabtu, 28 Maret 2026 di surau Buya Lubuk Landur, Jorong Lubuk Landur.
Kegiatan tahunan ini berlangsung khidmat dan penuh makna religius, sekaligus menjadi wujud penghormatan masyarakat terhadap para ulama dan sesepuh nagari. Mulai pagi hingga berakhirnya kegiatan, ribuan warga memadati lokasi kegiatan.
Antusiasme masyarakat dari berbagai kalangan menunjukkan kuatnya nilai kebersamaan dan kecintaan terhadap tradisi yang telah diwariskan tersebut. Hadir pada kesempatan itu, Bupati, Yulianto, Ketua DPRD, Dirwansyah, Kapolres, Agung Tribawanto, Dandim 0305 Pasaman, Danramil 02 Simpang Empat, dan unsur Forkopimda lainnya.
Selain itu, 16 ninik mamak Nagari Aua Kuniang dan Bundo Kanduang sebagai limpapeh rumah nan gadang juga ambil bagian dalam prosesi adat yang sarat nilai kearifan lokal. Termasuk perwakilan dari luar kabupaten, termasuk luar Sumatera Barat.
Prosesi manjalang Buya Lubuk Landur, tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga memperkuat nilai-nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Minangkabau. Sebagai peran penting adat dalam menjaga identitas nagari.
Bupati, Yulianto, pada kesempatan sampaikan, pihaknya bahagia dan bangganya atas terselenggaranya kegiatan khusus juga ajang tradisi ini secara konsisten setiap tahun. Agenda ini tidak hanya memiliki nilai sakral dan religius, tetapi juga menjadi perekat sosial di tengah masyarakat.
“Pemerintah daerah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Semoga tradisi manjalang buya ini terus lestari, semakin sukses setiap tahunnya, dan dapat menjadi ikon masyarakat Nagari Aua Kuniang,” ujar Yulianto.
Kegiatan ini diharapkan terus terjaga keberlangsungannya sebagai warisan budaya yang tidak hanya memperkuat nilai spiritual, tetapi juga mempererat persatuan dan kesatuan masyarakat Nagari Aua Kuniang di masa yang akan datang, tambah Bupati mengingatkan.
Perwakilan keluarga Buya, Indra, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap tradisi tersebut. Ia menegaskan bahwa Rayo Anam bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang untuk mempererat hubungan batin antar masyarakat.
“Tradisi ini menjadi momen penting untuk memperkuat silaturahmi dan membersihkan hati. Kami berharap kebersamaan seperti ini terus terjaga,” ujarnya.
Indra, mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, setiap persoalan yang muncul hendaknya diselesaikan dengan bijak dan mengedepankan nilai-nilai agama. (*)
*Ulasan Singkat dari Kegiatan Tradisional "Manjalang Guru, Buya Lubuk Landur. Agenda khusus dilaksanakan setelah umat Islam melaksanakan ibadah puasa sunat enam hari di bulan Syawal.*

0 Komentar